Siswa Bukan Flashdisk: Menolak Pendidikan yang hanya Mengisi bukan Memahami

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fibrie Razika Sefara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak dari kita pernah mengalami menghafal materi pelajaran semalaman, dan berhasil menjawab soal ujian keesokan harinya, lalu beberapa minggu kemudian materi itu menghilang dari ingatan. Seolah-olah materi tersebut hanya sekadar mampir, otak kita hanya dipakai sebagai flashdisk menerima “file” atau materi dari guru, menyimpannya sebentar, lalu terhapus begitu ujian selesai. Padahal, belajar seharusnya bukan sekadar memindahkan informasi dari buku ke kepala. Belajar adalah proses memahami, mempertanyakan, menghubungkan, dan menggunakan ilmu dalam kehidupan nyata. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) arti kata belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Belajar adalah suatu upaya pembelajar untuk mengembangkan seluruh kepribadiannya, baik fisik maupun psikis.

Ketika Menghafal Menjadi Tujuan
Menghafal sebenarnya bukan hal buruk. Kita memang perlu mengingat dasar-dasar tertentu, seperti rumus matematika, kosakata bahasa, atau fakta penting. Namun masalah muncul ketika menghafal dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. Siswa bisa menjawab soal dengan benar tanpa benar-benar memahami mengapa jawaban itu muncul. Ia hafal rumus, tetapi tidak tahu kapan menggunakannya. Ia mengenal istilah, tetapi tidak mampu mengaitkannya dengan peristiwa di sekitarnya. Akibatnya, ilmu terasa jauh dari kehidupan dan mudah dilupakan. Siswa akan merasa ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi kehidupannya sehari-hari. Paulo Freire menyebut pola seperti ini sebagai banking education atau pendidikan gaya bank. Dalam model ini, guru diposisikan sebagai pihak yang “menyetor” pengetahuan, sedangkan siswa menjadi tempat penyimpanan yang pasif. Freire menilai cara ini melemahkan kemampuan berpikir kritis siswa karena komunikasi berjalan satu arah dan siswa jarang diberi ruang untuk bertanya. Sistem seperti ini menurut Freire justru memunculkan ketidakadilan. Oleh karena itu, pendidikan gaya bank harus ditolak karena bertentangan dengan hakikat pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia dan membebaskannya dari belenggu ketidaktahuan dan penindasan.
Ilmu yang disimpan akan mudah Terlupakan
Menurut pandangan saya sebagai mahasiswa jurusan pendidikan, siswa tidak seharusnya hanya menerima ilmu secara pasif. Ilmu yang diberikan guru perlu dipahami, diolah, dan dikaitkan dengan pengalaman serta persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, pengetahuan hanya akan tersimpan sementara di ingatan dan mudah terlupakan. Otak manusia memang tidak bekerja seperti lemari arsip yang menyimpan semua informasi selamanya. Tanpa pemahaman dan penggunaan, apa yang dihafal dapat cepat menghilang. Sebaliknya, ketika siswa mencoba memahami sebuah konsep, menghubungkannya dengan pengalaman, lalu menerapkannya, ilmu tersebut dapat menjadi bagian dari cara berpikir mereka. Ia tidak lagi sekadar “disimpan,” tetapi benar-benar dimiliki.
Belajar berarti berani untuk bertanya
Freire menawarkan alternatif yang disebut pendidikan pemecahan masalah (problem-posing education). Dalam pendekatan ini, guru dan siswa sama-sama menjadi peneliti terhadap realitas. Mereka berdialog, saling bertanya, menganalisis pengalaman, lalu mencari cara untuk memahami dan mengubah keadaan. Artinya, pengajar tidak lagi menjadi satu-satunya sumber jawaban. Siswa juga tidak lagi hanya menunggu materi disampaikan. Keduanya belajar bersama melalui pertanyaan, diskusi, dan pengalaman. Pendidikan menjadi proses dua arah, bukan hanya ceramah sepihak. Freire juga menekankan pentingnya praxis, yaitu perpaduan antara refleksi dan Tindakan.
Pada akhirnya, pendidikan tidak seharusnya menjadikan siswa sebagai flashdisk yang hanya menyimpan informasi. Siswa adalah manusia yang dapat berpikir, bertanya, meragukan, mencoba, dan bertumbuh. Ilmu akan lebih hidup ketika dipahami, dikritisi, dikaitkan dengan kehidupan, dan digunakan untuk menciptakan perubahan. Karena belajar yang sejati bukanlah seberapa banyak yang kita ingat, melainkan seberapa jauh ilmu itu mengubah cara kita melihat dan menjalani dunia.
