Siswa Meninggal Pakai Sepatu Kekecilan, Gus Ipul: Bantuan Harus Tepat Sasaran
ยทwaktu baca 4 menit

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) angkat bicara soal meninggalnya siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur, Mandala Rizky Syaputra (16). Mandala meninggal dunia setelah mengalami sakit di bagian kaki.
Kaki Mandala bengkak diduga akibat penggunaan sepatu sekolah yang tidak sesuai ukuran atau kekecilan. Ukuran sepatu Mandala harusnya 45 tetapi dia tetap memakai sepatu nomor 43 karena tidak punya uang untuk membeli sepatu baru.
Keluarga juga tidak membawa Mandala ke rumah sakit karena keterbatasan biaya. Ia hanya dirawat seadanya.
Terkait kasus ini, Gus Ipul menekankan pentingnya data yang akurat agar bantuan pemerintah tepat sasaran. Harapannya kejadian serupa bisa dicegah.
"Dari awal Pak Presiden (Prabowo Subianto) minta kita mempertajam data supaya anak-anak dari keluarga yang memang memerlukan dukungan pemerintah bisa kita jangkau," kata Gus Ipul di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).
Menurut Gus Ipul, pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendiri menjangkau masyarakat hingga ke daerah. Termasuk cek langsung ke lapangan. Kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi kunci utama.
"Di sini inilah, kata kuncinya adalah data. Dan kita perlu kerja sama dengan pemerintah daerah. Tidak mungkin Jakarta ini bisa menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Maka itu kita kerja sama dengan pemerintah daerah," jelasnya.
Kementerian Sosial juga memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki akurasi data penerima bantuan.
"Yang kedua kita juga menggunakan teknologi. Maka itu sekarang ada SIKS-NG, aplikasi untuk operator-operator data desa yang sampai juga ke desa. Sampai ke Jakarta. Nah kita sudah terhubung lewat teknologi," ujar Gus Ipul.
Ia menjelaskan, dengan data yang akurat, pemerintah seharusnya dapat melakukan intervensi lebih dini terhadap masyarakat yang membutuhkan.
"Jadi seharusnya kita, kalau misalnya kita ketahui sebelumnya dengan data yang ada kita akan bisa melakukan intervensi. Jadi kita bisa mencegah adanya hal-hal yang memang menjadi bagian dari tugas kita untuk memberikan bantuan," ungkap Gus Ipul.
Ada pula kasus lain menurut Gus Ipul akibat keterbatasan akses dan data. Contohnya, siswa yang tidak mampu menebus ijazah.
"Jadi kita ini yang sedang terus kita lakukan, jangan sampai misalnya ada keluarga yang tidak mampu menebus ijazah anaknya di sekolah," katanya.
Kemensos mengembangkan Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) di tingkat desa untuk menjangkau masyarakat tingkat bawah.
"Nah, Kementerian Sosial memiliki program bersama daerah untuk menghadirkan Puskesos di tingkat desa. Pusat Kesejahteraan Sosial yang ini diharapkan menjadi tempat untuk menampung seluruh keluhan, seluruh aspirasi, dan mungkin kebutuhan-kebutuhan keluarga dari desa tersebut," jelasnya.
Gus Ipul mengatakan pemerintah juga menggandeng berbagai pihak untuk membantu masyarakat.
"Saya sering sampaikan juga bahwa kita itu pun sumber daya yang cukup untuk membantu keluarga-keluarga kita yang membutuhkan kalau tidak dengan APBN, kita banyak filantropi. Kami kerja sama dengan Baznas kami bekerja sama dengan banyak lembaga-lembaga ya, yang siap bekerja sama untuk memberikan bantuan kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan," kata dia.
Meski begitu, Gus Ipul kembali menegaskan persoalan utama tetap terletak pada validitas data.
"Data kita alhamdulillah insya Allah makin tahun makin akurat dan ini bisa jadi salah satu basis kita untuk membantu mereka-mereka yang membutuhkan," ungkapnya.
Gus Ipul menyebut kasus di Samarinda merupakan bagian dari upaya yang masih terus diperbaiki.
"Sebenarnya bukan kecolongan, kita sedang berusaha. Kita berusaha untuk tidak kecolongan lewat menghadirkan data yang akurat," tuturnya.
Ia juga mengaitkan program Sekolah Rakyat sebagai salah satu solusi untuk menjangkau kelompok masyarakat yang belum terdata.
"Ini yang sedang dilakukan, hadirnya Sekolah Rakyat sebenarnya itu bagian dari upaya untuk mengatasi mereka-mereka yang belum masuk data. Mereka yang oleh Presiden disebut the invisible people. Yang penderitaannya tidak terlihat oleh kita," jelas dia.
Menurutnya, kelompok yang belum terjangkau inilah yang berisiko mengalami kesulitan, termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti perlengkapan sekolah.
"Jadi mereka yang tadi itu mungkin sepatu dan lain sebagainya yang belum terjangkau yang tidak kelihatan oleh kita. Maka dengan data-data yang lebih akurat ini kita bisa menjangkau mereka," pungkasnya.
Adapun peristiwa meninggalnya Mandala ini menjadi sorotan karena memperlihatkan kombinasi masalah kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan akses layanan yang tidak optimal.
Mandala merupakan anak yatim yang tinggal bersama kakak dan tiga adiknya. Ibunya, Ratnasari, bekerja sebagai penjual risoles keliling.
Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, menjelaskan kondisi keluarga yang terbatas membuat kebutuhan dasar, termasuk perlengkapan sekolah, sulit terpenuhi.
"Sepatu itu tetap dipakai setiap hari. Bahkan diganjal dengan foam agar tidak terlalu keras, tapi justru menyebabkan kakinya bengkak," ujar Rina.
Sejak kelas 1 SMK, Mandala menggunakan sepatu ukuran 43. Namun saat naik kelas, ukuran kakinya bertambah menjadi 45.
