Soe Hok Gie: Aktivis yang Memilih Kesepian di Puncak Gunung

Freelance Writer
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Gilang Ariesta Arga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada satu jenis kesepian yang hanya dipahami oleh orang yang jujur pada zamannya sendiri. Soe Hok Gie mengalaminya sepanjang hidupnya yang singkat, dua puluh enam tahun sembilan bulan, sebelum ia menghembuskan napas terakhir di lereng Semeru, tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, akibat menghirup gas beracun Mahameru pada Desember 1969. Ironisnya, kematian itu justru mengabadikan sosoknya sebagai simbol paling murni dari idealisme anak muda Indonesia: seorang yang menolak tunduk pada kekuasaan mana pun, dan yang mencari udara bersih di gunung karena kota tak lagi menyediakannya.
Aktivis yang Menolak Berpihak
Gie adalah bagian dari Angkatan 66, generasi mahasiswa yang turun ke jalan menumbangkan Orde Lama. Tapi berbeda dari banyak rekan seangkatannya yang kemudian larut dalam kekuasaan baru, Gie memilih jalan yang jauh lebih sepi. ia mengkritik Orde Lama sekaligus mewanti-wanti Orde Baru sejak dini. Ia menolak logika bahwa musuh dari
dibukukan sebagai Catatan Seorang Demonstran, ia menulis dengan getir tentang teman-teman seperjuangannya yang mulai tergoda kursi dan proyek begitu kekuasaan berganti tangan. Sikap itu membuatnya kerap berdiri sendirian. Ia dicap kiri oleh kanan, dicap kanan oleh kiri, dan pada akhirnya tidak benar-benar diterima penuh oleh kubu mana pun karena kesetiaannya bukan pada golongan, melainkan pada nuraninya sendiri. Bagi Gie, menjadi aktivis bukan soal memenangkan satu rezim atas rezim lain, melainkan soal terus-menerus menolak menutup mata terhadap ketidakadilan, siapa pun pelakunya.
Pemikiran: Kejujuran sebagai Bentuk Perlawanan
Yang membuat pemikiran Gie tetap relevan bukanlah teori besar yang ia tinggalkan, sebab ia memang bukan pembangun ideologi. Yang ia wariskan adalah sikap: kejujuran intelektual yang keras kepala. Ia percaya bahwa tugas kaum terpelajar bukan menjadi corong kekuasaan, melainkan menjadi pengingat yang tidak nyaman bagi penguasa. Ia menulis kritik pedas terhadap korupsi di kampus, terhadap elite yang memanfaatkan gerakan mahasiswa demi kepentingan sesaat, juga terhadap romantisme kosong dari sesama aktivis yang gemar berpidato tapi enggan berpikir jernih. Gie juga dikenal skeptis terhadap kultus individu dan hirukpikuk massa yang mudah dikendalikan emosinya. Ia menghargai akal sehat di atas semangat kerumunan sebuah sikap yang, di era media sosial hari ini, terasa hampir seperti nubuat.
Gunung sebagai Pelarian yang Bermakna
Salah satu warisan paling personal dari Gie adalah kecintaannya pada alam. Bersama sejumlah rekan, ia mendirikan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), dan gunung menjadi ruang yang ia datangi berulang kali, bukan sekadar hobi, melainkan semacam pelarian yang disengaja. Di tengah kebisingan politik Jakarta tekanan intelijen, dan kelelahan menghadapi kemunafikan sesama manusia, gunung memberi Gie sesuatu yang tak bisa diberikan kota: kesunyian yang jujur. Ia pernah menulis bahwa lebih baik diasingkan di puncak gunung yang sepi daripada hidup dalam kepalsuan orang ramai. Bagi Gie, mendaki bukan pelarian dari tanggung jawab, melainkan cara mengisi ulang kewarasan agar bisa kembali dan berpikir jernih. Gunung adalah tempat ia bisa bicara jujur dengan dirinya sendiri, jauh dari sorak-sorai massa maupun bisik-bisik kekuasaan. Dan pada akhirnya, gunung pula yang mengambilnya kembali, sebuah akhir yang oleh banyak orang dianggap puitis sekaligus menyayat: seorang pencinta kejujuran, tutup usia di tempat paling jujur yang ia kenal.
Gie dan Indonesia Hari Ini
Lebih dari lima dekade setelah kepergiannya, sebagian dari kegelisahan Gie terasa akrab dengan suasana Indonesia belakangan ini. Sepanjang pertengahan tahun ini, gelombang aksi mahasiswa kembali mewarnai jalanan Jakarta, Bandung, hingga Bali, dipicu tekanan biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi, dan pelemahan rupiah. Yang menarik, pola lama yang dulu dikritik Gie pun berulang: gerakan mahasiswa yang murni menyuarakan penderitaan rakyat kembali dituduh ditunggangi kepentingan asing, sesuatu yang harus dibantah langsung oleh para koordinator aksi di lapangan. Gie mungkin akan mengenali situasi ini dengan getir: kekuasaan yang enggan berdialog secara terbuka, namun sibuk mencurigai niat baik mereka yang mengkritik. Ia pasti akan menolak generalisasi dari kedua sisi, baik romantisasi buta terhadap "gerakan mahasiswa" sebagai entitas suci, maupun stigmatisasi serampangan yang menuduh setiap kritik sebagai pengkhianatan. Bagi Gie, yang penting bukan siapa yang berteriak paling keras, melainkan siapa yang berani berpikir jujur di tengah tekanan untuk memilih kubu.
Penutup
Warisan Soe Hok Gie bukanlah nostalgia tentang mahasiswa ideal masa lalu, melainkan tantangan yang belum selesai: keberanian untuk tetap jujur ketika kejujuran itu justru membuatmu kehilangan tempat berpijak di antara golongan-golongan. Di tengah bisingnya kota—dan bisingnya lini masa hari ini, barangkali yang kita butuhkan bukan sekadar meniru semangat turun ke jalan seperti Gie, tapi juga meniru keberaniannya untuk sesekali naik ke sunyi, demi kembali dengan pikiran yang lebih jernih.
