Konten dari Pengguna

Solusi Ramah Lingkungan: Mahasiswa KKNT IPB Buat Pestisida Nabati Daun Sirsak

Hezkiel Roy Altar Todoan Naibaho

Hezkiel Roy Altar Todoan Naibaho

Mahasiswa IPB University

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hezkiel Roy Altar Todoan Naibaho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKNT Inovasi IPB University Kelompok Jombang 04 bersama Petugas Penyuluh Lapangan dan kelompok tani Desa Pojokrejo usai demonstrasi pembuatan pestisida nabati. (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKNT Inovasi IPB University Kelompok Jombang 04 bersama Petugas Penyuluh Lapangan dan kelompok tani Desa Pojokrejo usai demonstrasi pembuatan pestisida nabati. (Dokumentasi Pribadi)

Penggunaan pestisida kimia secara berlebihan hingga kini masih menjadi persoalan klasik dalam dunia pertanian pedesaan. Selain berpotensi merusak struktur tanah dan ekosistem, biaya operasional untuk pembelian bahan kimia tanaman kerap kali mencekik kantong para petani. Tahukah anda bahwa solusi ramah lingkungan sebenarnya bisa didapatkan dengan mudah dari bahan-bahan organik di sekitar kita?

Berangkat dari tantangan tersebut, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University Kelompok Kabupaten Jombang 04 menghadirkan edukasi praktis melalui program unggulan Tani Digdaya di Desa Pojokrejo, Kesamben, Jombang. Kegiatan ini menghadirkan perpaduan edukasi teoritis dan praktis yang dirancang khusus untuk memacu efisiensi pertanian lokal. Dihadiri oleh Kelompok Tani Desa Pojokrejo, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), hingga Kepala Desa Pojokrejo, para mahasiswa memberikan demonstrasi langsung pembuatan pestisida nabati berbahan dasar daun sirsak.

Pestisida nabati merupakan agen pengendali hama dan penyakit tanaman yang diracik dari bahan organik tumbuhan, sehingga ramah lingkungan, aman bagi konsumen, serta mudah terurai secara alami di tanah. Dalam demonstrasi ini, mahasiswa menunjukkan kepada para petani cara memformulasikan racikan dengan memanfaatkan empat bahan utama yang sangat mudah ditemukan di pekarangan, yaitu 50 hingga 100 helai daun sirsak, 10 liter air bersih, 1 kilogram tepung beras sebagai perekat alami, dan 1 liter air kelapa sebagai nutrisi tambahan.

Proses demonstrasi pembuatan pestisida nabati disaksikan oleh para petani Desa Pojokrejo. (Dokumentasi pribadi)

Proses pembuatannya diawali dengan menumbuk daun sirsak hingga halus untuk mengeluarkan ekstrak senyawa aktifnya. Selanjutnya, seluruh bahan dicampurkan ke dalam wadah berisi air dan diaduk rata. Campuran tersebut kemudian disimpan dalam wadah tertutup rapat untuk menjalani proses fermentasi selama satu minggu agar seluruh kandungan zat aktif dari bahan-bahan organik tersebut terekstrak secara optimal. Setelah masa fermentasi satu minggu selesai, cairan tersebut disaring hingga didapatkan ekstrak murni yang siap diaplikasikan ke tanaman.

Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan dan bukti nyata efektivitas racikan, tim mahasiswa membagikan hasil pestisida nabati yang telah melewati proses fermentasi seminggu tersebut secara gratis kepada para petani yang hadir. Dengan demikian, para petani tidak hanya membawa pulang teori, tetapi bisa langsung membuktikan sendiri kemampun ekstrak daun sirsak ini dalam membasmi hama di lahan persawahan mereka masing-masing.

Guna memastikan pemahaman materi tidak berhenti saat acara usai, Kelompok Kabupaten Jombang 04 juga membagikan leaflet interaktif kepada setiap hadirin. Leaflet ini dirancang khusus sebagai media belajar mandiri bagi para petani, yang memuat panduan rinci mengenai komposisi bahan, takaran pelarutan 1 liter ekstrak ke dalam 10 liter air, hingga teknik penyemprotan yang tepat pada bagian bawah daun tempat hama bersembunyi.

Inisiatif terpadu ini mendapatkan respons yang sangat positif dari masyarakat dan para anggota kelompok tani setempat. Para petani menyambut antusias demonstrasi tersebut karena bahan-bahannya sangat murah dan mudah didapatkan, sehingga menjadi alternatif solutif untuk menekan biaya operasional produksi. Koordinator Desa Kelompok Kabupaten Jombang 04, David Sutanzikhar, berharap program ini dapat mengikis ketergantungan petani pada obat-obatan kimia secara bertahap.

"Kami ingin menunjukkan kepada para petani di Pojokrejo bahwa menjaga kesehatan tanaman tidak selalu harus mahal. Melalui pemanfaatan daun sirsak dan bahan organik sekitar, kita bisa menekan biaya produksi sekaligus merawat kesuburan tanah untuk jangka panjang," tutur David.

Sinergi antara mahasiswa IPB University, PPL, dan kelompok tani ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian pertanian yang sehat, efisien, dan ramah lingkungan di Kabupaten Jombang.

Nah, bagaimana menurut anda? Semoga inovasi sederhana ini dapat terus menginspirasi wilayah-wilayah pertanian lainnya di Indonesia!