Stasiun Karet Ditutup, Penumpang KRL Harus Jalan Jauh: Sampai Keringetan

Pengalihan operasional Stasiun Karet, Jakarta Pusat, mulai Selasa (1/9) membuat sejumlah pengguna Commuter Line harus berjalan lebih jauh menuju Stasiun BNI City atau Sudirman Baru.
Sejumlah warga yang ditemui kumparan di Stasiun Karet mengeluhkan jarak tempuh yang bertambah. Mereka menilai kondisi tersebut cukup melelahkan, terutama bagi pengguna yang harus mengejar waktu untuk bekerja atau melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum lainnya.
Aprilita (54) dan Weni (62), misalnya, mengaku harus berjalan kaki dari kawasan Stasiun Karet menuju Stasiun BNI City. Keduanya merasa perjalanan tersebut cukup menguras tenaga.
“Mesti jalan kaki kan? Capek. Makanya ke arah sini juga, apalagi sekarang udah perubahan gini, aduh, enggak tahu deh nanti ke depannya,” kata Aprilita saat ditemui di Stasiun Karet, Selasa (1/9).
Weni juga mengeluhkan kondisi kakinya yang sudah terasa lelah setelah berjalan menuju Stasiun BNI City.
“Kakinya juga udah capek nih. Terasa banget,” ujar Weni.
Menurut Aprilita, jarak tersebut terasa cukup jauh bagi warga seusianya. Ia berharap Stasiun Karet dapat kembali digunakan seperti sebelumnya.
“Jauh lah buat lansia ya istilahnya ya. Walaupun baru pra-lansia ya, tapi terasa banget,” katanya.
Weni berharap akses seperti sebelumnya dapat dikembalikan.
“Ya balikin lagi seperti semula deh,” ucap Weni.
Aprilita dan Weni diketahui hendak menuju Depok, Jawa Barat, untuk menjalani terapi. Keduanya mengatakan telah mengetahui informasi penutupan Stasiun Karet melalui teman dan internet.
Bagi mereka, keberadaan Stasiun Karet selama ini memudahkan akses menuju sejumlah transportasi umum. Aprilita menilai kawasan Karet lebih strategis karena dapat menghubungkan pengguna dengan akses transportasi di sekitar Karet, Bendungan Hilir, hingga Tanah Abang.
Ia juga menilai tambahan waktu berjalan kaki dapat menjadi kendala bagi pengguna yang memiliki aktivitas dengan jadwal ketat.
“Jadi kan ngebantu orang tuh langsung ke angkutan umum. Emang waktunya, ini kan lumayan tuh mereka yang buru-buru kan, waktunya juga kebuang percuma gitu,” ujarnya.
Weni menambahkan, berjalan kaki sebenarnya tidak menjadi persoalan jika dilakukan saat santai. Namun, kondisi berbeda ketika pengguna sedang mengejar waktu.
“Kalau lagi santai sih nggak apa-apa ya kita sekalian olahraga, kalau ngejar waktu kan (capek),” kata Weni.
Sampai Keringetan
Keluhan serupa disampaikan Sandra (17), pengguna Commuter Line yang baru pertama kali turun di Stasiun BNI City setelah sebelumnya terbiasa menggunakan Stasiun Karet.
Sandra yang datang dari Cakung untuk menjalani PKL mengatakan jarak dari Stasiun BNI City menuju Stasiun Karet terasa cukup jauh.
“Kalau menurut saya sih lumayan jauh ya, sampai keringetan, capek,” ujar Sandra.
Ia mengaku baru mengetahui adanya penutupan Stasiun Karet dari temannya. Sandra juga menilai penutupan tersebut merugikan karena pengguna harus mengeluarkan tenaga lebih untuk berjalan kaki.
“Menurut saya sih sangat merugikan ya, soalnya kayak menguras tenaga banget buat jalan kaki, lumayan capek,” katanya.
Sandra pun memilih akses melalui Stasiun Karet karena dinilai lebih dekat dengan transportasi umum.
“Menurut saya lebih bagus turun di Karet sih, jadi lebih dekat juga buat naik transportasi umumnya, enggak usah jalan juga,” ujarnya.
Perlu Tambah Waktu Sekitar 10 Menit
Sementara itu, Sadik (43), pengguna Commuter Line dari Tambun, Kabupaten Bekasi, yang bekerja di kawasan Thamrin City, mengatakan penutupan Stasiun Karet pada dasarnya tidak menjadi persoalan selama kenyamanan dan waktu perjalanan pengguna tetap diperhatikan.
Menurut Sadik, pengguna KRL biasanya telah memperhitungkan waktu perjalanan secara detail, terutama mereka yang harus mengejar jam masuk kerja.
Ia mencontohkan dirinya yang berangkat dari Stasiun Tambun menggunakan kereta pukul 07.02 WIB. Dalam kondisi normal, ia memperkirakan tiba di kawasan tersebut sekitar pukul 07.58 WIB.
Dengan adanya perubahan akses, Sigit memperkirakan membutuhkan tambahan waktu sekitar 10 menit untuk berjalan menuju akses keluar.
“Tadi saya sempat ada tegur sapa, memberikan masukan. Mungkin saya perlu tambahan waktu sekitar 10 menit untuk hanya nyebrang, kemudian jalan ke sini,” kata Sigit.
Menurutnya, tambahan waktu tersebut perlu diperhitungkan karena banyak pengguna KRL yang mengejar waktu untuk melakukan tap out dan masuk kantor.
“Ketika dia naik commuter line, dia memperhitungkan apalagi naik kereta, itu dia sudah terbiasa untuk disiplin. 07.02, 07.15, dia tunggu,” ujarnya.
Sadik juga menyoroti potensi kepadatan di jalur akses menuju Stasiun BNI City ketika kondisi sedang ramai. Ia mengatakan terdapat bagian jalur yang menyempit sehingga berpotensi terjadi pertemuan antara penumpang yang keluar, masuk, maupun berjalan lurus.
“Cuma saya membayangkan aja. Mungkin ketika hectic itu akan crowded. Jadi lebih baik itu dipecah, crowded-nya dipecah,” katanya.
Selain itu, Sadik berharap fasilitas pendukung seperti eskalator dapat ditambah untuk memudahkan pengguna. Ia mengaku harus menggunakan tangga manual ketika keluar dari area yang biasa digunakannya.
“Akan lebih mudah kalau memang itu ada eskalator. Memang setelah itu ada eskalator. Ya udah, bikin aja dua,” ujarnya.
Ia berharap berbagai masukan tersebut dapat menjadi pertimbangan selama masa pengalihan akses Stasiun Karet menuju Stasiun BNI City.
