Stigma yang Menjadi Lensa

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada satu kegelisahan mengganggu pikiran saya: bagaimana sebuah stigma perlahan dapat berubah menjadi alat analisis.
Pada mulanya ia mungkin hanya sebuah sindiran. Lalu menjadi label. Karena terus diulang, label itu akhirnya terasa seperti pengetahuan bersama. Sampai pada suatu titik, ia tidak lagi digunakan untuk menjelaskan satu tindakan, tetapi menjadi lensa untuk membaca keseluruhan diri seseorang.
Dalam politik, mekanisme seperti ini mudah ditemukan. Seseorang sudah terlanjur dianggap tidak dapat dipercaya. Maka ketika ia mengatakan “tidak”, pernyataan itu dapat dibaca sebagai “iya” yang sedang disembunyikan. Ketika ia mengatakan “iya”, justru dianggap sebagai bukti bahwa sejak awal ia memang sedang memainkan sesuatu. Perubahan sikap dianggap akrobat. Konsistensi dianggap strategi.
Apa pun yang dilakukan akhirnya dapat dimasukkan ke dalam cerita yang sama.
Di titik itu, kita tidak lagi sedang menguji sebuah dugaan. Kita sedang mempertahankan keyakinan.
Label yang Menjadi Premis
Saya teringat pada gagasan yang kuat dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer: manusia tidak pernah selesai diketahui. Pengetahuan kita tentang seseorang selalu terbatas oleh pengalaman, konteks, informasi, dan posisi kita sebagai pengamat.
Manusia yang kita kenal hari ini bukanlah manusia yang seluruhnya sudah kita ketahui.
Ia dapat berubah karena pengalaman. Ia dapat mengubah pandangan setelah berhadapan dengan kenyataan baru. Ia dapat mengambil keputusan berbeda karena situasinya berubah. Bahkan mungkin kita sendiri yang selama ini keliru memahami dirinya.
Karena itu, ada persoalan serius ketika sebuah label diperlakukan sebagai karakter permanen seseorang. Kita mengubah pengetahuan yang seharusnya terbuka menjadi kesimpulan yang tertutup.
Label memang memberikan kenyamanan. Kita tidak perlu lagi bertanya mengapa seseorang melakukan sesuatu. Kita cukup mengatakan: memang dia seperti itu.
Di sinilah label berhenti menjadi hasil analisis dan mulai menjadi premis analisis.
Kita tidak lagi melihat perilaku untuk kemudian membentuk kesimpulan. Kita sudah memiliki kesimpulan, lalu mencari perilaku yang dapat menguatkannya.
Bukti yang Selalu Membenarkan
Stigma jarang bertahan hanya karena satu peristiwa. Ia hidup melalui pengulangan.
Label yang sama muncul dalam percakapan, unggahan, komentar, pemberitaan, candaan, bahkan percakapan sehari-hari. Lama-kelamaan, sesuatu yang semula merupakan tuduhan terdengar seperti fakta yang sudah diketahui semua orang.
Setelah itu bekerja mekanisme seleksi. Dari begitu banyak tindakan seseorang, perhatian lebih mudah diarahkan pada hal-hal yang sesuai dengan label. Peristiwa yang bertentangan sering dianggap pengecualian, pencitraan, atau bagian dari strategi yang lebih besar.
Akibatnya, stigma menjadi hampir tidak mungkin salah.
Ini yang menurut saya perlu diwaspadai. Kritik yang sehat seharusnya membuka kemungkinan bahwa kita keliru. Sebaliknya, sebuah stigma cenderung membuat setiap bukti baru bekerja untuk mengonfirmasi kesimpulan lama.
Mekanisme semacam ini tidak hanya terjadi dalam politik. Di tempat kerja, seseorang yang sudah dicap malas akan dinilai melalui label tersebut. Keterlambatan menjadi bukti kemalasan. Ketika ia bekerja lembur, mungkin dianggap hanya sedang memperbaiki kesalahan sebelumnya. Dalam keluarga, seseorang yang dianggap keras kepala dapat mengalami hal serupa. Bahkan ketika ia mengalah, orang bisa saja menganggapnya sedang mencari cara untuk menang.
Label akhirnya seperti kacamata yang tidak pernah dilepas. Yang berubah bukan kenyataan, melainkan cara kita melihatnya.
Bahkan Intelektual Bisa Terjebak
Yang lebih mengganggu adalah ketika mekanisme ini masuk ke lingkungan intelektual.
Intelektual juga manusia. Mereka memiliki pengalaman, afiliasi, preferensi, kekecewaan, dan rasa tidak suka. Pengetahuan yang luas tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap bias.
Karena itu, kualitas analisis seharusnya tidak ditentukan oleh siapa yang mengatakannya, melainkan oleh kesediaannya untuk diuji.
Hipotesis yang sehat harus menyediakan kemungkinan untuk dibantah. Jika muncul bukti kuat yang berlawanan, kesimpulan semestinya dapat diperbarui.
Stigma bekerja sebaliknya. Ia tidak mencari bukti untuk menguji dirinya, tetapi mencari bukti untuk mempertahankan dirinya.
Di sinilah kita perlu berhati-hati ketika sebuah label mulai terdengar seperti teori. Bahasa yang analitis tidak otomatis membuat sebuah premis menjadi benar.
Pertanyaan sederhananya adalah: bukti seperti apa yang, jika muncul, akan membuat kita mengubah kesimpulan?
Jika jawabannya tidak ada, mungkin kita tidak sedang mempertahankan hipotesis. Kita sedang mempertahankan prasangka.
Jangan Berhenti Mengenal Manusia
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang satu tokoh, satu kelompok, atau satu istilah. Persoalannya adalah kecenderungan manusia mengubah orang lain menjadi kategori agar dunia lebih mudah dibaca.
Padahal manusia hampir selalu lebih rumit daripada label yang kita tempelkan kepadanya.
Kita tetap perlu menilai tindakan. Kontradiksi tetap boleh disebut kontradiksi. Rekam jejak tetap perlu diperiksa. Kritik tetap penting.
Tetapi semua itu seharusnya dilakukan dengan kesediaan untuk memperbarui kesimpulan.
Saya kembali pada pelajaran yang terasa penting dari Pramoedya: manusia tidak pernah selesai diketahui. Mungkin karena itu, tugas berpikir bukan sekadar menemukan kesimpulan, tetapi juga menjaga agar kesimpulan tidak berubah menjadi penjara.
Sebab begitu sebuah label menjadi lebih kuat daripada bukti, kita bukan hanya berisiko salah memahami orang lain. Kita juga kehilangan kesempatan untuk menemukan bahwa manusia dapat berubah—dan bahwa mungkin, selama ini, kitalah yang keliru mengenalnya.
