Konten dari Pengguna

Strategi-Strategi Pemenuhan Air Bersih Ngawi Setelah Proyek Selesai

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari yunita ratih wijayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasokan air bersih Ngawi saat terjadi bencana kekeringan.
zoom-in-whitePerbesar
Pasokan air bersih Ngawi saat terjadi bencana kekeringan.

Mengatasi krisis pemenuhan air bersih Ngawi melalui penguatan tata kelola KPSPAM desa secara mandiri dan profesional demi keberlanjutan layanan jangka panjang.

Air bersih Ngawi menjadi kebutuhan krusial yang pemenuhannya tidak semudah memutar keran di rumah bagi sebagian warga perdesaan. Deretan jeriken tampak berbaris rapi menunggu giliran di bawah terik matahari. Mereka harus rela meluangkan waktu berjam-jam demi menanti pasokan air tangki tiba. Realitas pahit ini membuktikan satu hal penting. Urusan tata kelola layanan air minum perdesaan bukan sekadar deretan angka statistik dokumen dinas, melainkan urusan hajat hidup manusia sehari-hari.

Faktanya, kesenjangan akses air minum di perdesaan Ngawi memang masih menganga lebar. Terutama pada wilayah non-Cekungan Air Tanah (non-CAT) yang rawan kekeringan. Ada sekitar 31% penduduk, atau setara 104.375 kepala keluarga, yang belum tersambung pipa air. Padahal, total kebutuhan domestik di sana menembus 91 juta liter per hari. Ironisnya, kapasitas pasokan riil baru menyentuh kisaran 78 juta liter saja. Begitu musim kemarau datang, aksi darurat pembagian air lewat truk tangki selalu menjadi rutinitas tahunan. Jelas ini hanya obat penenang sementara yang gagal menyentuh akar persoalan.

Seharusnya, Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM) bisa tampil sebagai motor penggerak pelayanan desa. Lembaga ini dibentuk lewat Program PAMSIMAS dengan misi mulia: mendorong kemandirian warga mengelola air bersih secara berkelanjutan. Sayangnya, kondisi di lapangan jauh dari kata ideal. Pada tahun 2023, daya jangkau layanan KPSPAM baru mencakup 109.701 jiwa atau cuma 12,13% populasi. Tragisnya lagi, dari total 128 unit KPSPAM di seantero Ngawi, hanya sekitar 20 unit yang benar-benar aktif beroperasi.

Tantangan Kualitas Ketersediaan Air Bersih Ngawi dan Operasional KPSPAM

Warga mengantre untuk mendapatkan pasokan air bersih Ngawi saat terjadi bencana kekeringan. (Sumber : Dok. pribadi)

Angka-angka ini menjadi tamparan keras bahwa urusan air tidak boleh berhenti saat pipa selesai ditanam. Sebagian besar KPSPAM masih terjebak dalam masalah klasik. Mulai dari tata kelola mandek, keterbatasan finansial, masalah legalitas hukum, hingga penyakit ketergantungan kronis pada bantuan pemerintah. Dampaknya adalah munculnya lingkaran setan yang sulit diputus. Penetapan tarif air yang terlalu murah membuat pemasukan kas tidak cukup untuk biaya operasional. Akibat kantong kering, pemeliharaan pompa dan perluasan pipa menjadi terhambat. Ujung-ujungnya, pengelola kembali menadahkan tangan meminta bantuan dana pemerintah.

Persoalan ini kian genting jika kita menilik kualitas komoditas air bersih Ngawi yang disalurkan ke rumah warga. Hasil uji laboratorium bakteriologi pada tahun 2024 membawa kabar buruk. Sebanyak 42% dari 100 sampel air KPSPAM dinyatakan tidak layak konsumsi. Penyebabnya adalah kadar bakteri coliform, total dissolved solids (TDS), serta kandungan mangan yang melewati ambang batas aman. Indikator keberhasilan layanan air minum sudah saatnya diubah total. Kita tidak boleh lagi bangga hanya dengan menghitung jumlah sambungan rumah, tanpa peduli apakah airnya aman atau sistemnya bisa bertahan lama.

Cara pandang pengambil kebijakan terhadap eksistensi KPSPAM harus dirombak. Jangan tempatkan kelompok masyarakat ini sekadar sebagai petugas penjaga aset fisik proyek. KPSPAM harus bertransformasi menjadi sebuah entitas usaha sosial. Mereka wajib mandiri secara finansial demi menjaga napas organisasi. Apa gunanya proyek infrastruktur mahal jika tidak ada lembaga lokal yang andal setelah masa proyek kedaluwarsa?

Langkah awal perubahan bisa dimulai dari penerapan tata kelola berbasis kinerja. Payung hukum legalitas KPSPAM harus diperkuat agar mereka memiliki akses pendanaan eksternal maupun kemitraan strategis. Pengelolaan lapangan juga perlu dimodernisasi lewat dasbor kinerja digital penyeimbang arus kas keuangan. Pemerintah daerah bisa membuat skema indikator kinerja utama serta sistem pemeringkatan KPSPAM. Sistem kompetisi sehat ini penting agar setiap pengurus memiliki target jelas untuk naik kelas dari level perintis, berkembang, hingga mandiri.

Tetapi, sistem canggih tidak akan ada gunanya tanpa peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Para pengelola KPSPAM desa sangat membutuhkan pelatihan manajemen keuangan, perawatan aset, serta strategi pelayanan pelanggan. Pendampingan berkala ini bisa difasilitasi lewat wadah klinik KPSPAM yang mempertemukan pemerintah, praktisi PDAM, dan akademisi. Kelompok yang sudah sukses memegang predikat mandiri harus ditugaskan menjadi mentor kelompok lain. Konsepnya sederhana: “KPSPAM yang Mandiri wajib membina Dua KPSPAM yang Berkembang.”

Reformasi skema pembiayaan juga mendesak untuk segera dieksekusi. Murahnya tarif air memang penting bagi masyarakat, namun tarif yang kelewat murah justru menjadi pembunuh berdarah dingin bagi keberlanjutan layanan. Pemasukan minim membuat perawatan mesin menjadi mustahil dilakukan. Pengurus KPSPAM harus duduk bersama warga dalam forum musyawarah desa untuk menghitung harga pokok produksi secara jujur. Dari sana, regulasi tarif berkeadilan bisa disepakati bersama. Langkah ini juga harus dibarengi dengan audit infrastruktur, optimalisasi kapasitas pipa, serta pencarian sumber mata air alternatif tepat guna.

Pergeseran paradigma ini menuntut perubahan gaya intervensi pemerintah. Pemerintah daerah jangan hanya datang saat peresmian proyek atau ketika warga menjerit meminta bantuan tangki air saat kekeringan, lalu menghilang begitu saja. Peran birokrasi harus bergeser dari sekadar pemberi sinterklas bantuan menjadi pembina ekosistem industri air desa. Tugas utama negara adalah memastikan KPSPAM memiliki legalitas kuat, SDM cakap, sistem transparan, serta kemampuan memperluas jaringan mandiri.

Esensi inovasi pelayanan publik sebetulnya tidak melulu soal pembuatan aplikasi baru atau pembangunan fisik anggaran fantastis. Terobosan sejati berawal dari keberanian kita mengubah cara mengelola lembaga komunal agar bekerja secara profesional. Saat KPSPAM berhasil naik kelas menjadi usaha sosial mandiri, warga tidak perlu cemas menanti truk bantuan saat musim kemarau. Mereka sudah memiliki lembaga tangguh desa yang menjamin air tetap mengalir lancar, higienis, dan terjangkau.