Stunting Tidak Selesai Hanya dengan Sepiring Makanan
Tulisan dari Muthia Amelia Marchelizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stunting masih menjadi tantangan kesehatan anak yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan Indonesia Emas 2045. Namun, pencegahan stunting tidak cukup dilakukan dengan memastikan anak mendapatkan makanan bergizi. Edukasi orang tua mengenai gizi, pola asuh, dan tumbuh kembang anak juga menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang sehat dan produktif.
Pertanyaan ini penting karena kualitas sumber daya manusia tidak dibentuk ketika seseorang sudah memasuki usia produktif. Semuanya dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak seorang anak masih berada dalam kandungan.
Salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah stunting. Kondisi ini sering kali dipahami secara sederhana sebagai masalah anak yang bertubuh pendek. Padahal, persoalannya jauh lebih besar. Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang yang dapat memengaruhi kemampuan kognitif, kesehatan, pendidikan, hingga produktivitas seseorang di masa depan.
Indonesia memang menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Penurunan ini tentu patut diapresiasi. Namun, angka tersebut juga menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.
Persoalannya, bagaimana kita memastikan agar upaya tersebut tidak hanya berhasil menurunkan angka stunting, tetapi juga benar-benar membangun generasi yang sehat dan berkualitas?
Stunting Bukan Sekadar Soal Makanan
Ketika mendengar kata stunting, salah satu solusi yang paling mudah terbayangkan adalah memberikan makanan bergizi kepada anak. Cara berpikir ini tidak sepenuhnya salah. Anak memang membutuhkan asupan gizi yang cukup dan berkualitas untuk tumbuh dan berkembang.
Namun, stunting tidak hanya ditentukan oleh apa yang ada di piring anak.
Kondisi kesehatan dan gizi ibu selama kehamilan, pola pemberian makan, penyakit yang berulang, sanitasi, kebersihan, serta pola pengasuhan juga memiliki peran. Artinya, memberikan makanan bergizi merupakan bagian dari solusi, tetapi bukan satu-satunya solusi.
Anak yang kenyang belum tentu kebutuhan gizinya terpenuhi.
Semangkuk nasi mungkin membuat anak kenyang, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan protein, vitamin, mineral, dan berbagai zat gizi lainnya. Begitu pula makanan bergizi tidak akan memberikan manfaat secara optimal apabila kebersihan, kesehatan, dan pola pengasuhan anak diabaikan.
Karena itu, pencegahan stunting seharusnya tidak baru dimulai ketika anak sudah menunjukkan gangguan pertumbuhan. Upaya tersebut perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga anak melewati periode awal kehidupannya.
Di sinilah peran orang tua menjadi penting.
Bantuan Makanan Perlu Disertai Pengetahuan
Bantuan makanan tetap penting, terutama bagi keluarga yang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi. Pemerintah dan berbagai pihak perlu memastikan anak-anak dari kelompok rentan tetap mendapatkan asupan yang mereka butuhkan.
Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apa yang terjadi setelah bantuan tersebut selesai diberikan?
Jika keluarga hanya menerima makanan tanpa mendapatkan pemahaman mengenai kebutuhan gizi anak, pola makan seimbang, kebersihan, serta pemantauan tumbuh kembang, maka manfaat bantuan tersebut berisiko tidak bertahan dalam jangka panjang.
Karena itu, penanganan stunting perlu melihat keluarga bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai pihak yang perlu diberdayakan.
Orang tua perlu mengetahui bahwa memenuhi kebutuhan anak bukan hanya tentang membuat anak kenyang. Mereka perlu memahami bagaimana memilih makanan yang beragam, bagaimana memberikan makanan sesuai usia anak, bagaimana menjaga kebersihan, serta kapan harus memeriksakan kondisi anak.
Edukasi tersebut bahkan sebaiknya dimulai sebelum seseorang menjadi orang tua.
Remaja dan calon pengantin perlu memiliki pemahaman mengenai gizi, kesehatan reproduksi, anemia, dan persiapan kehamilan. Ketika memasuki masa kehamilan, pengetahuan mengenai kesehatan dan pemenuhan gizi ibu menjadi semakin penting. Setelah anak lahir, orang tua perlu memahami pemberian ASI, makanan pendamping, pola makan yang beragam, kebersihan, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dengan demikian, pencegahan stunting tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi membangun kemampuan keluarga untuk menjaga kesehatan anak secara mandiri.
Sederhananya, bantuan makanan membantu mengatasi kebutuhan hari ini, sedangkan edukasi membantu keluarga menghadapi kebutuhan anak di hari-hari berikutnya.
Mempersiapkan Generasi Emas dari Rumah
Membicarakan bonus demografi berarti membicarakan manusia. Jumlah penduduk usia produktif yang besar memang dapat menjadi peluang bagi Indonesia, tetapi peluang tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila penduduknya sehat, berpendidikan, dan produktif.
Karena itu, persiapan menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup dilakukan ketika generasi tersebut sudah memasuki dunia kerja. Persiapannya harus dimulai sejak mereka masih anak-anak.
Pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan program pencegahan dan penanganan stunting berjalan tepat sasaran. Tenaga kesehatan perlu memberikan layanan yang mudah diakses. Masyarakat juga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan kebersihan.
Namun, rumah tetap menjadi tempat pertama seorang anak tumbuh.
Di rumah, orang tua menentukan banyak hal sederhana yang dapat berdampak besar: makanan yang diberikan kepada anak, kebersihan lingkungan, cara merawat anak ketika sakit, hingga keputusan untuk memantau pertumbuhan dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Karena itu, melawan stunting bukan sekadar memenuhi piring anak. Kita juga perlu mengisi kepala orang tua dengan pengetahuan yang memadai.
Indonesia Emas 2045 tidak akan tercipta secara tiba-tiba. Generasi yang sehat, cerdas, dan produktif dibentuk sejak hari pertama kehidupan, bahkan sejak sebelum seorang anak dilahirkan.
Jika kita ingin membangun generasi emas, maka investasi kita tidak boleh berhenti pada makanan yang diberikan hari ini. Kita juga perlu memastikan orang tua memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menjaga tumbuh kembang anak setiap hari.
Sebab, membangun manusia bukan hanya tentang apa yang kita berikan kepada mereka, tetapi juga tentang kemampuan yang kita wariskan kepada mereka untuk menjaga dirinya sendiri.

