Konten dari Pengguna

Sudah Belajar Bahasa Inggris Bertahun-tahun, Mengapa Masih Takut Bicara?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ildi Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa berkuliah. Foto: aslysun/Shuttterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa berkuliah. Foto: aslysun/Shuttterstock

Mungkin kita sering mendengar di ruang kelas, mahasiswa berkata:

“Sorry, Sir/Mrs./Ms. I understand English, but I can’t speak English.

Apa yang disampaikan oleh mahasiswa tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi itu juga mengandung persoalan yang cukup serius dalam pembelajaran Bahasa Inggris di Perguruan Tinggi Indonesia.

Data tentang kemampuan Bahasa Inggris orang Indonesia, juga dapat dilihat dalam EF English Proficiency Index 2025, yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-80 dari 123 negara. Kita masuk dalam kategori low proficiency, dengan skor keseluruhan 471, di bawah rata-rata global 488. Fakta menariknya adalah, skor reading Indonesia mencapai 491, sedangkan listening 454 dan speaking hanya 447.

Keterampilan berbicaranya (speaking) memiliki skor terendah diantara skil bahasa Inggris lainnya. Memang laporan tersebut tidak secara spesifik menyebut kemampuan mahasiswa Indonesia karena mereka menggunakan peserta tes sendiri sebagai populasinya (bisa siswa, mahasiswa, dan umum). Namun dari laporan tersebut, pola perbedaan skor keterampilan berbicara dengan keterampilan membaca menarik untuk direnungkan: kemampuan memahami bahasa Inggris ternyata belum tentu berjalan seiring dengan kemampuan menggunakannya secara lisan.

Selanjutnya, dari laporan EF English Proficiency Index 2025 tersebut, khususnya tentang rendahnya kemampuan berbicara, juga bisa memunculkan sebuah pertanyaan “Bagaimana mungkin seseorang yang telah belajar Bahasa Inggris dari sekolah dasar, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun ikut kursus Bahasa Inggris, tetapi nilai kemampuan berbicaranya masih rendah, bahkan ia sendiri masih merasa takut, cemas, dan tidak percaya diri ketika diminta berbicara Bahasa Inggris walau satu kalimat saja?

Kembali ke konteks mahasiswa, masalahnya tentu tidak sesederhana dengan mengatakan bahwa mereka tersebut “Tidak mampu berbahasa Inggris”.

Banyak mahasiswa Indonesia sebenarnya mampu membaca artikel berbahasa Inggris dengan baik. Bahkan mereka mampu memahami instruksi, mengerjakan soal tata bahasa, menguasai cukup banyak kosakata, serta memperoleh skor lumayan tinggi dalam uji kemahiran Bahasa Inggris. Namun, ketika mereka diminta memperkenalkan diri, menyampaikan dan menanggapi pendapat, mempresentasikan tugas atau berdiskusi spontan dalam forum akademik dan nonakademik, tiba-tiba Bahasa Inggris menjadi sesuatu yang menakutkan. Ide-ide yang ingin disampaikan tiba-tiba menghilang, kata-kata pun tersendat, susah sekali mengingat kata-kata yang ingin disampaikan.

Di sinilah kita perlu memahami perbedaan antara “Knowing English” dan “Using English”.

Tidak bisa dipungkiri bahwa selama ini pembelajaran Bahasa Inggris lebih fokus perhatiannya pada tata bahasa (grammar), kosakata (vocabulary), membaca teks berbasis genre (reading), dan kemampuan menjawab soal. Kita sadar bahwa itu semua penting bagi pembelajar bahasa. Namun, satu hal yang perlu kita pahami bahwa bahasa itu adalah alat komunikasi, bukan sekedar pengetahuan yang disimpan dalam kepala saja.

Oleh karena itu, seseorang mungkin mengetahui kalimat ini benar menurut teori tata bahasa, “I have been studying English for fifteen years”, tetapi pengetahuan itu belum tentu membuatnya berani mengucapkan kalimat tersebut ketika berbicara Inggris dengan seseorang.

Masalah lainnya adalah budaya “Takut Salah”

Dalam ruang-ruang kelas Bahasa Inggris, kesalahan berbahasa masih dianggap sebagai sesuatu yang harus segera diperbaiki. Akibatnya, mahasiswa menganggap bahwa berbicara Bahasa Inggris itu berarti harus berbicara dengan pengucapan (pronunciation) yang benar, tata bahasa (grammar) yang tepat, dan pilihan kata (vocabulary) yang sesuai.

Sebenarnya, standar tersebut tujuannya baik. Namun, ketika standar tersebut diterapkan pada mahasiswa kelas pemula (Beginners), mungkin standarnya terlalu tinggi, sehingga kebanyakan mahasiswa cenderung memilih untuk diam dan merasa takut berbuat salah dalam berbicara bahasa Inggris.

Padahal, membuat kesalahan (making mistakes) merupakan suatu hal yang normal dalam proses pembelajaran dan bukanlah sebagai tanda kegagalan seseorang dalam belajar bahasa. Kita perlu ingat bahwa anak kecil belajar bahasa ibunya dengan cara mencoba, salah, diperbaiki, coba lagi sampai akhirnya ia lancar berbicara. Ia tidak menunggu sampai menguasai seluruh kosakata atau hafal dengan aturan tata bahasanya untuk sekadar memulai berbicara.

Lalu muncul satu pertanyaan, mengapa pembelajar bahasa Inggris justru melakukan kebalikannya?

Oleh sebab itu, perguruan tingggi di Indonesia, melalui ruang-ruang kelas Bahasa Inggrisnya, perlu memberikan ruang dan kesempatan luas bagi mahasiswa untuk menggunakan Bahasa (Using English), bukan hanya mempelajarinya (Knowing English). Mahasiswa perlu difasilitasi untuk berbicara dalam berbagai konteks dan situasi yang bermakna seperti berdiskusi dengan mengangkat tema yang mereka sukai, mempresentasikan hasil projek kelas, berbagi cerita dan pengalaman pribadi, simulasi dan bermain peran dalam wawancara kerja, memberikan dan merespon pendapat, dan berdiskusi memecahkan suatu masalah.

Dalam aktivitas pembelajaran tersebut, pemahaman tata bahasa (grammar) tetaplah penting, tetapi ia bukan lagi menjadi tujuan akhir. Trennya sekarang, grammar hanya berperan sebagai alat agar komunikasi menjadi lebih efektif, sehingga diharapkan mahasiswa mulai berani untuk berbicara Bahasa Inggris tanpa dibayangi oleh perasaan “takut salah” grammar saat berbicara.

Perubahan teknologi juga menghadirkan keuntungan sekaligus tantangan baru. Misalnya saja, hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI) membuat mahasiswa memiliki peluang yang besar untuk belajar Bahasa Inggris secara mandiri. Zhang, dkk (2025) bahkan dalam penelitianya tentang penggunaan AI Chatbot dikombinasikan dengan aktivitas Think-Pair-Share dalam kelas berbicara di salah satu perguruan tinggi Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan AI tersebut mampu mengurangi rasa cemas siswa saat berbicara Bahasa Inggris. Selanjutnya, Maharani, Siagiyanto, dan Refai (2025) juga menyatakan bahwa ChatGPT dapat dijadikan sebagai mitra percakapan virtual mahasiswa dalam pembelajaran kelas berbicara.

Dalam konteks keterampilan berbicara, AI tersebut memang dapat dengan cepat menerjemahkan kalimat, mencari padanan kata yang sesuai konteks, mengecek ketepatan pengunaan tata bahasa (grammar) bahkan dapat melakukan simulasi percakapan. Namun, ada satu hal yang perlu diingat, AI dapat membantu mahasiswa menghasilkan contoh produk bahasa Inggris, tetapi mahasiswa tetap harus belajar menggunakan bahasa tersebut.

Mahasiswa dapat menggunakan AI sebagai mitra berlatih simulasi percakapan sehari-hari, meminta umpan balik terhadap cara pengucapan dan tata bahasa yang digunakan, ataupun tempat mencari ungkapan-ungkapan Bahasa Inggris lainnya yang relevan sesuai kebutuhan mahasiswa. Namun, setelah mendapatkan bantuan AI tersebut, mahasiswa hendaknya tetap mempraktikkan keterampilan berbicara Bahasa Inggrisnya dengan teman, keluarga, kolega, dosen dan masyarakat. Sebab tujuan akhir belajar Bahasa Inggris bukanlah menghasilkan kalimat yang sempurna seperti yang dihasilkan oleh AI, melainkan mampu menyampaikan ide, gagasan, atau pesan ke lawan bicaranya (manusia) serta memahami apa yang disampaikan oleh orang lain ketika berbicara Bahasa Inggris dalam konteks kehidupan nyata manusia.

Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu mempertimbangkan kembali apa yang dimaksud dengan "mahasiswa yang mampu berbahasa Inggris”. Apa indikatornya? Apakah cukup dengan hanya memberikan bobot 2 SKS saja pada Mata Kuliah Umum (MKU) Bahasa Inggris? Apakah hanya dengan memiliki nilai tinggi uji kemahiran berbahasa Inggris sudah dianggap mampu berbahasa Inggris? Apakah mahasiswa yang memiliki nilai tinggi pada tata bahasa (grammar) otomatis disimpulkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik? Sudah saatnya kita menggeser pertanyaan dari “Apakah mahasiswa kita sudah menguasai Bahasa Inggris?" menjadi “Apakah mahasiswa kita mendapatkan cukup kesempatan untuk menggunakan Bahasa Inggris?".

Apabila kita menginginkan mahasiswa lebih mampu lagi berbahasa Inggris, mungkin mahasiswa tidak selalu membutuhkan banyak teori. Barangkali, mereka justru ingin memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk berbicara-tanpa takut salah, tanpa takut ditertawakan, dan tanpa harus merasa sempurna. Sebab pada akhirnya, bahasa yang tidak pernah digunakan tidak akan pernah benar-benar menjadi kemampuan bagi pembelajarnya.

Mahasiswa kita mungkin sudah belajar Bahasa Inggris bertahun-tahun lamanya. Namun, tantangan kita sekarang bukan sekadar membuat mereka belajar bahasa Inggris lebih lama, tetapi membantu mereka lebih berani menggunakannya ketika diminta berbicara.