Sungai Percut Sei Tuan di Sumut yang Mendadak 'Bersalju', Diduga Limbah Pabrik

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nelayan bernama Zainal Abidin (64) saat ditemui di lokasi Sungai Percut, Rabu (1/7/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Nelayan bernama Zainal Abidin (64) saat ditemui di lokasi Sungai Percut, Rabu (1/7/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Aliran sungai Percut Sei Tuan di Desa Percut, Deli Serdang, Sumatera Utara yang memutih, seolah-olah diselimuti salju viral di media sosial.

Pada Rabu (1/7), saat kumparan mengunjungi lokasi, 'salju' itu sudah tak nampak.

Kepala Desa Percut, Asyhari Syah, menjelaskan bahwa gumpalan busa tersebut diduga berasal dari limbah pabrik. Namun, pihaknya belum mengetahui berasal dari pabrik mana. Ia menyebutkan, di desanya tidak terdapat pabrik sabun ataupun pabrik lain.

"Iya (diduga) limbah pabrik. Kalau di sini enggak ada pabrik. Kalau Percut, adapun pabrik satu. Kalau pabrik sabun hilirnya lagi di daerah Bandar Setia atau di Tembung sana. Apakah pabrik sabun, kita enggak tahu ini. Masyarakat bilang dari pabrik sabun, karena menimbulkan buih itu masyarakat masih diduga itu," kata Asyhari saat ditemui di kantornya, Rabu (1/7).

Asyhari menuturkan, kejadian seperti ini sudah terjadi dua kali sejak dua bulan yang lalu. Banyaknya gumpalan busa tersebut juga sama dengan dua bulan yang lalu.

Sehingga, pihak pemerintah desa melakukan investigasi untuk menelusuri asal gumpalan busa tersebut. Gumpalan itu berasal dari Bendung Bandar Sidoras di ujung sungai.

"Ternyata setelah diinvestigasi di lapangan, ada di sana bendungan, di situlah pemicunya buih itu terjadi. Kalau hulu sungainya enggak ada buih. Tapi setelah di bendungan, karena mungkin balonnya itu mengembang dan airnya terjun, di situlah terjadinya buih maka hanyut langsung ke hilir Sungai Percut," jelas Asyhari.

Asyhari mengatakan, efek dari gumpalan busa itu mengakibatkan ikan-ikan di sungai itu menjadi mabuk. Ia menyebutkan, dua desa yang terdampak akibat gumpalan busa tersebut yakni Desa Percut dan Desa Cinta Rakyat.

"Kalau pun ada keterangan masyarakat, ikannya mabuk. Nah, ikan pun mabuk semua dan masyarakat juga mengutip ikan itu. Kalau dampaknya dari Bendungan itu ya Cinta Rakyat sama Percut," ucap Asyhari.

Hingga kini, kata Asyhari, pihaknya belum menerima laporan penyakit kulit pada masyarakat terkait gumpalan busa tersebut.

Kepala Desa Percut, Asyhari Syah saat ditemui di kantornya, Rabu (1/7/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan

"Belum ada laporan pada kita ada penyakit kulit yang sebabkan itu," imbuh Asyhari.

Menurut Asyhari, pihaknya kemudian melaporkan diduga limbah pabrik itu ke Dinas Lingkungan Hidup agar permasalahan tersebut tidak terulang kembali.

"Kita sudah melaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup terkait masalah ini gitu. Sudah kita konfirmasikan dan juga suruh tolong tindak lanjuti terkait masalah penumpahan air ini gitu. Dan harapan masyarakat ini terus ditindaklanjuti agar jangan terjadi lagi," imbuh Asyhari.

Sementara itu, seorang nelayan bernama Zainal Abidin (64), mengatakan busa-busa itu datang dari hulu sungai sejak pukul 03.00 WIB dan perlahan menghilang akibat pasang pada pukul 07.00 WIB. Ia menyebutkan, gumpalan busa itu seperti salju.

"Macam salju kemarin ini muncul. Di situlah terus tertumpuk, lama lama habis karena air pasang," kata Zainal saat ditemui di lokasi.

Zainal menuturkan, dirinya mengkhawatirkan akan efek samping dari gumpalan busa itu. Sebab, masyarakat sekitar menggunakan air sungai itu untuk mandi dan keperluan sehari-hari.

"Kalau warga sini memang was-was juga lah. Kita mandi nanti kan terpengaruh. Alhamdulillah enggak terpengaruh, enggak apa-apa," ujar Zainal.