Survei Pensiun: Semua Pekerja Takut Nggak Punya Gaji & Gen Z Paling Takut Bokek

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ternyata, kekhawatiran saat pensiun menghantui banyak pekerja dari berbagai kelompok usia. Survei Litbang Kompas di 72 kota 38 provinsi (September 2025) tentang masa pensiun menyebut ada perbedaan motif kekhawatiran di kalangan pekerja saat pensiun. Apa saja hal-hal yang dikhawatirkan berbagai kelompok usia menjelang masa pensiun:
1. Kelompok Usia Muda – Gen Z (17-24 tahun). Khawatir tidak punya pendapatan tetap atau gaji lagi saat pensiun (41,8%). Takut menjadi beban bagi anak atau keluarga serta merasa kesepian karena keluarga tidak tinggal bersama (keduanya 11,4%). Menariknya, Gen Z tidak khawatir akan kehilangan kesibukan atau lingkungan sosial.
2. Kelompok Usia 25-39 tahun – milenial. Khawatir akan tidak punya pendapatan tetap (30,9%) dan kurangnya tabungan atau investasi (28,4%). Di usia ini, mulai khawatir akan hilangnya kesibukan atau jabatan saat bekerja (10,8%).
3. Kelompok Usia 40-54 tahun – Paruh baya. Meskipun pendapatan tetap masih menjadi kekhawatiran utama (23,3%), kelompok paruh baya juga khawatir akan hilangnya kesibukan, kegiatan, atau jabatan (14,5%), di samping mulai khawatir terhadap kerentanan fisik seperti mudah sakit atau lelah (10,5%).
4. Kelompok Usia 55+ tahun – Pensiunan. Karena sudah pensiun atau mendekati usia pensiun, kekhawatiran kelompok ini terletak pada belum memiliki tabungan atau investasi yang cukup (24,1%), diikuti oleh kekhawatiran akan hilangnya pendapatan tetap (22,9%). Akan tetapi, kelompok ini juga paling banyak merasa "tidak khawatir" menghadapi masa pensiun (16,9%) dibandingkan kelompok usia lainnya.
Bila disimpulkan, kekhawatiran akan hilangnya pendapatan tetap cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sementara kekhawatiran terkait fisik dan hilangnya rutinitas kerja lebih menonjol pada kelompok usia paruh baya menuju masa pensiun.
Kekhawatiran pekerja terhadap masa pensiun umumnya disebabkan oleh ketidakpastian pendapatan setelah berhenti bekerja, meningkatnya biaya hidup dan kesehatan, serta belum memadainya tabungan atau dana pensiun yang dimiliki. Solusi yang efektif tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga memerlukan dukungan dari pemberi kerja, penyelenggara dana pensiun, dan pemerintah. Karenanya, bagi pekerja, Langkah penting yang harus dilakukan adalah memulai perencanaan pensiun sedini mungkin. Menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin ke dalam program pensiun, seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), akan memberikan manfaat dari akumulasi iuran dan hasil pengembangan investasi dalam jangka panjang. Selain itu, pekerja perlu membangun portofolio keuangan yang seimbang, memiliki dana darurat, mengelola utang secara bijak, serta meningkatkan literasi keuangan agar mampu menentukan target kebutuhan dana pensiun sesuai gaya hidup yang diinginkan.
Di sisi perusahaan atau pemberi kerja, penyediaan program pensiun melalui DPLK atau fasilitas manfaat pascakerja menjadi salah satu bentuk perlindungan yang dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus loyalitas karyawan. Perusahaan juga dapat memberikan edukasi mengenai perencanaan pensiun dan mendorong karyawan untuk berpartisipasi secara aktif dalam program pensiun sejak awal masa kerja. Sementara itu, regulator dan industri dana pensiun perlu memperluas akses terhadap program pensiun sukarela melalui digitalisasi layanan dana pensiun, penyederhanaan proses pendaftaran, fleksibilitas iuran, serta peningkatan literasi dana pensiun. Upaya ini penting terutama bagi pekerja sektor informal, UMKM, dan gig worker yang umumnya belum memiliki perlindungan pensiun dari pemberi kerja.
Intinya, solusi terbaik tentang masa pensiun adalah mengubah pola pikir dari "memikirkan pensiun saat mendekati usia pensiun" menjadi "mempersiapkan pensiun sejak mulai bekerja." Semakin dini seseorang mulai berkontribusi pada dana pensiun, semakin besar peluang untuk memperoleh manfaat yang memadai di hari tua. Dengan kombinasi disiplin menabung, kepesertaan dalam program pensiun, pengelolaan keuangan yang baik, dan dukungan kebijakan yang tepat, kekhawatiran terhadap kondisi finansial saat pensiun dapat dikurangi secara signifikan.
Ternyata, Gen Z paling takut bokek dan cemas nggak punya gaji lagi saat pensiun. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM
