Survei Poltracking: Gerindra 23,2%, PDIP 11,6%, Golkar 10,4%

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Momen Prabowo di syukuran HUT ke-18 Gerindra Foto: Instagram @prabowo
zoom-in-whitePerbesar
Momen Prabowo di syukuran HUT ke-18 Gerindra Foto: Instagram @prabowo

Poltracking Indonesia merilis hasil survei nasional terkait peta elektoral dan dinamika partai politik. Hasilnya, Gerindra mencatat elektabilitas tertinggi dengan 23,2 persen.

Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro mengatakan, survei dilakukan pada 14-20 Agustus 2026, menggunakan simulasi surat suara dengan pertanyaan mengenai partai politik atau calon legislatif DPR RI yang akan dipilih jika pemilu digelar saat survei dilakukan.

“Elektabilitas Partai Gerindra masih di atas yaitu di angka 23,2 persen,” kata Yoki dalam paparannya, Rabu (23/9).

Dalam survei tersebut, PDI Perjuangan berada di angka 11,6 persen, kemudian Partai Golkar sebesar 10,4 persen. Selanjutnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperoleh elektabilitas 6,2 persen, sedangkan Partai Demokrat 6,1 persen.

Partai NasDem tercatat memiliki elektabilitas 4,4 persen. Kemudian Partai Amanat Nasional (PAN) sebesar 3,4 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 3,3 persen, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2,3 persen, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1,9 persen.

“Gerindra memperoleh elektabilitas di angka 23,2 persen, PDI Perjuangan di 11,6 persen, Partai Golongan Karya atau Golkar di angka 10,4 persen, PKB 6,2 persen, Partai Demokrat di 6,1 persen, Partai NasDem 4,4 persen, Partai Amanat Nasional 3,4 persen, sementara PKS 3,3 persen, dan PSI di 2,3 persen, dan PPP di angka 1,9 persen,” ujar Yoki.

Sementara partai politik lainnya dalam survei tersebut tercatat memiliki elektabilitas di bawah 1 persen.

Tren elektabilitas Partai Politik simulasi surat suara 18 Partai Politik menurut Poltracking Indonesia periode 14 - 20 Agustus 2026. Foto: Poltracking Indonesia
Tren elektabilitas Partai Politik setahun terakhir (Oktober 2025 - Agustus 2026) menurut Poltracking Indonesia periode 14 - 20 Agustus 2026. Foto: Poltracking Indonesia
Tren elektabilitas Partai Politik setahun terakhir (Oktober 2025 - Agustus 2026) menurut Poltracking Indonesia periode 14 - 20 Agustus 2026. Foto: Poltracking Indonesia

Top of Mind Partai Politik

Selain elektabilitas, survei Poltracking turut mengukur top of mind publik terhadap delapan partai politik yang berada di parlemen.

Untuk PKB, hal yang paling banyak muncul dalam ingatan responden adalah Nahdlatul Ulama (NU) sebesar 6,1 persen. Berikutnya Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 5,8 persen dan Gus Dur 5,4 persen.

Sementara untuk Gerindra, nama Prabowo Subianto menjadi hal yang paling melekat dalam ingatan publik dengan 26,1 persen. Selain Prabowo, lambang Garuda disebut 3,5 persen.

Top of Mind Partai Gerindra menurut Poltracking Indonesia peridode 14 - 20 Agustus 2026. Foto: Poltracking Indonesia

Pada PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menjadi sosok yang paling banyak disebut dengan 17 persen. Kemudian lambang banteng sebesar 8 persen dan Puan Maharani 2,4 persen.

Untuk Partai Golkar, lambang pohon beringin menjadi yang paling banyak disebut, yakni 6,4 persen. Kemudian Bahlil Lahadalia 4,9 persen, warna kuning 3,5 persen, dan Soeharto 2,5 persen.

Surya Paloh menjadi sosok yang paling melekat dengan Partai NasDem dengan angka 11 persen. Sementara warna biru sebesar 1,8 persen dan Anies Baswedan 1,1 persen.

Untuk PKS, asosiasi yang paling banyak muncul adalah “agamis” sebesar 3,2 persen. Sementara Anies Baswedan disebut 0,6 persen.

Top of Mind Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menurut Poltracking Indonesia peridode 14 - 20 Agustus 2026. Foto: Poltracking Indonesia
Top of Mind Partai Golongan Karya (Golkar) menurut Poltracking Indonesia peridode 14 - 20 Agustus 2026. Foto: Poltracking Indonesia

Pada PAN, Zulkifli Hasan menjadi sosok yang paling banyak disebut dengan 2,8 persen. Kemudian “artis” 2,6 persen, warna biru 1,7 persen, dan Muhammadiyah 1 persen.

Sedangkan pada Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi sosok yang paling banyak disebut, yakni 16 persen. Berikutnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 7,3 persen.

Yoki mengatakan temuan tersebut turut menggambarkan bagaimana partai politik dipersepsikan publik melalui tokoh maupun identitas yang melekat pada masing-masing partai.

“Ketika kita tanyakan ketika menyebut partai politik ini apa yang paling terekam dalam ingatan publik, kita juga sudah mencatat tadi,” kata Yoki.

18 bendera parpol peserta Pemilu 2024 dikibarkan di depan kantor KPU, Jakarta. Foto: Luthfi Humam/kumparan

Metode Survei

Yoki menjelaskan survei nasional Poltracking tersebut menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan 1.220 responden. Responden merupakan warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih, yakni berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka secara langsung pada 14–20 Agustus 2026. Sampel tersebar di 38 provinsi. Dengan jumlah responden tersebut, survei memiliki margin of error (MoE) sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Poltracking juga melakukan validasi dengan membandingkan demografi responden dengan data BPS 2020.

Yoki mengatakan proses pengambilan sampel dilakukan secara bertingkat, mulai dari proporsi provinsi, desa atau kelurahan, RT, kepala keluarga, hingga responden terpilih.

Dalam pengawasan kualitas data, Poltracking melakukan spot check terhadap 20 persen responden dengan mendatangi kembali responden dan melakukan wawancara ulang.

Selain itu, seluruh data yang masuk dikontak melalui telepon untuk proses konfirmasi dan verifikasi, termasuk pengecekan bukti foto wawancara dan geolocation.

“Sebanyak 100% input data hasil wawancara ke data center diverifikasi. Dalam quality control kami, tidak ditemukan kesalahan yang berarti,” kata Yoki.

Yoki menegaskan hasil survei tersebut merupakan gambaran preferensi publik pada periode 14-20 Agustus 2026. Poltracking juga memiliki pengukuran elektabilitas partai pada periode sebelumnya untuk melihat tren peta elektoral.