Konten dari Pengguna

Swasembada Beras: Upaya Memperkuat Fondasi Produksi Skala Nasional

oskar perianto

oskar perianto

pengamat pertanian dan fokus pada isu-isu pertanian

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari oskar perianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua pekerja mengangkut beras di Gudang Bulog Palebon, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/2/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Dua pekerja mengangkut beras di Gudang Bulog Palebon, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/2/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Capaian swasembada beras Indonesia pada 2025 bukan sekadar angka statistik. Bagi saya, capaian itu merupakan momentum penting untuk membangun fondasi pangan nasional yang lebih kuat.

Mencuplik data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional 2025 mencapai sekitar 34,71 juta ton. Angka tersebut berada di atas kebutuhan konsumsi nasional sekitar 31,19 juta ton, sehingga menghasilkan surplus sekitar 3,52 juta ton.

Data tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah menyatakan Indonesia kembali mencapai swasembada beras.

Capaian itu tentu patut diapresiasi. Namun, swasembada seharusnya tidak dipahami sebagai kondisi yang otomatis bertahan selamanya.

Saya menilai, produksi pangan sangat dipengaruhi oleh luas panen, produktivitas, ketersediaan air, iklim, harga sarana produksi, hingga regenerasi petani. Karena itu, pekerjaan terbesarnya justru memastikan produksi tetap tumbuh ketika kebutuhan pangan masyarakat juga terus meningkat.

Dari sisi produksi padi, BPS juga mencatat luas panen 2025 sekitar 11,32 juta hektare dengan produksi mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi beras ditopang oleh kombinasi perluasan panen dan perbaikan produktivitas.

Momentum positif juga terlihat pada komoditas jagung. Kementerian Pertanian dalam website resmi menyebut produksi jagung 2025 diperkirakan mencapai 16,11 juta ton, naik 6,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Artinya, saya melihat agenda swasembada tidak hanya relevan untuk beras, tetapi juga perlu diperluas pada komoditas strategis lain yang menopang ketahanan pangan dan industri pakan.

Di titik inilah program cetak sawah dan optimalisasi lahan menjadi penting. Menurut saya, ekspansi lahan tidak boleh sekadar mengejar angka luasan. Sawah baru harus benar-benar produktif, memiliki sumber air yang memadai, akses produksi, petani pengelola, serta dukungan teknologi dan sarana produksi.

Dari berbagai artikel yang saya baca, pemerintah sendiri menempatkan ketersediaan lahan, sumber air, dan petani sebagai bagian penting dalam pelaksanaan cetak sawah.

Optimalisasi lahan juga memiliki arti strategis. Masih terdapat lahan pertanian yang potensinya belum dimanfaatkan secara maksimal karena persoalan tata air, infrastruktur, indeks pertanaman, maupun keterbatasan sarana produksi.

Karena itu, meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada harus berjalan beriringan dengan membuka areal persawahan baru.

Kementerian Pertanian pada 2025 memang memperkuat program cetak sawah, optimalisasi lahan, serta dukungan sarana dan prasarana produksi sebagai bagian dari strategi swasembada pangan.

Bahkan pada 2026, program tersebut tetap dilanjutkan bersama pengelolaan air dan irigasi, rehabilitasi lahan, jalan usaha tani, benih unggul, alsintan, pupuk, serta penguatan penyuluhan.

Bagi saya, inilah makna penting swasembada beras 2025. Surplus 3,52 juta ton jangan hanya dirayakan sebagai keberhasilan satu tahun, tetapi dijadikan modal untuk membangun sistem produksi yang tahan terhadap perubahan iklim, gangguan rantai pasok, dan pertumbuhan kebutuhan pangan.

Indonesia sudah membuktikan bahwa peningkatan produksi bisa dicapai. Tantangan berikutnya adalah mempertahankannya.

Cetak sawah dan optimalisasi lahan harus menghasilkan sawah yang produktif dan berkelanjutan, sementara petani harus ditempatkan sebagai aktor utama.

Jika fondasi tersebut konsisten diperkuat, swasembada beras tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian 2025, melainkan berkembang menjadi kemampuan nasional untuk menjaga kecukupan pangan dalam jangka panjang.