'Tapak' Belanda di Kota Tua: Saat Turis Temukan Jejak Leluhur

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Taman Fatahillah pada malam hari saat libur panjang, kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (15/5/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Taman Fatahillah pada malam hari saat libur panjang, kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (15/5/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Kawasan Kota Tua Jakarta masih menjadi magnet bagi pengunjung mancanegara yang ingin mencari sisi lain dari ibu kota.

Area yang dulu dikenal sebagai Batavia ini menawarkan suasana sejarah yang kental melalui deretan bangunan kolonial yang masih berdiri kokoh di sekitar Taman Fatahillah.

Bagi sebagian wisatawan, mengunjungi kawasan ini bukan sekadar untuk berfoto, melainkan untuk melihat langsung bukti fisik perkembangan kota Jakarta dari masa ke masa.

Hal inilah yang dirasakan oleh Gunnar (22), pemuda asal Belanda yang sengaja datang ke sini meski hanya memiliki waktu transit yang singkat.

Gunnar yang sedang menikmati liburan dengan waktu transit selama 16 jam merasa Kota Tua adalah destinasi wajib.

Suasana Taman Fatahillah saat libur panjang, Kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (15/5/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Baginya, berdiri di antara gedung-gedung tua tersebut seperti melakukan napak tilas terhadap sejarah bangsanya sendiri di masa lalu.

"Sangat menarik untuk melihat semuanya. Saya berasal dari Belanda, jadi tentu saja pada tahun 1600-an, mereka (bangsa Belanda) juga ada di sini," ujar Gunnar saat berbincang di lokasi, Jumat (15/5).

Selama kunjungannya, Gunnar mengaku terkesan melihat berbagai peninggalan tentang bagaimana kota ini didirikan.

Menurutnya, atmosfer di Kota Tua benar-benar berbeda karena masih mempertahankan bentuk asli bangunan dan toko-toko lama.

Suasana Taman Fatahillah pada malam hari saat libur panjang, kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (15/5/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

“Benar-benar berbeda. Karena Anda bisa melihat toko-toko di sini, menurut saya itu sangat menarik,” ujar Gunnar.

Senada dengan Gunnar, Andrea (57), wisatawan asal Jerman, juga memberikan kesan positif.

Namun, bagi Andrea, daya tarik utama Kota Tua adalah ketenangannya yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk pusat kota Jakarta yang ia rasakan sejak tiba sehari sebelumnya.

"Yang berbeda dengan pusat kota Jakarta adalah di sini tidak terlalu berisik. Tidak terlalu banyak lalu lintas, dan itu sangat bagus. Bangunan-bangunannya tua, rendah, dan sangat menyenangkan untuk sekadar berjalan-jalan," ungkap Andrea.

Suasana Taman Fatahillah saat libur panjang, Kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (15/5/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Meski menyayangkan beberapa museum sudah tutup saat ia tiba di sore hari, Andrea merasa suasana dan keramahan orang lokal sudah memberikan kesan yang mendalam.

“Ya, mereka sangat baik. Sangat baik dan ramah,” ucapnya ketika ditanya mengenai warga lokal Kota Tua.