Tetap Berjalan Meski Lelah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada hari-hari ketika bangun pagi terasa lebih berat daripada biasanya. Bukan karena tubuh benar-benar tidak mampu bergerak, melainkan karena pikiran sudah dipenuhi berbagai hal yang belum selesai. Pekerjaan menunggu, tanggung jawab harus dituntaskan, pesan perlu dibalas, dan orang-orang di sekitar tetap membutuhkan kehadiran kita. Di tengah semua itu, terkadang muncul keinginan sederhana untuk berhenti sejenak tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Anehnya, kehidupan tidak selalu memberi kita kesempatan untuk beristirahat ketika sedang membutuhkannya. Kita tetap harus bekerja, belajar, mengurus rumah, memenuhi janji, dan menjalankan peran yang sudah menjadi bagian dari keseharian. Dari luar, semuanya mungkin terlihat biasa saja. Kita masih bisa tertawa, berbincang, dan menyelesaikan kewajiban seperti hari-hari sebelumnya. Namun, tidak semua orang tahu bahwa ada perjuangan yang sedang berlangsung di dalam diri seseorang yang tampak baik-baik saja.
Menurut saya, salah satu hal yang paling melelahkan dalam hidup adalah keharusan untuk tetap berfungsi ketika sebenarnya kita sedang membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Kita sering merasa tidak punya pilihan selain terus berjalan karena ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Bahkan, ketika tubuh dan pikiran mulai memberi tanda bahwa kita sudah terlalu lelah, kita justru merasa bersalah jika memilih untuk beristirahat.
Kebiasaan tersebut sering muncul karena kita terbiasa mengukur kemampuan diri melalui seberapa banyak hal yang berhasil diselesaikan. Hari yang produktif dianggap sebagai hari yang baik, sedangkan waktu yang digunakan untuk beristirahat terkadang dipandang sebagai sesuatu yang sia-sia. Tanpa disadari, kita mulai memperlakukan diri sendiri seperti mesin yang harus selalu bekerja, seolah-olah berhenti sebentar akan membuat seluruh pencapaian menjadi tidak berarti.
Padahal, manusia memiliki batas kemampuan yang tidak selalu sama setiap hari. Ada masa ketika kita mampu mengerjakan banyak hal dengan mudah, tetapi ada pula saat ketika tugas sederhana terasa membutuhkan tenaga yang lebih besar. Perubahan tersebut bukan berarti kita kehilangan kemampuan atau menjadi pribadi yang lebih lemah. Bisa jadi, kita hanya sedang menghadapi terlalu banyak hal dalam waktu yang bersamaan.
Kita juga sering lupa bahwa setiap orang memiliki persoalan yang tidak selalu terlihat. Seseorang mungkin sedang memikirkan kondisi keuangan keluarganya, mengkhawatirkan masa depan, menghadapi masalah dalam hubungan, atau berusaha menyelesaikan tanggung jawab yang terasa semakin berat. Ketika semua itu bertemu dalam satu waktu, kelelahan tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau keluhan. Terkadang, ia hadir sebagai keinginan untuk lebih banyak diam, kehilangan semangat melakukan hal yang biasanya disukai, atau sekadar berharap hari ini segera berakhir agar kita bisa beristirahat.
Sayangnya, tidak semua orang merasa nyaman menceritakan keadaan tersebut. Ada yang takut dianggap berlebihan, ada yang tidak ingin membebani orang lain, dan ada pula yang sudah terlalu terbiasa menyimpan persoalannya sendiri. Mereka memilih menjawab bahwa semuanya baik-baik saja karena tidak tahu harus memulai cerita dari mana. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya hanya melihat rutinitas yang berjalan, tanpa menyadari betapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk mempertahankannya.
Kondisi seperti ini mengingatkan kita bahwa kemampuan bertahan tidak harus selalu dibuktikan dengan memaksakan diri. Kita boleh menyelesaikan pekerjaan secara bertahap, meminta bantuan ketika diperlukan, atau mengambil waktu untuk menenangkan pikiran. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dalam satu malam, dan tidak setiap keputusan perlu dibuat ketika kepala sedang penuh. Memberi ruang bagi diri sendiri bukan berarti menghindari tanggung jawab, melainkan berusaha menjalaninya dengan keadaan yang lebih baik.
Kita juga perlu belajar menerima bahwa pertumbuhan tidak selalu terlihat seperti kemajuan besar. Ada masa ketika berkembang berarti berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang sudah melampaui kemampuan kita. Ada hari ketika keberhasilan hanya berupa menyelesaikan satu pekerjaan penting, membereskan kamar, atau bangun dari tempat tidur dan mencoba menjalani aktivitas seperti biasa. Hal-hal tersebut mungkin tampak kecil bagi orang lain, tetapi bisa memiliki arti yang besar bagi seseorang yang sedang berusaha mengumpulkan kembali tenaganya.
Tentu saja, mengambil jeda tidak selalu mudah. Tanggung jawab tetap ada, kebutuhan hidup tidak berhenti, dan keadaan tidak selalu berubah sesuai keinginan. Namun, kita dapat mulai dengan mengurangi tuntutan yang tidak perlu terhadap diri sendiri. Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling kuat, paling cepat, atau paling mampu di antara orang-orang di sekitar kita. Sesekali, menjalani sesuatu sesuai kemampuan yang tersedia hari ini sudah merupakan pilihan yang masuk akal.
Di sisi lain, kita juga perlu lebih peka terhadap orang-orang terdekat. Tidak semua orang yang membutuhkan bantuan akan mengatakannya secara langsung. Terkadang, pertanyaan sederhana seperti menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh atau menawarkan bantuan kecil dapat membuat seseorang merasa tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Kita memang tidak selalu bisa menyelesaikan persoalan orang lain, tetapi setidaknya kita dapat menciptakan ruang agar mereka tidak merasa perlu menyembunyikan seluruh kesulitannya.
Hidup memang mengharuskan kita untuk terus bergerak, tetapi bukan berarti kita harus berlari setiap saat. Ada hal-hal yang perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, dan ada pula keadaan yang menuntut kita untuk memperlambat langkah. Mengenali perbedaan keduanya merupakan bagian dari proses memahami diri sendiri. Kita tidak harus menunggu sampai benar-benar kehabisan tenaga untuk menyadari bahwa tubuh dan pikiran juga membutuhkan perhatian.
Jadi, jika hari ini terasa lebih berat daripada biasanya, tidak perlu terburu-buru menganggap diri sendiri gagal. Berikan kesempatan untuk bernapas, susun kembali hal-hal yang perlu diprioritaskan, dan kerjakan apa yang memang sanggup diselesaikan. Kita tidak harus memiliki jawaban untuk seluruh persoalan hari ini. Beberapa hal bisa menunggu sampai pikiran lebih jernih dan tenaga kembali terkumpul.
Tetap tumbuh bukan berarti selalu kuat menghadapi keadaan. Terkadang, pertumbuhan justru terjadi ketika kita mulai memahami batas diri, berani mengakui kelelahan, dan tetap memilih melangkah tanpa memusuhi diri sendiri. Kita boleh merasa tidak sanggup, boleh membutuhkan bantuan, dan boleh beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sebab, kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling lama mampu menahan beban. Kita masing-masing sedang menjalani perjalanan dengan tanggung jawab, kemampuan, dan keadaan yang berbeda. Selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki langkah, tidak apa-apa jika sesekali kita berjalan lebih pelan. Kita tetap bisa bertumbuh, bahkan ketika yang mampu kita lakukan hari ini hanyalah bertahan sambil memberi diri sendiri waktu untuk pulih.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
