Timwas Haji DPR Cek Hotel Jemaah di Makkah: Lift Rusak-Tempat Wudu Tak Memadai
ยทwaktu baca 3 menit

Ketua Timwas Haji DPR Cucun Ahmad Syamsurijal bersama Anggota Timwas Haji DPR Abdul Wachid dan rombongan meninjau langsung Hotel Buruz Hidayah di Makkah, Rabu (20/5).
Peninjauan dilakukan menyusul adanya keluhan jemaah terkait fasilitas hotel tersebut; sudah bayar mahal untuk ibadah, tapi masih harus berdebat dengan lift dan kamar mandi.
Soroti Lift hingga Kamar Mandi
Cucun mengatakan, hotel tersebut sejak awal sudah menjadi perhatian Timwas Haji DPR. Selain lokasinya dinilai jauh dari Masjidil Haram, hotel itu juga disebut jarang digunakan sehingga masih memiliki banyak kekurangan.
"Sejak awal, Buruz Hidayah ini sudah menjadi catatan kami. Pertama, lokasinya jauh ke Masjidil Haram. Kedua, hotel ini memang jarang dipergunakan, sehingga banyak sekali kekurangannya. Pada awal kedatangan, lift di tower 4 bermasalah," kata Cucun.
Selain lift, Timwas juga menyoroti desain kamar mandi di hotel tersebut. Menurut Cucun, area mandi dibuat rata dengan lantai luar sehingga air mudah meluber keluar kamar mandi.
"Apalagi satu kamar diisi lima orang sehingga frekuensi penggunaan kamar mandi tinggi. Air keluar membasahi karpet, lama-kelamaan menjadi bau dan mengganggu kenyamanan," ujar dia.
Masalah ventilasi hotel juga menjadi perhatian Timwas Haji DPR.
"Ini menjadi catatan dari Timwas. Banyak hal yang harus dipastikan, terutama penginapan di Makkah," tambahnya.
DPR Dorong Kontrak Hotel Jangka Panjang
Politikus PKB itu mengatakan, persoalan hotel jemaah perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Menurut dia, pemerintah sebelumnya pernah menyewa hotel di kawasan Bakhutmah dan Jarwal yang dinilai memiliki fasilitas lebih baik, namun tidak lagi digunakan pada musim haji berikutnya.
"Kita juga pernah menyewa di Bakhutmah yang lokasinya dekat, namun karena berbenturan dengan pergerakan jemaah luar negeri saat naik Bus Shalawat, hotel itu dilepas," kata Cucun.
"Kita juga pernah menyewa di Jarwal, ada beberapa tower bagus di sana, tetapi tahun selanjutnya dilepas lagi. Nanti kami di DPR akan mencari solusi. Bagaimana caranya agar hotel yang sudah terbukti bagus bisa kita booking tidak hanya untuk satu tahun, melainkan dikontrak jangka panjang, misalnya 5 atau 10 tahun," lanjut dia.
Fasilitas Wudu hingga Tempat Cuci Jadi Catatan
Timwas Haji DPR juga menyoroti fasilitas pendukung di hotel, termasuk tempat wudu bagi jemaah yang melaksanakan salat di musala hotel.
"Saat ini, jemaah yang tidak pergi ke Masjidil Haram melaksanakan salat di musala hotel, tetapi tempat wudunya tidak ada. Hanya tersedia wastafel, sehingga jemaah terpaksa mengangkat kakinya ke atas untuk mencuci kaki. Ini catatan penting, seperti yang terjadi di tower 6," ucap Cucun.
Selain itu, fasilitas mencuci pakaian untuk jemaah juga dinilai belum memadai.
"Selanjutnya, masalah tempat mencuci pakaian untuk 1.800 orang di satu tower. Ini harus dicarikan solusi karena aturan saat ini melarang menjemur di rooftop maupun di basemen," paparnya.
Menurut Cucun, seluruh fasilitas pendukung harus dipastikan memadai sebelum pemerintah memutuskan hotel yang akan digunakan pada musim haji berikutnya.
"Musalanya, tempat wudu, tempat cuci, tempat jemuran, hingga fasilitas restonya harus memadai," kata dia.
"Tempat makan harus representatif dan jangan disatukan dengan area musala atau tempat mencuci pakaian," lanjut Cucun.
Evaluasi Haji Akan Dipercepat
Sementara itu, Abdul Wachid mengatakan, temuan Timwas Haji DPR akan segera dievaluasi bersama Kementerian Haji Arab Saudi dan pihak terkait setelah pelaksanaan haji selesai.
"Sekarang, evaluasi bersama Kementerian Haji akan dilakukan lebih cepat. Bahkan tadi malam pihak Irjen menyampaikan, segera setelah pulang ke Tanah Air, kita akan langsung mengevaluasi pelaksanaan haji tahun ini," kata Wachid.
"Mulai dari pelaksanaan, pengadaan, transportasi, akomodasi, hingga katering. Semua ini dipersiapkan agar penyelenggaraan haji ke depan jauh lebih baik," tuturnya.
