Tito Ungkap Plus-Minus Pemilu Pakai e-Voting: Cepat, Murah, tapi Rawan Hacking

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mendagri Tito Karnavian di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mendagri Tito Karnavian di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkap sejumlah kelebihan dan kekurangan dari wacana penerapan electronic voting (e-voting) dalam pemilu. Menurutnya, e-voting memiliki keunggulan dari sisi kecepatan dan biaya, tetapi di sisi lain terdapat risiko keamanan seperti hacking hingga potensi kecurangan.

Oleh karena itu, Tito mengatakan wacana penerapan e-voting dalam pemilu masih perlu dibahas lebih lanjut.

“Ya, ada, ada wacana itu. Tapi itu kan harus dibicarakan pemerintah, DPR, KPU, Bawaslu, DKPP, ya. Partai-partai politik, apakah mereka setuju atau tidak dengan wacana e-voting. Boleh saja, ada juga rencana, ada wacana ya, untuk studi banding misalnya di India. India itu juga sama negara besar, penduduknya banyak tapi juga melakukan e-voting,” kata Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/9).

Menurut Tito, Indonesia sebenarnya telah menerapkan e-voting dalam skala terbatas. Sistem tersebut telah digunakan dalam sejumlah pemilihan di tingkat desa.

“Kemudian, sebetulnya e-voting juga dilaksanakan di Indonesia sudah ada di beberapa tingkat desa, ya. Tapi dalam skala yang kecil. Dari KPU pernah menyampaikan juga, pernah saya tahu, ada pro-kontra,” ujar Tito.

“Di antaranya mereka menyampaikan bahwa keuntungan dari e-voting itu kekuatannya adalah cepat, dan biayanya pasti lebih murah, ya,” lanjutnya.

Kecepatan tersebut, kata Tito, memungkinkan pemilih memberikan suara tanpa harus datang langsung ke tempat pemungutan suara (TPS), apabila sistem e-voting dilakukan secara online.

“Karena cepat, orang bisa melakukan tanpa harus ke TPS misalnya ya, dengan sistem online,” ujarnya.

Namun, di balik kelebihan tersebut, Tito menyebut terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan apabila e-voting diterapkan dalam skala besar pada pemilu.

Salah satu kekhawatiran utama adalah keamanan sistem. Tito menilai sistem e-voting berpotensi menjadi sasaran hacking atau mengalami gangguan yang dapat memengaruhi proses pemungutan suara.

“Tapi kelemahannya, yang dikhawatirkan di antaranya takut adanya hacking. Kemudian ditembus sistem apa namanya itu, e-voting-nya diganggu misalnya,” kata Tito.

“Kalau manual, itu bisa dilihat banyak orang jumlahnya ya, suaranya dihitung bertahap,” sambungnya.

Sementara itu, dalam sistem e-voting, hasil pemungutan suara dapat langsung diproses secara elektronik.

“Kalau e-voting kan langsung dia, tanpa melalui perhitungan itu tingkat secara bertingkat. Sehingga mungkin akan ada terdapat kelemahan moral hazard misalnya, takut ada kecurangan misalnya, ya,” kata Tito.

Meski demikian, Tito menilai risiko tersebut tidak serta-merta membuat wacana e-voting harus ditolak. Menurutnya, Indonesia perlu mempelajari penerapan e-voting di negara-negara lain sebelum menentukan apakah sistem tersebut tepat digunakan dalam pemilu di Indonesia.

“Nah, tapi kita harus belajar. Dari kita mau melakukan apa, melihat lah, praktik di negara-negara yang melakukan itu,” ujarnya.

Tito juga mengingatkan tidak semua negara maju memilih menggunakan e-voting. Karena itu, pengalaman negara lain, baik yang menerapkan maupun tidak menerapkan sistem tersebut, perlu menjadi bahan pertimbangan.

“Dan ada juga negara-negara yang nggak melakukan itu, negara-negara modern juga, negara maju ada juga yang nggak melakukan e-voting. Kenapa juga alasannya gitu kan? Jadi kira-kira seperti itulah. Ini masih sebatas wacana. Intinya adalah sebatas wacana baru. Kita mau belajar dulu beberapa,” pungkas Tito.