Top Halal Award 2026: 45 Brand Raih Penghargaan dari Hasil Survei 2.100 Konsumen

IHATEC Marketing Research kembali menggelar Top Halal Award 2026 untuk memberikan penghargaan kepada sejumlah brand berdasarkan persepsi konsumen terhadap aspek merek dan kehalalan produk.
Direktur IHATEC Marketing Research Evrin Lutfika mengatakan, semakin banyak suara konsumen yang dihimpun dalam Top Halal Award 2026. Tahun ini, IHATEC melibatkan 2.100 responden di enam kota besar di Indonesia, lebih banyak dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
“Tahun ini kita menambah jumlah respondennya menjadi 2.100 responden di enam kota besar di Indonesia,” kata Evrin dalam acara Top Halal Award 2026 di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Rabu (23/9).
Survei tersebut dilakukan di Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Balikpapan, dengan melibatkan responden dari Gen Milenial dan Gen Z.
Tak hanya konsumen Muslim, penelitian ini juga memasukkan responden non-Muslim. Evrin menerangkan, komposisinya disesuaikan dengan proporsi Muslim dan non-Muslim berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dengan rincian sekitar 13 persen responden merupakan non-Muslim.
Menurut Evrin, keberadaan responden non-Muslim penting untuk melihat bagaimana produk halal dipersepsikan secara lebih luas. Sebab, halal tidak semata-mata dipandang sebagai kebutuhan konsumen Muslim.
“Bagi mereka, halal itu bukan hanya sekadar produk itu halal untuk umat Islam, tapi halal itu ada kebaikan, ada kepercayaan, kualitas,” katanya.
Hal serupa juga terlihat dari cara konsumen memandang keamanan produk. Evrin mengatakan, konsumen non-Muslim juga merasa terbantu dengan adanya produk halal karena mengaitkannya dengan keamanan pangan.
“Bagi mereka halal itu bukan hanya halal untuk umat Islam ya, tapi halal itu kebaikan. Food safety-nya juga sudah pasti,” terang dia.
Untuk menentukan brand penerima penghargaan, IHATEC menggunakan dua parameter utama, yakni elemen brand dan elemen halal.
Pada elemen brand, konsumen ditanya mengenai kekuatan suatu merek, mulai dari merek yang paling diingat hingga pengalaman pembelian dan kemungkinan membeli kembali.
“Jadi misalnya untuk kategori Air Minum Dalam Kemasan (ADMK), kita tanyakan ‘brand halal apa yang paling kamu ingat?’ Misal mereka jawab merek A. ‘Kapan kamu terakhir beli?’ Terus, ‘Kapan nanti kamu beli lagi?’” papar Evrin.
Sementara itu, elemen halal melihat seberapa yakin konsumen terhadap status halal produk yang mereka konsumsi. Penilaiannya mencakup bahan baku, proses produksi, kemasan hingga cara brand mengomunikasikan kehalalannya.
“Jadi kita mengawinkan elemen brand dan elemen halal. Nah, yang tiga teratas untuk masing-masing kategori, itulah pemenangnya,” lanjutnya.
Dari proses tersebut, 45 brand menerima Top Halal Award 2026. Tujuh di antaranya bahkan telah meraih penghargaan selama lima tahun berturut-turut sejak 2020.
“Tahun ini ada 45 ya penerima brand-nya. Ya, dan juga ada tujuh merek yang sudah lima tahun berturut-turut. Karena kan kita sejak tahun 2020,” ujar Evrin.
Beragam sektor pun masuk dalam daftar penerima penghargaan, mulai dari makanan dan minuman, restoran, produk perawatan diri hingga kebutuhan rumah tangga.
Salah satu penerimanya, yakni Coca-Cola Indonesia yang meraih Top Halal Award 2026 kategori Soft Drink.
Senior Director Public Affairs, Communications and Sustainability Coca-Cola Indonesia Triyono Priyosoesilo menceritakan, menjaga status halal bukan lagi hal yang baru bagi perusahaan. Kata Truyono, Coca-Cola memastikan bahan baku dan proses produksinya memenuhi ketentuan halal.
“Kita meyakini bahwa produk-produk kita sudah 100 persen halal. Kita sudah lakukan itu sudah bertahun-tahun,” kata Triyono.
Menurut dia, kepatuhan halal menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan konsumen. Karena itu, Triyono mengatakan Coca-Cola terus memastikan bahan baku dan proses produksinya memenuhi ketentuan halal.
Truyono kemudian menegaskan, kepatuhan halal menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan konsumen. Coca-Cola juga terus memastikan bahan dan proses produksinya memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Dari sisi bahan baku, ingredient, insyaallah semua sudah halal dan proses pun halal juga. Sehingga akhirnya alhamdulillah produk kami pun sudah mendapatkan sertifikat halal,” ujarnya.
Bagi Evrin, kepercayaan tersebut juga dapat berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam membeli sebuah produk. Ia mengatakan IHATEC pernah mendapat respons adanya peningkatan penjualan pada restoran setelah memperoleh sertifikasi halal.
“Jadi contohnya di restoran tertentu gitu ya, before after-nya itu lebih terasa. Apalagi sebelumnya mungkin banyak konsumennya yang nanya gitu, "Ini halal apa enggak?" gitu ya. Nah, setelah menjadi halal kan berarti lebih trust ya konsumen,” katanya.
Upaya membangun kesadaran halal pun tidak berhenti pada penghargaan. Evrin menerangkan, IHATEC Group turut memberikan pelatihan bagi penyelia halal dan auditor halal, serta menyediakan materi edukasi dan e-learning.
Sementara IHATEC Marketing Research melakukan riset mengenai persepsi konsumen terhadap halal yang nantinya dapat diakses masyarakat melalui situs perusahaan.
“Kita ada riset yang berisi survei mengenai persepsi halal di konsumen. Nah, itu surveinya kita nanti kita rilis juga dan kita taruh di website kita. Semua orang bisa men-download hasil survei itu,” jelas Evrin.
Di sisi lain, Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Muhammad Aqil Irham mengingatkan pelaku usaha untuk mempersiapkan pemberlakuan kewajiban halal yang akan dimulai pada 18 Oktober 2026.
Menurut Aqil, pelaku usaha tidak hanya perlu memperhitungkan sanksi regulasi, tetapi juga perubahan perilaku konsumen. Produk yang tidak memiliki sertifikasi atau logo halal, kata dia, berpotensi ditinggalkan konsumen.
“Yang lebih berat itu adalah sanksi pasar. Kalau keluarga, para konsumen belanja inginnya belanja yang sudah ada logo halalnya daripada yang tidak logo halalnya, itu akan ditinggal,” kata Aqil.
Dalam kesempatan itu, Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sholahudin Al-Aiyub turut menyoroti perkembangan industri halal di Indonesia.
Sholahudin menilai, Indonesia masih memiliki ruang besar untuk mengembangkan sektor halal. Menurutnya, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memenuhi kebutuhan pangan halal dalam negeri sekaligus meningkatkan perannya sebagai pemasok produk halal di pasar global.
“Indonesia sebagai negara yang paling besar jumlah penduduk muslimnya dan memiliki sumber daya alam yang cukup besar, kita belum mengoptimalkan potensi kita untuk mensuplai kebutuhan global tersebut,” beber Sholahudin.
Tahun ini, Top Halal Award 2026 mengusung tema Halal Beyond Compliance: Elevating Brand Trust in the AI Marketing Era. Tema tersebut menyoroti pentingnya kepercayaan konsumen terhadap brand ketika masyarakat semakin mudah memperoleh, membandingkan, dan membentuk persepsi terhadap suatu produk melalui informasi digital.
Selain menambah jumlah responden, IHATEC juga menambah sejumlah kategori dalam penghargaan tahun ini dan menggandeng key opinion leader (KOL) untuk mempromosikan brand pemenang.
“Tadi mungkin teman-teman sudah bisa lihat ya, ada KOL-KOL yang datang untuk mempromosikan brand pemenang,” kata Evrin.
Pada akhirnya, IHATEC ingin isu halal bergerak lebih jauh dari sekadar label pada kemasan. Evrin pun berharap, halal dapat menjadi bagian dari kebiasaan konsumen ketika memilih produk maupun tempat makan.
“Halal itu harapannya menjadi halal lifestyle. Jadi bukan hanya para influencer-influencer atau para Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) atau stakeholder halal, harapannya sih semua orang teredukasi pentingnya halal,” tutur Evrin.
“Jadi bahwa ketika mereka memilih produk, masuk ke restoran, mereka hanya memilih produk-produk yang halal,” pungkasnya.
