Total 7 Jemaah Haji RI Meninggal, Mayoritas karena Serangan Jantung-Radang Paru

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas haji Daker Bandara menyambut jemaah yang baru tiba di Bandara Madinah. Foto: Dok. MCH 2026
zoom-in-whitePerbesar
Petugas haji Daker Bandara menyambut jemaah yang baru tiba di Bandara Madinah. Foto: Dok. MCH 2026

Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaf, mengungkapkan sebanyak tujuh jemaah haji Indonesia meninggal dunia. Sebagian besar diakibatkan serangan jantung dan radang paru-paru.

"Kami turut menyampaikan hingga saat ini total jemaah yang wafat sebanyak tujuh orang, di mana sebagian besar disebabkan oleh serangan jantung dan radang paru-paru,” ujar Maria dalam konferensi pers daring, Minggu (3/5).

Pemerintah pun memastikan hak-hak ibadah para jemaah yang telah wafat tetap terpenuhi, termasuk badal haji atau pengganti.

"Kita doakan semoga husnul khatimah dan juga keluarga diberikan ketabahan. PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) menjamin badal haji bagi seluruh jemaah yang wafat. Kita doakan semoga almarhum sekali lagi mendapatkan husnulkhatimah,” katanya.

Gelombang pertama jemaah Haji Indonesia tiba di Makkah. Foto: Dok. MCH 2026

Maria pun menjelaskan bahwa layanan kesehatan bagi jemaah hingga kini masih berjalan optimal di seluruh titik layanan.

"Kami turut menyampaikan bagaimana kemudian sisi layanan kesehatan yang hingga saat ini terus berjalan. Secara kumulatif total jemaah yang rawat jalan sebanyak 6.823 orang,” ungkap Maria.

“Sementara itu jumlah jemaah yang dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia atau KKHI sebanyak 117 orang, di mana jemaah yang kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi sebanyak 141 orang,” lanjutnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini masih ada 59 jemaah yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Arab Saudi.

"Dan hingga saat ini untuk jemaah yang masih dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi sebanyak 59 orang. Secara umum kondisi kesehatan jemaah ini masih tetap terus terpantau dan juga mendapatkan pelayanan medis yang optimal baik di tingkat kloter, sektor, hingga kemudian fasilitas kesehatan rujukan,” pungkasnya.