Trauma Healing Polda Jateng untuk Anak Terdampak Gempa NTT yang Masih Ketakutan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak-anak korban terdampak gempa bermain saat sesi trauma healing di posko pengungsian, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (22/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak korban terdampak gempa bermain saat sesi trauma healing di posko pengungsian, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (22/8/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Polda Jawa Tengah memberikan pendampingan psikologis kepada anak-anak terdampak gempa NTT di Asrama SMK Yosepha, Manggarai Barat, Sabtu (22/8). Trauma healing dilakukan karena sejumlah anak masih takut berada di dalam gedung setelah gempa akibat munculnya sejumlah gempa susulan.

Pendampingan dilakukan melalui kegiatan Psychological First Aid (PFA), bermain bersama, hingga sesi berbagi mengenai kondisi yang mereka rasakan setelah bencana.

“Sore ini melakukan Psychological First Aid untuk adik-adik yang tinggal di asrama SMK Yosefa. Jadi adik-adik ini ada trauma tinggal di dalam gedung, jadi untuk sementara mereka tinggal di tenda,” kata Ipda Nina, Bagpsikologi Biro SDM Polda Jawa Tengah saat ditemui di Manggarai Barat, Sabtu (22/8).

Nina mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan ketakutan dan kecemasan yang masih dirasakan. Mereka diajak bermain agar suasana lebih rileks sekaligus membantu proses pemulihan psikologis.

“Kita sedikit memberikan tadi bermain bersama-sama begitu, dan mungkin ada sharing session dari apa yang mereka rasakan bisa disampaikan ke kita,” jelasnya

Selain bermain dan berbagi cerita, tim psikologi Polda Jateng juga mengajarkan teknik sederhana yang dapat dilakukan anak-anak ketika merasa cemas.

“Iya, kalau nanti akan kita ajarkan sedikit tapping atau pernapasan, itu bisa adik-adik praktekkan di kala nanti kalau untuk kosong gitu di lapangan untuk mengurangi kecemasan yang mereka rasakan. Kalau mungkin itu efeknya tidak secara langsung cuma itu bisa mengurangi cemas atau trauma yang mereka rasakan atas gempa yang kemarin, apalagi setelah terjadi gempa susulan,” jelasnya

Menurut Nina, ketakutan terhadap bangunan masih menjadi keluhan yang disampaikan anak-anak. Mereka memilih berada di luar karena masih khawatir merasakan getaran gempa ketika berada di dalam gedung.

“Kalau adik-adik tadi menyampaikan masih takut kalau berada di dalam gedung karena beberapa hari yang lalu memang masih terasa getaran-getaran, jadi mereka memilih untuk memang tinggal di luar begitu. Jadi masih ada rasa takut untuk tinggal di dalam gedung,” ujarnya

Anak-anak penghuni asrama tersebut sebelumnya tinggal di tenda sejak hari kedua setelah gempa. Dari sekitar 94 anak, kini sekitar 20 anak masih berada di lokasi dan didampingi empat suster serta satu karyawan.

Sebagian anak lainnya telah dipulangkan atas permintaan orang tua. Kegiatan belajar mengajar di sekolah juga sementara dilakukan secara daring.

Kondisi bangunan asrama masih menjadi perhatian karena terdapat sejumlah keretakan, termasuk pada bagian kamar, serta atap yang mengalami kemiringan. Meski demikian, bangunan tersebut tidak sampai roboh.

Pendampingan psikologis ini dilakukan untuk membantu anak-anak mengurangi kecemasan dan perlahan kembali beraktivitas setelah mengalami bencana gempa.