Uang atau Waktu?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siapapun bekerja, tentu untuk mendapatkan uang. Dengan uang, kita bisa membeli rumah yang nyaman, makanan yang lebih baik, pendidikan untuk anak, perjalanan untuk melihat dunia, dan berbagai kemudahan yang membuat hidup terasa lebih ringan. Uang memang penting, karena ia membantu kita menjalani hidup dengan lebih layak. Tetapi uang seharusnya menjadi alat untuk menikmati kehidupan, bukan alasan untuk terus menunda kehidupan. Sebab, rumah yang besar tidak akan terasa berarti jika kita tidak punya waktu untuk menikmatinya bersama keluarga. Perjalanan yang indah pun kehilangan makna jika kita terlalu sibuk untuk benar-benar hadir di dalamnya.
Ada hal-hal yang tidak memiliki harga, karena nilainya jauh melampaui uang. Pelukan seorang ibu, tawa anak ketika pulang sekolah, percakapan sederhana bersama pasangan, secangkir kopi bersama sahabat, tubuh yang sehat, bermain dengan cucu atau kesempatan untuk duduk tenang menikmati matahari terbenam. Kita bisa membayar dokter untuk merawat kesehatan, tetapi tidak bisa membeli kembali tubuh yang telah lama kita abaikan. Kita bisa membelikan anak berbagai hadiah, tetapi tidak bisa membeli kembali masa kecil mereka. Kita bisa memberikan keluarga kehidupan yang berkecukupan, tetapi tidak bisa membeli kembali waktu yang tidak pernah kita luangkan untuk mereka.
Ironisnya, terkadang kita terlalu sibuk mencari uang sampai lupa untuk apa uang itu kita cari. Kita menukar pagi dengan perjalanan menuju kantor, siang dengan pekerjaan, malam dengan lembur, dan akhir pekan dengan urusan yang belum selesai. Kita berkata, “Nanti kalau sudah punya cukup uang, saya akan punya waktu untuk keluarga. Nanti kalau sudah sukses, saya akan menikmati hidup.” Tetapi waktu tidak pernah menunggu kita sampai merasa siap. Anak-anak terus tumbuh. Orang tua terus menua. Tubuh terus berubah. Dan hari-hari yang kita kira masih panjang, ternyata diam-diam sedang berkurang.
Maka, mungkin kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan. Tapi berapa banyak waktu yang berhasil kita gunakan untuk hal-hal yang benar-benar berarti. Gunakan uang untuk membeli kenyamanan, tetapi gunakan waktu untuk menciptakan kenangan. Gunakan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi gunakan waktu untuk menjalani kehidupan. Karena uang yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kesempatan yang hilang mungkin masih bisa datang lagi. Tapi waktu yang telah berlalu tidak pernah kembali.
Sungguh, pada akhirnya kita bukan hanya akan mengingat berapa banyak yang berhasil kita miliki. Tapi akan lebih mengingat dengan siapa kita menghabiskan waktu dan bagaimana kita menjalani hidup hingga akhir hayat?
