Uji Coba Pedestrian Malioboro, Lansia Berkursi Roda Kesulitan Lewati Portal

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Portal atau regol ayom di Jalan Sosrowijayan atau sirip Malioboro, Kota Yogyakarta, viral setelah beredar video lansia berkursi roda kesulitan melintas, Senin (31/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Portal atau regol ayom di Jalan Sosrowijayan atau sirip Malioboro, Kota Yogyakarta, viral setelah beredar video lansia berkursi roda kesulitan melintas, Senin (31/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pemasangan portal untuk mewujudkan area full pedestrian di Jalan Sosrowijayan, Malioboro, Kota Yogyakarta, tengah disorot. Sebab, ada seorang lansia berkursi roda, yang justru kesulitan melewati area itu.

Bahkan, ia harus turun dari kursi rodanya untuk dapat melintasi portal tersebut.

Portal tersebut dipasang oleh Dinas Perhubungan (Dishub) DIY beberapa waktu lalu untuk mencegah kendaraan bermotor masuk dan melintas Malioboro saat uji coba pedestrian full Malioboro.

Salah seorang pedagang di Malioboro, Ruli mengatakan peristiwa lansia berkursi roda kesulitan melewati portal terjadi pada Sabtu (29/8) lalu.

"Sore (kejadiannya) jam 2 apa jam 3," kata Ruli ditemui, Senin (31/8).

Ruli turut membantu lansia tersebut melewati portal. Dalam video yang beredar, lansia harus turun dari kursi roda dan masuk melalui bawah besi portal.

"Pas ini (Jalan Malioboro) ditutup ada panggung itu (di Malioboro)," katanya.

"Ya bisa (lewat lansia tersebut), dibantu sama warga sini. Diangkat sedikit lah. Soalnya kan kemarin kan digembok kan. Disuruh nunduk pelan-pelan, digandeng," ujarnya.

Portal atau regol ayom di Jalan Sosrowijayan atau sirip Malioboro, Kota Yogyakarta, viral setelah beredar video lansia berkursi roda kesulitan melintas, Senin (31/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pejalan Kaki Kerap Kesulitan

Ruli mengatakan portal ini dipasang sekitar dua atau tiga bulan lalu. Menurutnya portal besi ini menyulitkan pejalan kaki yang berbadan gemuk maupun lansia. Tinggi portal nanggung bikin sulit dilompati atau melintas di bawahnya.

"Memang nyangkut. Soale kan pendek banget (portal besinya), terutama yang bikin sulit itu kan selama saya di sini tak lihat dari sini ya kemarin ya, lansia sama kursi roda, ketika orang gemuk," tuturnya.

"Orang pakai sepeda harus diangkat (sepedanya)," jelasnya.

Ruli berharap ada solusi dari Pemda DIY agar portal ini tak menyulitkan untuk pejalan kaki. Apalagi jalan ini banyak lalu lalang dari wisatawan yang menginap di hotel-hotel di sirip-sirip Malioboro.

"Yang penting buat pejalan kaki aja bisa buat lewat gitu aja. Kalau masalah motor sama mobil enggak bisa lewat ya terserah lah. Namanya juga udah aturan toh. Yang penting pas tengah tuh kasih space buat jalan lah gitu lah, satu orang gitu," tuturnya.

Respons Pemda DIY

Menanggapi kejadian tersebut, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti mengatakan, pihaknya sudah mewanti-wanti dinas terkait untuk sosialisasi ke masyarakat. Peristiwa ini juga jadi catatan pihaknya.

"Hanya saja waktu itu kan kita harus tahu juga gitu, kita membatasi kendaraan bermotor, tetapi tidak untuk pejalan kaki ya. Nah ini mungkin menjadi satu catatan kita, evaluasi kita berkaitan dengan keberadaan portal itu," kata Made kepada wartawan.

Made membenarkan pemasangan portal tersebut merupakan bagian dari uji coba persiapan Malioboro full pedestrian dengan membatasi lalu lintas untuk keluar masuk melewati sirip-sirip.

Made mengatakan akan meminta bagian teknis agar pada saat uji coba pedestrian disiapkan petugas yang berjaga di portal.

"Dan memberikan edukasi atau informasi kepada masyarakat berkaitan dengan keberadaan regol ayom (portal) itu," ujarnya.

Portal yang bernama regol ayom ini, menurut Made baru terpasang di dua sirip Malioboro.

"Baru di dua sirip ya, kalau enggak salah di dua sirip untuk dilakukan pemasangan regol ayom itu. Ya bagian evaluasi lah, untuk hal itu ya. Karena kan kemarin juga kami meminta memang untuk ada akses untuk pejalan kaki juga. Tapi untuk sebenarnya regol itu digunakan untuk membatasi kendaraan bermotor saja," tegasnya.

Bentuk portal ini tidak akan berubah menurut Made. Namun, harus fleksibel dan bisa dilintasi pejalan kaki.

"Kita evaluasi tetap. Kita berkolaborasi dengan Pemkot juga untuk ini. Ya semuanya kan tidak bisa serta-merta kemudian satu program atau kebijakan itu langsung bagus ya, langsung bisa diterima oleh masyarakat semua. Akan kita lihat kelebihan dan kekurangan dari program itu," pungkasnya.