UMKM Desa Barowa Kini Nangkring di GMaps, Awalnya Dikira Cuma untuk Toko Besar

Mahasiswa Universitas Hasanuddin
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dwi Fhri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Desa Barowa, Kabupaten Luwu — "Saya kira Google Maps itu cuma untuk toko-toko besar." Begitu pengakuan salah satu pelaku UMKM Desa Barowa, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sebelum akhirnya usahanya ikut terdaftar di aplikasi peta digital tersebut sekaligus mulai menerapkan QRIS sebagai metode pembayaran baru.
Anggapan itu berubah setelah Rezky Dwi Wahyuni Fahri, mahasiswa KKN Tematik Pemberdayaan Desa 116 Universitas Hasanuddin, menjalankan program pendampingan digitalisasi UMKM Desa Barowa pada 22 Juli dan 4 Agustus 2026. Lewat program bertajuk "Pendataan dan Pendampingan Digitalisasi UMKM Desa melalui Pemetaan Google Maps dan Implementasi QRIS", enam UMKM di Barowa kini sudah terdaftar di Google Maps sekaligus bisa menerima pembayaran digital via QRIS.
Data Dulu, Baru Turun Tangan
Sebelum mendampingi, Rezky lebih dulu mendatangi pelaku usaha satu per satu untuk mengecek dua hal: sudah terdaftar di Google Maps atau belum, dan sudah pakai QRIS atau belum. Hasil pendataan ini rencananya jadi cikal bakal basis data digital UMKM Desa Barowa, sekaligus peta kebutuhan digitalisasi di sana.
Biar Usaha Kecil Gampang Ditemukan
Fokus pertama pendampingan adalah mendaftarkan lokasi usaha ke Google Maps, supaya calon pelanggan lebih mudah menemukan tempat usaha yang sebelumnya "tak kasat mata" di dunia digital. Rezky tidak cuma menjelaskan, tapi mendampingi langsung dari proses pendaftaran sampai pengelolaan informasi lokasinya.
"Setelah dijelaskan dan dibantu, ternyata usaha kecil seperti kami juga bisa. Jadi sekarang kalau ada orang yang mau cari lokasi usaha, lebih gampang," ujar salah satu pelaku UMKM.
QRIS Bikin Transaksi Naik Level
Selain urusan peta, Rezky juga mengenalkan QRIS sebagai opsi pembayaran digital, lengkap dengan pendampingan langsung soal cara pakai dan manfaatnya.
"Sekarang banyak orang yang lebih sering bayar pakai HP. Kami jadi tahu cara menggunakannya dan manfaatnya untuk usaha," kata pelaku UMKM lain yang ikut pendampingan.
Warisan yang Ditinggalkan: Buku Panduan untuk UMKM Desa Barowa
Supaya manfaatnya tidak ikut selesai bersama masa KKN, Rezky menyusun Buku Panduan Pelatihan Digitalisasi UMKM berisi langkah-langkah praktis seputar Google Maps dan QRIS, lalu menyerahkannya ke pihak desa.
"Harapannya, buku panduan ini bisa membantu pelaku UMKM ketika ingin mencoba kembali atau mengembangkan digitalisasi usahanya secara mandiri," jelas Rezky.
Respons dari pelaku UMKM pun positif. "Kami berterima kasih karena dibantu langsung, bukan hanya dijelaskan. Semoga ke depannya semakin banyak UMKM di desa yang bisa menggunakan teknologi seperti ini," ujar salah satu di antaranya.
Digitalisasi Tak Harus Rumit
Cerita dari Barowa ini menunjukkan bahwa digitalisasi UMKM bisa dimulai dari langkah kecil: cukup terdaftar di Google Maps dan bisa menerima QRIS, akses usaha ke pelanggan baru pun terbuka lebih lebar.
Bagi Rezky sendiri, pengalaman ini jadi kesempatan melihat langsung kondisi UMKM desa dan kebutuhan mereka di tengah arus digitalisasi. Dengan data yang sudah terkumpul, pendampingan yang sudah berjalan, dan buku panduan yang tersisa untuk desa, UMKM Barowa kini punya modal untuk melangkah lebih jauh — mudah ditemukan, mudah dibayar, dan makin percaya diri di ruang digital.
