Konten dari Pengguna

UMKM di Era Digital: Peluang Besar atau Persaingan Makin Ketat?

Nadia

Nadia

Mahasiswa Manajemen S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Caption: Ilustrasi pemanfaatan teknologi digital untuk membantu pelaku UMKM mengembangkan usaha dan memantau penjualan. Sumber: Jakub Żerdzicki/Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Caption: Ilustrasi pemanfaatan teknologi digital untuk membantu pelaku UMKM mengembangkan usaha dan memantau penjualan. Sumber: Jakub Żerdzicki/Unsplash.

Ketika Usaha Kecil Mulai Merambah Dunia Digital

Coba perhatikan usaha makanan atau toko kecil yang ada di sekitar kita. Sekarang, tidak sedikit penjual yang mulai memasarkan produknya lewat WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga marketplace. Pembeli pun tidak harus datang langsung ke toko karena cukup melihat produk dari ponsel dan melakukan pemesanan secara online.

Perubahan ini membuat cara orang menjalankan usaha menjadi berbeda. Penjual yang sebelumnya hanya mengandalkan pelanggan di sekitar tempat tinggalnya kini punya kesempatan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Bahkan, usaha rumahan bisa mulai dikenal banyak orang jika produknya menarik dan pemasarannya dilakukan dengan tepat.

Namun, punya akun media sosial atau membuka toko online saja belum tentu membuat penjualan langsung meningkat. Produk yang ditawarkan harus tetap menarik, harganya sesuai, dan kualitasnya terjaga. Di sinilah pelaku UMKM perlu memahami bahwa teknologi memang membuka peluang, tetapi tetap dibutuhkan usaha untuk mengubah peluang tersebut menjadi pendapatan.

Banyak Peluang, tetapi Pesaing Juga Bertambah

Bayangkan seseorang yang baru memulai usaha keripik rumahan. Ia sudah membuat kemasan yang menarik dan mulai mempromosikan produknya melalui media sosial. Sayangnya, ketika mencari produk serupa di marketplace, ternyata ada banyak penjual lain yang menawarkan keripik dengan harga yang tidak jauh berbeda.

Situasi seperti ini menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha. Konsumen sekarang bisa membandingkan harga, melihat ulasan, dan memilih penjual lain dalam waktu singkat. Akibatnya, persaingan tidak hanya terjadi dengan toko di sekitar rumah, tetapi juga dengan penjual dari berbagai daerah.

Kalau hanya mengandalkan harga murah, keuntungan usaha bisa semakin tipis. Ada biaya bahan baku, kemasan, pengiriman, dan promosi yang tetap perlu diperhitungkan. Karena itu, pelaku UMKM perlu mencari keunggulan yang membuat produknya berbeda, misalnya dari rasa, kualitas, pelayanan, atau ciri khas yang tidak mudah ditemukan pada produk lain.

Gambaran mengenai tantangan tersebut juga terlihat dalam publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), Profil Industri Mikro dan Kecil 2024. BPS menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi usaha mikro dan kecil, seperti keterbatasan akses dan modal, kualitas sumber daya manusia, manajemen usaha, serta legalitas. Artinya, peluang untuk berkembang perlu diikuti kemampuan mengelola usaha dengan baik.

Penjualan Ramai Belum Tentu Untung Besar

Ada satu hal yang sering luput ketika seseorang mulai berjualan, yaitu membedakan omzet dengan keuntungan. Ketika pesanan mulai ramai, uang yang masuk mungkin terlihat banyak. Namun, jumlah tersebut belum tentu menggambarkan keuntungan yang benar-benar diperoleh.

Misalnya, sebuah usaha makanan mendapatkan omzet Rp500.000 dalam sehari. Uang itu masih harus digunakan untuk membayar bahan baku, kemasan, ongkos pengiriman, dan kebutuhan operasional lainnya. Setelah seluruh biaya dikurangi, barulah pemilik usaha bisa mengetahui keuntungan yang sebenarnya.

Hal sederhana seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran bisa membantu pelaku UMKM memahami kondisi usahanya. Tanpa pencatatan yang jelas, pemilik usaha bisa kesulitan menentukan apakah harga jual sudah sesuai atau justru terlalu rendah.

Selain itu, promosi juga perlu dipikirkan dengan matang. Memberikan diskon memang bisa menarik pembeli, tetapi jika terlalu sering dilakukan tanpa perhitungan, keuntungan justru dapat berkurang. Tujuan berjualan bukan hanya mendapatkan banyak pesanan, melainkan juga memastikan usaha tetap menghasilkan keuntungan dan bisa berjalan dalam jangka panjang.

Digitalisasi Bukan Sekadar Ikut Tren

Pemasaran digital dapat membantu UMKM memperkenalkan produk kepada lebih banyak orang. Penelitian Yuniarti dan rekan-rekannya (2022) mengenai digitalisasi pemasaran UMKM di Jakarta Selatan membahas pemanfaatan platform seperti Google Bisnisku, Instagram Bisnis, dan WhatsApp Bisnis untuk mendukung pemasaran produk.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa penggunaan teknologi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan usaha. Tidak semua pelaku UMKM harus menggunakan seluruh platform sekaligus. Penjual makanan rumahan, misalnya, dapat memulai dengan WhatsApp untuk menerima pesanan dan Instagram untuk menampilkan produknya. Setelah memahami respons pelanggan, barulah strategi pemasaran dikembangkan sesuai kemampuan usaha.

Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga hubungan dengan pelanggan. Foto produk yang menarik mungkin membuat orang tertarik membeli untuk pertama kali, tetapi kualitas dan pelayanan yang baik dapat menjadi alasan mereka kembali. Kepercayaan pelanggan juga tidak terbentuk hanya melalui promosi, melainkan dari pengalaman mereka ketika membeli produk.

Jadi, Apakah UMKM Bisa Bertahan di Tengah Persaingan?

Menurut saya, UMKM masih memiliki peluang untuk berkembang di era digital. Teknologi memberi kesempatan kepada usaha kecil untuk memperluas pasar tanpa harus langsung mengeluarkan biaya besar untuk membuka toko di banyak tempat. Namun, kesempatan tersebut tidak otomatis membuat setiap usaha berhasil.

Pelaku UMKM tetap perlu memahami kebutuhan konsumen, menjaga kualitas, menghitung biaya, dan memilih strategi pemasaran yang sesuai. Dukungan akses modal, peningkatan keterampilan, dan pengelolaan usaha yang lebih baik juga penting agar mereka tidak hanya mampu memulai usaha, tetapi juga mempertahankannya.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi bukan sekadar soal mengikuti tren berjualan online. Yang lebih penting adalah bagaimana pelaku usaha memanfaatkannya untuk menjangkau pelanggan, mengelola keuangan, dan membangun usaha yang berkelanjutan. Persaingan memang semakin luas, tetapi dengan strategi yang tepat, usaha kecil tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh.