Konten dari Pengguna

UMKM Kelor Sumenep Bersiap Naik Kelas Melalui Inovasi Minuman dan Digitalisasi

Diversifikasi Produk Minuman Moringa. Dok. Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Diversifikasi Produk Minuman Moringa. Dok. Pribadi.

Surabaya — Daun kelor selama ini identik dengan makanan tradisional Madura. Namun di tangan CV Nurul Jannah, usaha mikro asal Bluto, Sumenep, kelor disulap menjadi beragam produk olahan bernilai jual, mulai dari teh, bubuk, kapsul, kerupuk, hingga stik dan mie kelor dengan brand "MARONGGHI." Kini, usaha rintisan berbahan baku organik ini bersiap naik kelas lewat program pemberdayaan yang digagas tim dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berskema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat itu dipimpin oleh Dr. Hj. Sri Handajani, S.Pd., M.Kes, bersama dua anggota tim, Prof. Dr. Nita Kusumawati, M.Sc dan Dedeh Imam Fatmasari, S.E., M.M., serta melibatkan dua mahasiswa pendamping dari Program Studi Tata Boga. Selama delapan bulan ke depan, tim akan mendampingi CV Nurul Jannah mengatasi dua tantangan besar yang selama ini menghambat pertumbuhan usahanya: minimnya diversifikasi produk dan lemahnya penetrasi pasar digital.

Usaha yang Sudah Untung, Tapi Belum Optimal

CV Nurul Jannah memiliki kapasitas produksi 50 kilogram daun kelor per hari atau sekitar 1,5 ton per bulan, usaha ini mempekerjakan tujuh karyawan lokal dan bermitra dengan petani kelor di sekitar Sumenep. Legalitasnya pun lengkap, mengantongi sertifikat organik, PIRT, dan halal. Pada 2025, dengan modal kerja bulanan Rp32 juta, omzet usaha ini tercatat Rp45 juta per bulan dengan laba bersih Rp12,6 juta atau margin sekitar 28 persen.

Meski begitu, dua persoalan mengganjal langkah CV Nurul Jannah untuk tumbuh lebih besar. Pertama, portofolio produk masih berkutat pada bentuk konvensional dan belum menyentuh segmen minuman siap minum (ready-to-drink/RTD) yang tengah digandrungi konsumen urban dan generasi muda. Padahal, pasar minuman fungsional berbasis bahan alami di Indonesia diproyeksikan terus tumbuh signifikan hingga beberapa tahun mendatang.

Kedua, jangkauan pemasaran masih sangat terbatas. Penjualan online CV Nurul Jannah selama ini hanya mengandalkan percakapan pribadi lewat WhatsApp, sementara toko resmi di marketplace besar seperti Tokopedia dan Shopee belum ada. Media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok juga belum dikelola secara profesional dan konsisten. Akibatnya, brand "MARONGGHI" nyaris tak dikenal di luar Sumenep, meski potensi pasarnya jauh lebih besar.

Solusi: dari Mesin Filling Otomatis hingga Ekosistem Digital

Koordinasi Eksternal. Dok. Pribadi.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim Unesa merancang sejumlah intervensi berbasis riset. Di sisi produksi, tim akan mengembangkan tiga varian minuman kelor siap minum, original (dipadukan madu dan lemon), jahe, serta mix fruit dengan formulasi yang mengacu pada hasil riset ekstraksi dan enkapsulasi senyawa antioksidan kelor. Produk-produk ini akan melalui uji organoleptik dan uji ketahanan simpan (shelf life) sebelum diluncurkan ke pasar, dengan target masa simpan minimal enam bulan pada suhu ruang.

Program ini juga akan menghadirkan mesin filling semi-otomatis berkapasitas 1.200–1.500 botol per hari, dilengkapi sistem pengisian panas (hot filling) untuk menjamin sterilitas produk. Dua operator dari CV Nurul Jannah akan dilatih intensif mengoperasikan mesin ini sekaligus menerapkan standar dasar Good Manufacturing Practice (GMP), dengan target menekan tingkat kontaminasi produk dari 5–8 persen pada proses manual menjadi di bawah 1 persen.

Di sisi pemasaran, tim akan membangun ekosistem digital terintegrasi yang menghubungkan marketplace (Tokopedia dan Shopee), media sosial (Instagram, Facebook, TikTok), dan layanan pelanggan lewat WhatsApp Business. Karyawan mitra akan dilatih membuat katalog produk, fotografi produk, copywriting, hingga membaca metrik performa digital seperti engagement rate dan konversi penjualan.

Tak berhenti di situ, tim juga akan merancang ulang identitas visual brand "MARONGGHI," mulai dari logo, palet warna, hingga desain kemasan premium berbahan botol PET food-grade 250 ml, agar produk lebih mudah bersaing di rak marketplace maupun ritel modern.

Target Peningkatan

Jika seluruh solusi berjalan sesuai rencana, tim proyeksi omzet CV Nurul Jannah bisa melonjak dari Rp45 juta menjadi sekitar Rp112,5 juta per bulan dalam 12 bulan pascaprogram, setara peningkatan 150 persen. Program ini juga diharapkan membuka tiga hingga empat lapangan kerja baru serta mendongkrak pembelian bahan baku dari petani kelor lokal hingga dua kali lipat.

Program pemberdayaan ini turut diselaraskan dengan sejumlah agenda strategis nasional, mulai dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di bidang industri dan inovasi serta konsumsi dan produksi bertanggung jawab, Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, hingga fokus pengembangan pangan dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2020–2045.

Bagi tim Unesa, CV Nurul Jannah diharapkan tak sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi juga contoh yang bisa direplikasi oleh pelaku UMKM pengolahan kelor lain di Indonesia, membuktikan bahwa produk pangan lokal berbasis kearifan Madura bisa naik kelas lewat sentuhan riset dan teknologi, tanpa kehilangan akar budayanya.