Konten dari Pengguna

UNNES GIAT 17 Dokumentasikan Sejarah dan Tradisi Tujuh Dusun di Kuwarasan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Mei Seninandita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jejak Sejarah dan Tradisi Lokal Tujuh Dusun

Dokumentasi Sosialisasi Pentingnya Pelestarian Sejarah dan Tradisi Lokal Desa Kuwarasan. Sumber: Dokumentasi pribadi Putri Mei Seninandita, 2026
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Sosialisasi Pentingnya Pelestarian Sejarah dan Tradisi Lokal Desa Kuwarasan. Sumber: Dokumentasi pribadi Putri Mei Seninandita, 2026

SEMARANG — Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tergabung dalam program UNNES GIAT 17 mendokumentasikan sejarah dan tradisi tujuh dusun di Desa Kuwarasan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini dilakukan untuk menghimpun cerita asal-usul wilayah, tokoh yang dikenang masyarakat, keberadaan punden, serta tradisi lokal yang masih dijalankan hingga sekarang.

Hasil pendokumentasian tersebut disusun dalam sebuah buku berjudul Catatan Desa Kuwarasan: Jejak Sejarah dan Tradisi Antar Dusun. Buku ini menjadi upaya untuk memperkenalkan kekayaan sejarah lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus mendokumentasikan cerita yang selama ini banyak diwariskan melalui penuturan lisan.

Desa Kuwarasan memiliki tujuh dusun, yaitu Kalangan, Kalisari, Sidosari, Belukan, Krajan, Weru, dan Santan. Setiap dusun mempunyai cerita tersendiri yang berkaitan dengan asal-usul nama wilayah, tokoh terdahulu, tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah, serta tradisi yang berkembang di lingkungan masyarakat.

Salah satu cerita yang dihimpun berasal dari Dusun Kalangan. Masyarakat setempat mengenal sosok Mbah Kalang yang dipercaya sebagai tokoh awal pembuka wilayah tersebut. Selain cerita mengenai tokoh terdahulu, terdapat pula punden Mbah Kalang dan Nyai Kalang serta punden Mbah Tirto yang dikaitkan dengan pembukaan sumber mata air Kalibendo.

Sementara itu, di Dusun Kalisari terdapat cerita mengenai perubahan nama wilayah dari Kaliliseng menjadi Kalisari. Cerita tersebut berkaitan dengan keberadaan sumber air yang melimpah di wilayah tersebut. Kisah-kisah semacam ini memperlihatkan hubungan antara identitas suatu dusun, lingkungan alam, dan ingatan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Selain cerita asal-usul wilayah, pendokumentasian juga mencakup tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Salah satunya adalah Merti Dusun, yang pelaksanaannya dapat melibatkan kegiatan bersih makam, membersihkan saluran air, doa bersama, kenduri, hingga pertunjukan kesenian tradisional.

Di Dusun Sidosari, Merti Dusun dilaksanakan pada Jumat Kliwon, biasanya sekitar dua minggu sebelum Ramadan. Kegiatan tersebut di antaranya berupa membersihkan aliran sungai dan pertunjukan Reog. Adapun di Dusun Weru, rangkaian tradisi yang dikenal masyarakat meliputi bersih makam, dandan kali atau membersihkan saluran air, kenduri, serta hiburan yang dapat berupa campursari, Reog, atau wayang.

Kekayaan budaya Desa Kuwarasan juga terlihat melalui keberadaan kelompok kesenian Reog. Dusun Kalangan memiliki kelompok Reog Margo Waluyo, Dusun Belukan mengenal Reog LTU (Langen Tulonggo Utomo), sedangkan Dusun Weru memiliki kelompok Reog LBM (Langen Budoyo Mudo). Keberadaan kelompok-kelompok tersebut menjadi bagian dari kehidupan kesenian masyarakat yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Penyusunan buku dilakukan melalui penelusuran informasi dan wawancara dengan tokoh serta warga setempat. Informasi yang diperoleh kemudian dihimpun menjadi dokumentasi tertulis agar cerita mengenai sejarah dan tradisi antardusun lebih mudah dipelajari. Karena sebagian informasi bersumber dari penuturan masyarakat, dokumentasi ini juga dapat menjadi titik awal bagi penelusuran dan penelitian sejarah lokal lebih lanjut.

Sebagai bagian dari kegiatan UNNES GIAT 17, upaya pendokumentasian tersebut turut disertai sosialisasi mengenai pentingnya pelestarian sejarah dan tradisi lokal. Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil dokumentasi sekaligus mendorong masyarakat, terutama generasi muda, agar lebih mengenal warisan budaya di lingkungan tempat tinggalnya.

Penyusunan buku Catatan Desa Kuwarasan: Jejak Sejarah dan Tradisi Antar Dusun dilakukan oleh Putri Mei Seninandita, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah UNNES. Melalui karya tersebut, ia berupaya menghimpun cerita dari tujuh dusun di Desa Kuwarasan ke dalam sebuah dokumentasi yang dapat dibaca dan dikembangkan pada masa mendatang.

Sejarah lokal tidak hanya berkaitan dengan peristiwa besar atau tokoh yang dikenal secara nasional. Cerita mengenai asal-usul dusun, tokoh yang dihormati masyarakat, sumber mata air, punden, dan tradisi bersama juga merupakan bagian dari perjalanan suatu komunitas. Pendokumentasian menjadi salah satu cara untuk menjaga agar cerita tersebut tetap dapat dipelajari, ditelusuri, dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan UNNES GIAT 17 di Desa Kuwarasan dapat dilihat melalui akun Instagram @giat17_desakuwarasann. Dokumentasi sejarah dan tradisi tujuh dusun juga dihimpun dalam buku Catatan Desa Kuwarasan: Jejak Sejarah dan Tradisi Antar Dusun karya Putri Mei Seninandita (2026).