Konten dari Pengguna

Usai Keraguan, Aku Bermula

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

doc.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
doc.pribadi

Setiap kepastian yang teguh hanyalah sebentuk kelelahan dari meragukan. Itu yang menjadi landasan pemikiran saya. Di ambang batas antara bayang-bayang yang runtuh dan fajar yang belum sepenuhnya terbit, kita acap kali mendapati diri kita berdiri di atas puing-puing prasangka.

Semua peradaban pikiran sudah terkonstruksi di atas fondasi yang retak, benua dogma yang kita sangka karang abadi, padahal ia hanyalah pasir yang dihanyutkan oleh arus masa lalu.

Kita terbiasa menerima dunia dari pantulan cermin yang buram, menggantungkan eksistensi pada apa yang ditangkap oleh indera yang fana, dan menyerahkan karsa pada bisikan-bisikan asing yang kita namai realitas.

Akan tetapi, di dalam keheningan yang paling radikal, ada keberanian untuk menyapu bersih panggung. Memadamkan seluruh pelita kuno, menanggalkan pakaian kebesaran tradisi, dan melangkah masuk ke dalam kegelapan pusaran air tempat tiada pijakan.

Di sanalah, tatkala langit dan bumi dilipat oleh skepse yang dingin, dikala indera eram oleh ilusi dan bayang-bayang penipu sakti mengintai di balik kesadaran, sebuah kuriositas primordial bergema di ruang hampa, bila segala hal yang kuketahui adalah ilusi, lantas siapakah yang sedang mengutuki ilusi itu?

Kesangsian adalah altar penyucian. Ia menjadi pisau bedah metafisika yang mengamputasi kepalsuan hingga tak ada lagi yang tersisa untuk dipotong.

Dan di titik paling nadir itu, di mana tidak ada lagi tanah untuk memijak maupun udara untuk dihirup, sesuatu yang tak dapat didestruksi menyala dengan benderang. Sebuah kilatan cahaya yang tak bersumber dari panca indera, tapi melompat dari kedalaman akal budi yang jernih.

Aku meragukan, maka aku berpikir.Aku berpikir, maka aku ada.

Inilah gerbang pencerahan yang membelah trajektori pemikiran manusia. Bukan lagi tentang apa yang tampak di luar sana, namun tentang subjek berkesadaran yang menatapnya.

Tubuh mungkin materi yang terbagi-bagi dan fana, melayang dalam mesin raksasa alam semesta yang dingin, tetapi kesadaran merupakan substansi imaterial yang tak terikat oleh ruang dan waktu, jejak keabadian yang ditanamkan oleh Sang Maha Sempurna di dalam benak yang terbatas.

Risalah ini saya ikhtiarkan sebagai bentang alam untuk pengembaraan jiwa yang haus akan kepastian. Ia menjadi rekam jejak dari sebuah pemikiran yang berani meruntuhkan dunia demi menemukannya kembali dalam bentuk yang lebih sejati.

Di sini, di balik riak-riak sains modern, perdebatan fisika mekanis, hingga bayang-bayang ketidakpastian kuantum, diktum Cartesian itu tetap berdiri tegak bagai mercusuar di tengah lautan yang tak bertepi.

Sebab, ketika seluruh prasangka telah dibakar habis hingga menjadi abu, dan ketika kesangsian metodis telah menyelesaikan tugas teragungnya...

Usai Keraguan, Aku Bermula...

Penyusunan risalah ini bertumpu pada komitmen epistemologis untuk menyingkap, mendekomposisi, serta mereartikulasi bentang pemikiran filsafat modern yang dicetuskan oleh René Descartes.

Untuk memahami arsitektur pemikiran modern, saya harus mengawali pelacakan dari sosok René Descartes. Posisi Descartes dalam sejarah pemikiran bagi saya tidak hanya sejajar dengan Francis Bacon (yang kerap disandingkan mengungguli Descartes), ia melampauinya secara kualitatif.

Keunggulan historis Descartes berakar pada kapasitas intrapersonal dan keahlian lintas disiplin yang ia miliki. Sebelum membaptis dirinya sebagai filsuf, ia merupakan seorang matematikawan ulung dan ilmuwan fisika empiris.

Sumbangan intelektualnya tidak terkungkung dalam batas-batas metafisika spekulatif, tapi meresap secara mendalam ke dalam struktur matematika analitis dan mekanika fisika.

Relevansi pemikirannya senantiasa dirayakan lintas zaman dan disiplin, salah satunya Kuliah Umum yang saya ikuti baru baru ini untuk merayakan ulang tahun Descartes yang diselenggarakan oleh Jurusan Matematika ITB di bawah inisiatif Prof. Iwan Pranoto, di mana dimensi saintifik dari gagasan Cartesian ini dibedah secara kritis.

Posisi Descartes sebagai "Bapak Filsafat Modern," sebagaimana digelorakan oleh Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling, eksponen idealisme Jerman, lahir dari sebuah tindak pemikiran yang begitu radikal.

Menurut Schelling, tatkala Descartes hadir membawa traktat filosofisnya, ia berfilsafat dengan melakukan pembubaran masif dan penyapuan bersih terhadap seluruh warisan intelektual terdahulu.

Ia bertindak seakan tidak pernah ada tradisi filsafat yang mendahuluinya. Radikalisme Cartesian ini menyalip proyek pembaharuan sains milik Francis Bacon.

Bila Bacon bermaksud membangun sains modern dengan membebaskan pengetahuan dari "berhala-berhala" (idola) yang bersumber dari teologi kejatuhan manusia, di mana akal budi dianggap tercemar oleh dosa asal hingga memerlukan rehabilitasi, maka Descartes menganggap terapi demikian tidak memadai.

Bagi Descartes, seluruh proyeksi pengetahuan primordial tidak hanya butuh direhabilitasi, namun harus dibongkar total hingga ke akar-akarnya, diragukan secara utuh, demi mendirikan fondasi baru yang tak tergoyahkan.

Secara jujur dan rinci dalam korespondensinya, Descartes mengonfirmasi bahwa pilar epistemologisnya, cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), bukanlah sebuah temuan yang berdiri terisolasi tanpa akar sejarah.

Ia mereferensikan gagasannya pada formulasi Aurelius Augustinus dari Hippo (Santo Agustinus dalam tradisi Katolik), yakni si fallor, sum (jika aku keliru, maka aku ada). Kendati terdapat keselarasan verbal formal antara kedua formula itu, landasan ontologis dan pendekatan filosofis keduanya berseberangan secara fundamental.

Agustinus mengoperasikan formulasi tersebut di dalam bingkai teologis untuk meneguhkan eksistensi jiwa di hadapan Allah, sementara Descartes menggunakannya sebagai akselerator filosofis murni.

Descartes berhasrat membuktikan secara rasional bahwa "aku" yang berpikir adalah sebuah substansi imaterial (res cogitans) yang keberadaannya sama sekali tidak dependen pada kebertubuhan (corporeality).

Orientasi pemikiran inilah yang melahirkan perdebatan kekal dalam sejarah filsafat, yakni dualisme psiko-fisik atau problem tubuh-jiwa (mind-body problem).

Rekam jejak biografis Descartes memantulkan pergulatan eksistensial yang unik. Setelah mengecap pendidikan di La Flèche, sebuah lembaga pendidikan terbaik di Eropa yang dikelola oleh para imam Yesuit, ia melanjutkan studi ke fakultas hukum.

Namun, pasca-kelulusannya, Descartes mengalami kekecewaan intelektual yang begitu mendalam terhadap klaim-klaim keilmuan akademis, hingga ia memutuskan untuk mengalienasikan diri dari institusi keilmuan formal.

Kekecewaan ini lahir dari evaluasi kritis terhadap disiplin ilmu yang dipelajarinya. Penguasaan bahasa kuno seperti Latin dan Prancis memang membantunya memahami khazanah masa lalu, akan tetapi keterpautan berlebih pada masa lalu justru mengasingkan dirinya dari realitas masa kini.

Disiplin retorika dan puisi amat ia kagumi, tetapi ia menyadari bahwa ranah tersebut membutuhkan bakat alamiah yang tidak ia miliki.

Teologi diakuinya sangat luhur dan esensial, namun kebenaran teologis bersifat transendental dan bergantung pada wahyu Illahi, akal budi manusia yang terbatas tidak akan sanggup membuktikannya secara rasional.

Sementara itu, filsafat konvensional tampak di matanya sebagai arena perseteruan tanpa akhir, di mana tidak ada satu pun kepastian yang dicapai, karena setiap persoalan senantiasa diperdebatkan tanpa konklusi abadi.

Merasa bahwa seluruh fondasi pengetahuan ilmiah masa itu tidak menawarkan kepastian, Descartes memilih untuk mengembara dan belajar langsung dari "buku kehidupan".

Ia memutuskan menjadi prajurit dan bergabung dengan resimen militer di berbagai negara, mulai dari militer Pangeran Maurice dari Nassau di Belanda, pindah ke resimen di Jerman, hingga terlibat dalam dinas ketentaraan di Bavaria, Bohemia, dan Hungaria.

Kendati berada di tengah atmosfer militeris, kontemplasi intelektualnya tidak pernah padam. Saat bertugas di Belanda, Descartes bertemu dengan Isaac Beekman, seorang doktor kedokteran dan teolog yang memiliki minat mendalam pada filsafat alam.

Kendati kerap disalahartikan sebagai matematikawan amatir, Beekman merupakan filsuf alam yang memantik gagasan-gagasan mechanistic philosophy pada diri Descartes.

Kolaborasi keduanya, yang mengompilasi wawasan konseptual Beekman dengan keahlian matematika analitis Descartes, bersua pada rumusan-rumusan penting mengenai atom.

Descartes bahkan menulis sebuah karya ilmiah tentang atomis yang dipersembahkan kepada Demokritus sebagai bentuk penghormatan atas intuisi Yunani kuno.

Kendati hubungan pribadi antara Descartes dan Beekman sempat memburuk akibat provokasi pihak luar, di mana Descartes sempat menolak mengakui pengaruh Beekman, rekonsiliasi kemudian terjadi sewaktu Beekman menyambangi Descartes di Jerman.

Fase krusial dalam kehidupannya terjadi antara tahun 1629 hingga 1649. Selama dua dekade, Descartes memilih menarik diri secara total dari ruang publik dan menetap di Belanda. Ia meninggalkan Paris karena menganggap atmosfer ibu kota Prancis tersebut tidak kondusif bagi refleksi filosofis yang mendalam.

Dari ruang kesendiriannya di Belanda, melalui korespondensi tertulis dengan para ilmuwan dan bangsawan Eropa, termasuk Ratu Kristina dari Swedia, ia melahirkan karya-karya revolusioner. Pada tahun 1649, Descartes menerima undangan Ratu Kristina untuk menjadi filsuf istana di Stockholm.

Akan tetapi, keputusan ini berujung pada penyesalan. Kepindahannya pada bulan September menyongsong musim gugur dan dingin Swedia membuatnya merasa terperangkap di "negeri beruang yang beku dan penuh es".

Perubahan pola hidup yang drastis dari kebiasaan berkomtemplasi secara bebas tanpa terjerat jam kerja selama 20 tahun menjadi kewajiban mengajar sang Ratu di perpustakaan istana pada pukul lima pagi di tengah suhu membeku, meruntuhkan daya tahan fisiknya.

Mengeluhkan ritme harian ini kepada para sahabatnya, Descartes akhirnya terserang radang paru-paru (pneumonia) dan meninggal dunia pada 11 Februari 1650, setelah baru sekitar lima bulan menetap di Swedia.

Kisah pascamati atas jasad Descartes mencerminkan ironi filosofis dari gagasan dualismenya sendiri. Tubuhnya seolah menjadi arena perebutan material, mulanya dimakamkan di Swedia, lalu diekshumasi dan dipindahkan ke Prancis.

Dalam proses perpindahan tersebut, tengkoraknya sempat hilang dan mengembara lintas pemilik, sementara jari-jarinya dipotong untuk dijadikan relik. Jasad fisiknya terpecah-pecah di berbagai tempat.

Namun, bagi kerangka pemikiran Cartesian, fragmentasi jasad tersebut bukanlah masalah esensial, karena jiwa (res cogitans) telah melanglang buana secara abadi, berdiri independen dan sama sekali tidak bergantung pada materi kebertubuhan yang fana

Ziarah epistemologis Descartes ditandai oleh peristiwa mistik-intelektual yang dikenal sebagai "Tiga Mimpi Descartes". Pada malam tanggal 10 November 1619, tatkala ia bertugas sebagai prajurit di Jerman, yang bertepatan dengan malam perayaan Santo Martinus.

Descartes mengalami tiga mimpi beruntun yang mendalam. Mimpi pertama menghadirkan pengalaman traumatik, ia diterjang angin puting beliung yang dahsyat hingga badannya terputar-putar terhuyung-huyung di area kampus saat hendak berdoa di kapel, sementara orang-orang di sekitarnya tetap berdiri tegak.

Ia terbangun dengan ketakutan luar biasa, mengira dirinya sedang diganggu oleh roh-roh jahat. Setelah berkontemplasi hal baik dan buruk dalam hidup, ia tertidur kembali.

Mimpi kedua ditandai oleh suara gemuruh tajam menyerupai petir yang menyentaknya bangun, namun begitu membuka mata, ia menyaksikan kilatan-kilatan cahaya di sekeliling ruangannya. Secara rasional, ia menenangkan dirinya dengan menganggap kilatan itu sebagai fenomena persepsi alamiah saat mata terbangun.

Mimpi ketiga membawa kedamaian dan penyingkapan filosofis. Descartes melihat sebuah buku kamus dan antologi puisi di atas meja. Saat membuka buku puisi itu, matanya tertumbuk pada bait puisi Latin yang mempertanyakan jalan hidup mana yang harus ditempuh (Quod vitae sectabor iter?).

Seorang pria tak dikenal tiba-tiba hadir dan menunjuk pada puisi lain bertajuk Est et Non (Ya dan Tidak) karya penyair Romawi Decius Magnus Ausonius.

Descartes menafsirkan konfigurasi mimpi ini sebagai visi ilahi, dua mimpi pertama menjadi simbolisasi dari masa lalunya yang dipenuhi kekeliruan, sedangkan mimpi ketiga adalah panggilan filosofis yang mengguncang arsitektur pemikirannya.

Guncangan intelektual ini menggerakkannya untuk melakukan ziarah ke Loreto dan mengambil keputusan untuk mengasingkan diri sepuluh tahun kemudian demi menyusun sistem pengetahuan baru.

Karya-karya intelektual Descartes begitu berlimpah, akan tetapi titik nadir dari revolusi metodenya tertuang dalam karya monumentalnya, Discours de la méthode (Risalah tentang Metode). Karya ini ditulis langsung dalam bahasa Prancis, bukan bahasa Latin akademis agar dapat diakses oleh rasio murni masyarakat awam.

Penggunaan terminologi "diskursus" (discours) memiliki bobot filosofis tersendiri. Descartes tidak sedang berkhotbah mendiktekan teori-teori metodologi yang kaku, tapi melakukan diskusi atas ziarah intelektualnya sendiri.

Dengan sikap rendah hati, ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kapasitas otak istimewa, kemampuannya tergolong biasa saja.

Keunggulannya semata-mata terletak pada kesetiaannya meniti sebuah metode penalaran secara disiplin, yang memungkinkannya memupuk pengetahuan sedikit demi sedikit hingga mencapai aras pemikiran yang tinggi.

Descartes tetap membuka ruang skeptisisme untuk dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa bisa jadi apa yang ia sangka emas dan intan ternyata hanyalah tembagan dan kaca belaka, karena manusia sangat rentan terbuai oleh penilaian diri yang sesat maupun pujian kawan.

Dalam Discours de la méthode, Descartes memformulasi metode sebagai langkah-langkah prosedural yang simplistik, akurat, dan dapat dilakukan oleh siapa saja untuk menghindari kesesatan berpikir. Metodologi Cartesian ini ditopang oleh four rules of Cartesian method:

  1. Kaidah Pertama (Evidensi Jelas dan Terpilah / Clara et Distincta). Tidak menerima apa pun sebagai kebenaran kecuali bila pikiran menyadarinya secara begitu gamblang dan eksplisit hingga tidak ada lagi keraguan sedikit pun yang tersisa. Hal ini menuntut penghindaran total terhadap ketergesaan (precipitation) dan prasangka (preconception), serta hanya menyertakan hal-hal yang mengemuka secara clara et distincta (jelas dan terpilah) dalam akal budi.

  2. Kaidah Kedua (Analisis Dekonstruktif). Memilah-milah setiap kesulitan atau problematika kompleks yang sementara diteliti menjadi bagian-bagian kecil sebanyak mungkin, sejauh yang diperlukan, guna mempermudah pemecahannya secara parsial.

  3. Kaidah Ketiga (Sintesis Hirarkis). Berpikir secara runtut dan teratur dengan bertolak dari objek-objek yang paling sederhana dan paling mudah dikenali, untuk kemudian naik secara gradual, langkah demi langkah, menuju pengetahuan yang paling rumit, sembari mengandaikan adanya keteraturan struktural bahkan pada objek-objek yang tampak acak secara alamiah.

  4. Kaidah Keempat (Enumerasi Komprehensif). Membuat perincian selengkap mungkin dan melakukan peninjauan kembali secara menyeluruh pada seluruh proses, guna memastikan bahwa tidak ada satu pun elemen atau variabel yang terabaikan.

Keempat kaidah ini diadopsi Descartes dari kepastian metode analitis dalam geometri analitika, sebuah cabang matematika yang ia kembangkan sendiri dengan mengompilasi aljabar dan geometri, berbeda dari geometri sintetis Euklides yang kaku berpijak pada aksioma-aksioma konvensional.

Memasuki ranah epistemologi, Descartes melakukan demarkasi pengetahuan manusia ke dalam dua kategori hierarkis, yakni scientia dan convictio. Scientia merupakan pengetahuan ilmiah sejati yang bersifat sistematis dan memiliki kepastian mutlak karena terkonstruksi di atas fondasi yang tidak dapat diragukan lagi oleh argumen apa pun.

Sebaliknya, convictio hanyalah keyakinan subjektif yang terformasi oleh alasan-alasan yang masih dapat diperdebatkan dan digoyahkan.

Posisi epistemologis Descartes ini memperkuat posisinya sebagai penganut fondasionalisme epistemik, yakni pandangan bahwa seluruh bangunan pengetahuan manusia mesti berakar pada satu titik fondasi kebenaran mutlak yang bersifat internal dalam akal budi (internalism).

Untuk mencapai titik fondasi scientia, Descartes mengoperasikan instrumen yang brgitu radikal, yaitu Kesangsian Metodis (Methodological Doubt). Berbeda dari kaum skeptik Yunani yang meragukan segala sesuatu demi mencapai ketidakpedulian jiwa (ataraxia).

Keraguan Descartes bersifat metodis, sebuah alat sistematis untuk mendestruksikan kebenaran semu guna bersua pada satu kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi.

Dalam karya utamanya, Meditationes de Prima Philosophia (Meditasi tentang Filsafat Pertama), proses dekonstruksi ini terbagi ke dalam tataran-tataran meditasi: Dalam Meditasi Pertama, Descartes meragukan seluruh data yang didapat melalui panca indera. Indera manusia terbukti sering menipu.

Sebagai contoh, sebuah sendok lurus akan tampak bengkok saat dicelupkan ke dalam gelas berisi air bening, dan fenomena fatamorgana di jalan tol yang panas dapat merekayasa keberadaan air di kejauhan.

Lebih jauh lagi, Descartes mengajukan Argumen Mimpi (Dream Argument), bahwa tidak ada tanda-tanda pasti yang membedakan secara tegas antara pengalaman saat terjaga dan saat bermimpi. Seseorang bisa saja bermimpi sedang duduk di dekat perapian mengenakan pakaian kebesaran, padahal jasadnya sedang terbaring telanjang di atas tempat tidur.

Puncak radikalisme keraguan ini dicapai tatkala Descartes mengandaikan keberadaan sesosok "Setan Jahat yang Maha Kuasa dan Licik" (Malicious Demon / Genium Malignum) yang menyerahkan seluruh dayanya untuk memperdaya akal budi manusia, bahkan dalam hal-hal matematika mendasar seperti pembuktian bahwa dua tambah tiga sama dengan lima.

Memasuki Meditasi Kedua, Descartes mendeskripsikan kondisi psikologis-epistemologisnya yang berada dalam kekacauan hebat. Ia merasa terlempar ke dalam pusaran air yang dalam, di mana kakinya tidak sanggup menapak dasar tapi jiwanya juga tidak sanggup menyembul ke permukaan.

Namun, di tengah kegelapan keraguan yang ekstrem ini, memancar sebuah titik terang yang tidak sanggup digoyahkan oleh Setan Jahat sekalipun.

Tatkala ia meragukan segala sesuatu, baik itu meragukan keberadaan langit, bumi, badan, dan indera, satu hal yang tidak dapat diragukan adalah realitas bahwa ia sedang meragukan.

Meragukan menjadi sebuah tindakan berpikir. Jikalau Setan Jahat menipunya secara terus-menerus, maka tindakan tertipu itu sendiri mengandaikan keberadaan subjek yang berpikir.

Dari sinilah lahir diktum legendaris, "Cogito, ergo sum" (dalam versi Prancis, "Je pense, donc je suis"; dalam Meditasi Kedua diformulasikan ulang secara eksistensial sebagai "Ego sum, ego existo," "Aku ada, aku bereksistensi").

Formulasi ini menjadi prinsip awal dari seluruh bangunan filsafat modern. Keberadaan aku yang berpikir merupakan kepastian intuitif langsung. Dalam epistemologi Cartesian, terdapat dua jalan menuju kepastian pengetahuan, diantaranya intuisi dan deduksi.

Intuisi bukan diartikan sebagai firasat mistis, tapi penangkapan mental yang begitu jernih, terpilah, dan langsung oleh akal budi yang murni tanpa keterlibatan indera maupun imajinasi (contohnya intuisi langsung bahwa aku ada, atau bahwa segitiga dibatasi oleh tiga sisi).

Dari proposisi intuitif yang tak tergoyahkan ini (cogito), akal budi lalu melakukan deduksi, artinya penarikan konklusi secara niscaya atas kebenaran-kebenaran berikutnya. Penanda kebenaran (criterion of truth) bagi Descartes diikat oleh kriteria Clara et Distincta.

  1. Jelas (Clara), adalah persepsi yang hadir dan terpampang secara terang benderang di hadapan akal budi yang memperhatikan, sebagaimana objek visual terlihat jelas oleh mata yang sehat.

  2. Terpilah (Distincta), merupakan persepsi yang sedemikian tajam dan terpisah dari objek lain, sehingga hanya mengandung apa yang benar-benar jelas. Descartes memberi ilustrasi, seseorang yang merasakan rasa sakit hebat pada tangannya memiliki persepsi yang jelas akan rasa sakit itu, namun persepsinya belum tentu terpilah bila ia tidak sanggup memisahkan antara batas objektif lokasi rasa sakit fisik dengan prasangka psikologis yang menganggap seluruh badannya terganggu.

Lewat analisis cogito, Descartes sekaligus menjawab pertanyaan ontologis mengenai "Apakah aku ini?": Aku adalah sebuah Res Cogitans, substansi yang berpikir, kesadaran murni yang imaterial, yang esensinya semata-mata berpikir dan untuk ada sama sekali tidak membutuhkan ruang material atau bergantung pada badan fisiknya.

Dari titik berpijak res cogitans, Descartes melakukan kontinuitas rekonstruksi metafisiknya untuk memulihkan kepastian dunia luar. Ontologi Cartesian membagi realitas ke dalam dua substansi ciptaan yang terpisah secara radikal (Dualisme Cartesian),

  • Res Cogitans (Substansi Berpikir), yang bersifat imaterial, tidak berdimensi ruang, tidak berbobot, dan tidak terikat pada hukum-hukum mekanis alam.

  • Res Extensa (Substansi Keluasan), menjadi realitas material yang memiliki karakteristik dimensi ruang (panjang, lebar, tinggi, tebal), dapat diukur, bergerak, dan sepenuhnya tunduk pada hukum-hukum mekanis. Seluruh alam semesta fisik, benda-benda mati, hingga tubuh manusia serta hewan masuk ke dalam kategori res extensa.

Namun, bagaimana res cogitans dapat meyakini bahwa persepsinya mengenai keberadaan res extensa (dunia luar dan tubuhnya sendiri) bukanlah ilusi hasil rekayasa Setan Jahat?

Nah pertanyaan ini senpat menetap dalam nalar saya. Akan tetapi di sinilah Descartes mengintegrasikan metafisika teologis ke dalam epistemologinya.

Dalam Meditasi Ketiga dan Keempat, Descartes mengukuhkan argumentasinya bahwa akal budinya memiliki ide-ide bawaan (innate ideas / ideae innatae) yang tidak bersumber dari pengalaman indrawi maupun bentukan imajinasi.

Tiga ide bawaan utama tersebut meliputi, Ide tentang Substansi Kesadaran (Aku yang berpikir), Ide tentang Keluasan Material (Res Extensa), Ide tentang Allah yang Maha Sempurna dan Maha Baik.

Descartes membuktikan eksistensi Allah melalui argumen ontologis, bahwa manusia sebagai makhluk yang terbatas dan tidak sempurna memiliki ide konseptual mengenai "Wujud yang Maha Sempurna".

Ide tentang kesempurnaan mutlak ini tidak mungkin dihasilkan oleh manusia yang tidak sempurna, dan tidak mungkin berasal dari ketiadaan. Maka, ide tersebut harus ditanamkan secara bawaan ke dalam akal budi manusia oleh Sang Wujud Sempurna itu sendiri, yakni Allah.

Karena Allah bersifat Maha Sempurna, maka Allah secara niscaya bersifat Maha Baik (God is not a deceiver). Sifat Allah yang Maha Baik membatalkan hipotesis Setan Jahat dan menjamin bahwa kriteria kebenaran clara et distincta yang ditangkap oleh nalar manusia adalah valid secara objektif.

Dengan jaminan kebaikan Illahi ini, keberadaan dunia fisik (res extensa) di luar pikiran memperoleh legitimasi ontologisnya. Metafora "Pohon Pengetahuan Cartesian" menggambarkan arsitektur sistem ini secara utuh.

Akar dari pohon pengetahuan adalah metafisika (filsafat teologis tentang kesadaran dan Allah), batang utamanya menjadi fisika (filsafat alam), sementara cabang-cabangnya merupakan ilmu-ilmu praktis seperti mekanika, kedokteran, dan etika.

Pohon ini berdiri melintasi dua era, akarnya masih menghisap tradisi teologi skolastik abad pertengahan, sementara batang dan cabangnya menjulang menyongsong alam pemikiran sains modern. Berlandaskan konsep res extensa, Descartes membangun mechanistic philosophy.

Menurutnya, seluruh alam materi, termasuk tumbuh-tumbuhan, hewan, dan tubuh fisik manusia, tidak lain merupakan mesin raksasa yang beroperasi semata-mata berdasarkan dinamika materi dan gerak (matter and motion).

Dalam kosmologi Cartesian, tidak ada lagi ruang bagi "jiwa vegetatif" atau "jiwa sensitif" versi Aristotelian, dimana seluruh fenomena alamiah terjadi akibat interaksi fisik dorong-menyorong antar materi.

Pandangan mekanistis ini diadopsi dan disempurnakan secara matematik oleh Sir Isaac Newton lewat perumusan tiga hukum gerak dan kalkulus.

Kendati Newton menolak beberapa aspek fisika Cartesian dan memperkenalkan konsep gaya gravitasi non-mekanis (aksi jarak jauh / action-at-a-distance), formulasi Newtonian berhasil memetamorfosiskan filsafat mekanis menjadi paradigma determinisme mekanistis.

Puncak dari visi mekanistis-deterministis ini tercapai dalam konsepsi Pierre-Simon Laplace tentang Laplace's Demon, sebuah kecerdasan hipotetis yang, bila mengetahui seluruh posisi dan momentum setiap zarah di alam semesta pada saat ini, akan sanggup mengkalkulasi masa lalu dan masa depan secara presisi tanpa ada satu pun ketidakpastian yang tersisa.

Akan tetapi, dualisme radikal Cartesian menyisakan problematika krusial yang merongrong pikiran saya. Bagaimana substansi yang imaterial (res cogitans) dapat berinteraksi dan menggerakkan substansi material (res extensa)? Bagaimana keputusan mental untuk menulis sanggup menggerakkan jemari fisik di atas kertas?

Atas desakan kritis dari Putri Elizabeth dari Bohemia melalui surat-menyurat mereka, Descartes berupaya menjawab persoalan psiko-fisik ini dalam karya terakhirnya, Les Passions de l'âme (Hasrat-Hasrat Jiwa).

Descartes mengajukan hipotesis neuro-fisiologis bahwa titik temu atau interaksi antara jiwa dan badan terletak pada sebuah kelenjar kecil di dasar otak yang disebut glandula pinealis (pineal gland).

Namun, solusi ini dianggap gagal menyelesaikan kontradiksi ontologis, sebab memasukkan organ material (glandula pinealis) sebagai jembatan bagi jiwa imaterial justru merusak konsistensi dualismenya sendiri.

Filsuf abad ke-20, Gilbert Ryle, menyerang habis-habisan dualisme ini dalam karyanya The Concept of Mind, dengan menyindir formulasi Cartesian sebagai dogma The Ghost in the Machine.

Impian Cartesian akan sebuah pengetahuan yang pasti, deterministik, dan berbasis rasionalisme murni akhirnya menemui batas-batas historisnya seiring dengan melesatnya kemajuan sains itu sendiri.

Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, wacana fisika klasik yang terkonstruksi di atas fondasi determinisme Newtonian-Cartesian runtuh akibat hadirnya Fisika Kuantum dan Teori Relativitas.

Di alam mikroskopis (dunia atom dan sub-atom), hukum-hukum determinisme mekanistis tidak lagi berlaku. Cahaya dan zarah sub-atomik menunjukan sifat Dualisme Gelombang-Partikel, dimana fenomena fisik dapat berperilaku sebagai zarah atau gelombang, tergantung pada jenis perangkat pengamatan yang dioperasikan oleh peneliti.

Heisenberg Uncertainty Principle membuktikan secara matematis bahwa posisi dan momentum suatu zarah (seperti elektron) tidak dapat ditakar secara simultan dengan kepastian mutlak. Sebelum observasi dilakukan, zarah tidak berada di satu posisi pasti, melainkan tersebar dalam probability density. Kepastian baru muncul seketika dikala tindakan pengukuran meruntuhkan fungsi gelombang tersebut.

Perdebatan sengit antara Albert Einstein sebagao penganut teguh determinisme alam yang meyakini bahwa "Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan alam semesta" dan Niels Bohr, sebagai eksponen Mazhab Copenhagen yang menekankan sifat probabilistik realitas kuantum, menandai peralihan paradigma ini.

Kejengkelan Bohr atas ketegaran Einstein terungkap dalam pernyataannya yang terkenal, "Einstein, berhentilah memerintahkan Tuhan tentang apa yang harus Ia perbuat!". Keruntuhan klaim kepastian murni ini memunculkan keinsafan epistemologis baru.

Pertama, Keterbatasan Pengetahuan Aksiomatis. Descartes sendiri di akhir hayatnya menyadari bahwa rasionalisme deduktif melulu tidak memadai untuk mengeksplanasikan sains. Alam semesta terlampau rumit dan dipenuhi oleh keanekaragaman fenomena yang tidak dapat diturunkan semata-mata dari tiga ide bawaan.

Descartes akhirnya mengakui perlunya pengamatan empiris dan eksperimentasi untuk memilah-milah penyabab faktual dari fenomena alam.

Kedua, Tesis Duhem-Quine (Underdetermination of Theory by Data). Pierre Duhem, seorang fisikawan dan filsuf sains, memperlihatkan bahwa sehimpunan data empiris yang sama dapat diejawantahkan oleh beberapa hipotesis atau teori yang berbeda secara logis.

Tidak ada eksperimen krusial (experimentum crucis) yang sanggup mengisolasi satu-satunya teori yang benar secara absolut. Dalam ilmu kemanusiaan dan psikologi, fenomena perilaku yang sama dapat dijelaskan secara berimbang melalui Psikoanalisis Sigmund Freud, Psikologi Analitis Carl Jung, maupun pendekatan behavioristik.

Perlu saya cantumkan juga disini, sebagaimana ditegaskan oleh Karl Popper lewat prinsip falsifikasi, kebenaran sains tidak bersifat absolut dan abadi, tapi tentatif (provisional). Sains berkembang tidak dengan menumpuk kepastian mutlak Cartesian, tapi melalui koreksi terus-menerus atas kekeliruan.

Teori-teori besar seperti Mekanika Newton tidak dibatalkan secara total, melainkan dibatasi ranah keberlakuannya sebagai kasus khusus di dalam bingkai Teori Relativitas dan Fisika Kuantum.

Setiap kali sains menyibak satu tabir alam, alam justru membentangkan lapisan-lapisan baru yang misterius. Limitasi rasionalisme Cartesian dalam merengkuh keutuhan eksistensi manusia disimpulkan secara puitis dan mendalam oleh fisikawan-matematikawan Prancis, Henri Poincaré (yang saya dirujuk sebagai Ong Ripongkara):

"Sains kontemporer mengajarkan kepada kita bahwa ada batas bagi kepastian pengetahuan manusia dan kebenaran yang dapat ia capai.

Persis karena itu, kebenaran terkadang membuat kita takut, bagai hantu yang tidak pernah menunjukkan dirinya kecuali secara sekelebat, dan kemudian mengalihkan diri, dan perlu terus dikejar, makin jauh, makin jauh, tanpa pernah dicapai."

Pertanyaan yang kerap berkelindan dalam pikiran saya tentang apakah Descartes mengartikan bahwa manusia hidup semata-mata karena aktivitas berpikirnya, dijawab dengan clarification filosofis yang menegaskan bahwa Descartes tidak menafikan kebutuhan material-tubuh bagi kehidupan fisik manusia.

Namun, Descartes mau menegaskan bahwa hal yang paling pasti dan tidak dapat diragukan dari eksistensi manusia adalah keberadaannya sebagai substansi imaterial yang berpikir.

Dalam horizon neuroscience modern, perdebatan ini mengejawantah dalam mind-brain problem, kendati neuroscience mampu menunjukan bahwa aktivitas spasial-kimiawi otak berkorelasi dengan proses mental, materi fisik otak itu sendiri tidak dapat mereduksi esensi pikiran yang imaterial.

Pengalaman subjektif mental (qualia) tidak sanggup ditangkap secara penuh oleh rekaman sinyal fisik. Descartes mendikotomi jiwa dan badan secara tegas juga untuk memenuhi doktrin religius mengenai keabadian jiwa (immortality of the soul), bahwa tatkala jasad mengalami pembusukan material, jiwa tetap eksis secara abadi karena tidak terikat pada res extensa.

Nah, berkaitan dengan perbedaan filsafat mekanis Descartes dan determinisme Newton, terletak pada formulasi matematis dan variabel fisika.

Mekanika Cartesian bersifat kualitatif-kinematik, memandang alam semesta sebatas benturan kontak langsung antar-materi dan gerak. Newton melengkapi kekurangan ini dengan mengintroduksi bidang dinamika lewat variabel gaya (force), khususnya gaya gravitasi.

Formulasi persamaan diferensial Newton membuka posibilitas bagi manusia untuk mengkalkulasi secara presisi posisi dan pergerakan benda-benda langit, seperti orbit planet, pada seribu tahun yang lalu maupun seribu tahun yang akan datang.

Determinisme Newtonian lahir dari ketepatan matematis formulasi dinamika ini. Tentang apakah "Aku"-nya Descartes bersifat abadi dan identik dengan "Aku"-nya manusia lain perlu saya utarakan juga bahwa filsafat Cartesian berisiko terjebak ke dalam Solipsisme, pandangan bahwa satu-satunya hal yang pasti ada adalah pikiran diri sendiri.

Sementara eksistensi pikiran orang lain senantiasa dapat diragukan. Dalam philosophy of mind kontemporer, Thomas Nagel mengangkat problem ini melalui risalah terkenalnya What Is It Like to Be a Bat?.

Nagel mempertehas dengan analogi bahwa setinggi apa pun pengetahuan ilmiah seseorang tentang fisiologi dan sistem sonar kelelawar, ia tidak akan pernah bisa merasakan secara persis bagaimana rasanya secara subjektif menjadi seekor kelelawar.

Kesadaran fenomenal (qualia) bersifat subjektif mutlak. Kita tidak dapat membuktikan secara mutlak bahwa pengalaman batiniah orang lain identik dengan pengalaman kita, kendati kita berbagi kriteria kebahasaan dan sosial yang sama untuk menjembatani jurang solipsistik tersebut.

Damasio menyanggah dualisme Cartesian dengan membuktikan bahwa proses kognitif bernalar tidak pernah terpisah dari emosi dan kebertubuhan fisik. Saraf tulang belakang dan reaksi visceral (gut feeling) turut menentukan keputus-keputusan rasional.

Dalam konteks filsafat, phenomenology Maurice Merleau-Ponty menawarkan rekonsiliasi yang lebih tepat ketimbang Descartes, bahwa manusia tidak "memiliki" tubuh sebagai mesin yang terpisah, tapi manusia "adalah" tubuh-berkesadaran (embodied consciousness).

Mengenai isu artificial intelligence yang sempat saya eksplanasikan dalam beberapa risalah belakangan, kuriositas tentang apakah sistem komputasi dapat memproklamasikan cogito ergo sum tetap menjadi tantangan radikal bagi epistemologi modern.

Sejauh paparan ini, anda mungkin masih bertanya, tapi dari manakah asal-usul think (cogito). Menurut saya kemampuan berpikir tentang berpikir (metakognisi) lahir dari perasaan tidak puas dan kesangsian radikal terhadap kebenaran doktrinal yang diterimanya.

Keraguan itulah yang memantik kesadaran bahwa "meragukan" adalah aksi berpikir yang tak terbantahkan. Sebagaimana tertulis dalam pembuka Discours de la méthode, Descartes menyatakan bahwa akal sehat (common sense / le bon sens) merupakan hal yang paling merata dibagikan kepada seluruh manusia, namun penggunaannya membutuhkan metode yang teratur.

Mengenai dimensi etika yang ditanyakan, Descartes memang tidak sempat menyelesaikan sistem etika komprehensifnya. Baginya, etika adalah buah paling akhir dari pohon pengetahuan yang baru bisa dipetik setelah metafisika dan fisika terbangun secara kokoh.

Untuk menjawab keraguan yang bersemayam dalam diri saya juga mengenai apakah cogito justru mengarahkan Tuhan sebagai sebatas proyeksi kerinduan idealis manusia (sebagaimana kelak diajukan oleh Ludwig Feuerbach, Karl Marx, atau Richard Dawkins).

Ternyata ditegaskan bahwa posisi ontologis Descartes berseberangan secara fundamental dengan skeptisisme-ateistik tersebut. Bagi Feuerbach dan Marx, Tuhan merupakan abstraksi dari proyeksi keputusasaan manusia di tengah penderitaan material, bagi Dawkins,

Tuhan adalah delusi kognitif. Sebaliknya, Descartes bertolak dari posisi teisme rasional, yakni keberadaan ide tentang "Wujud Yang Maha Sempurna" dalam pikiran manusia yang terbatas adalah bukti ontologis bawaan (innate) bahwa Allah benar-benar ada secara riil.

Tanpa Allah yang Maha Baik sebagai penjamin epistemik, seluruh persepsi manusia akan rentan menjadi ilusi perdayaan Setan Jahat.