Konten dari Pengguna

Virus Andes dan Hub Eropa: Mengapa Indonesia Tak bisa Sekadar jadi Penonton?

Annisa Mareta Putri

Annisa Mareta Putri

Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Mareta Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Posisi Eropa sebagai hub transit internasional menuntut kewaspadaan keamanan kesehatan yang lebih ketat bagi Indonesia. Sumber: Unplash
zoom-in-whitePerbesar
Posisi Eropa sebagai hub transit internasional menuntut kewaspadaan keamanan kesehatan yang lebih ketat bagi Indonesia. Sumber: Unplash

Baru-baru ini, laporan WHO terkait wabah Virus Andes di kapal pesiar MV Hondius menunjukkan adanya risiko kesehatan global yang perlu disikapi dengan serius. Respons negara-negara di Eropa seperti Inggris mewajibkan karantina bagi warga negaranya yang baru kembali dari kapal MV Hondius hingga 45 hari. Kebijakan ini diambil karena masa inkubasi virus yang panjang dan kemampuan varian Andes untuk menular antarmanusia adalah risiko yang berbeda dengan varian Hantavirus pada umumnya.

Bagi Indonesia, kondisi ini memberikan dampak geopolitik pada sektor kesehatan. Di mana Eropa yang merupakan hub transit utama penerbangan internasional, sehingga penumpang dari wilayah Amerika Selatan biasanya melewati Madrid, Zuricb, atau Amsterdam sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi yang terpapar risiko importasi virus ini melalui jalur udara, karena dengan tingginya mobilitas manusia di hub-hub tersebut menjadikan isu kesehatan di belahan dunia lain bisa sampai ke pintu masuk negara dalam waktu singkat.

Kementerian Kesehatan telah menunjukkan sikap dalam merespons dan mengantisipasi kasus ini dengan meningkatkan surveilans di bandara dan pelabuhan internasional, serta berkoordinasi dengan WHO untuk memantau potensi masuknya kasus.

Berdasarkan data hingga Mei 2026, Indonesia telah mendeteksi 23 kasus Hantavirus di 9 provinsi. Namun, penting untuk dicatat bahwa kasus di dalam negeri saat ini didominasi oleh jenis Seoul Virus yang menular melalui hewat pengerat seperti tikus, bukan antarmanusia seperti Varian Andes.

Upaya pemerintah dalam menekankan strategu One Health seperti pengendalian populasi tikus dan sanitasi lingkungan sudah teoat untuk menangani risiko lokal. Namun, tantangan menghadapi virus dengan varian Andes memerlukan kewaspadaan yang lebih spesifik pada pemeriksaan riwayat perjalanan penumpang internasional. Edukasi masyarakat mengenai kebersihan rumah, termasuk bagaimana cara menangani kontaminasi tikus tetap menjadi fondasi penting supaya sistem kesehatan di Indonesia tidak terbebani jika kasus zoonosis ini melonjak.

Kesigapan pemerintah dalam memperketat pengawasan di pintu masuk negara merupakan langkah yang proaktif dan patut untuk diapresiasi. Kita tidak perlu panik, tetapi kewaspadaan terhadap dinamika mobilitas di hub internasional seperti Eropa tidak bisa diabaikan begitu saja. Keamanan kesehatan nasional saat ini bergantung pada bagaimana integrasi antara pengawasan perbatasan yang ketat dan kesiapan diagnosa fasilitas kesehatan.