Wagub DKI Pimpin Upacara Hardiknas: Tak Boleh Ada Anak Tertinggal karena Keadaan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat menjadi inspektur upacara Hari Pendidikan Nasional di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat menjadi inspektur upacara Hari Pendidikan Nasional di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5).

Upacara diikuti oleh ASN Pemprov DKI Jakarta dan sejumlah guru serta siswa sekolah. Turut hadir pula Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.

Rano menegaskan, pendidikan harus menjadi hak yang dapat dirasakan semua anak, tanpa terhalang berbagai kondisi.

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta percaya bahwa tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena keadaan. Tidak boleh ada mimpi yang terkunci hanya karena persoalan biaya, ijazah, akses, atau bencana,” kata Rano saat menjadi inspektur upacara.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Pendidikan harus menjadi jembatan, bukan tembok. Pendidikan harus menjadi pintu, bukan pagar,” lanjutnya.

Ia menyampaikan, peringatan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi bersama tentang pentingnya pendidikan sebagai fondasi masa depan bangsa.

“Hari ini kita berdiri di bawah langit Jakarta, dalam satu upacara yang bukan sekadar seremoni. Hari Pendidikan Nasional bukan hanya tanggal yang kita peringati setiap tahun. Ia adalah lonceng kesadaran, ia adalah panggilan moral,” kata Rano.

Suasana upacara Hari Pendidikan Nasional di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Ia mengingatkan kita bahwa masa depan sebuah bangsa tidak semata-mata dibangun oleh gedung-gedung tinggi, jalan-jalan besar, atau pusat ekonomi yang megah, tetapi oleh ruang kelas yang menyala, oleh guru-guru yang tidak lelah menuntun, dan oleh anak-anak yang berani bermimpi,” sambungnya.

Dalam pidatonya, Rano juga menyinggung pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menjadi dasar filosofi pendidikan nasional. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter.

“Pendidikan adalah jalan panjang untuk memerdekakan manusia. Itulah roh besar yang diwariskan Ki Hajar Dewantara. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari buku ke kepala, tetapi menyalakan budi pekerti, membentuk watak, menumbuhkan keberanian, dan memuliakan martabat manusia,” tuturnya.

Suasana upacara Hari Pendidikan Nasional di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Ia juga mengingatkan kembali filosofi pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman bagi para pendidik.

“Ki Hajar Dewantara meninggalkan pesan yang terus hidup dalam denyut pendidikan kita: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan, seorang pendidik memberi teladan; di tengah, ia membangun semangat; di belakang, ia memberi dorongan. Inilah filosofi yang hari ini harus terus kita hidupkan di Jakarta,” ucapnya.

Rano turut menyampaikan apresiasi kepada para guru yang dinilainya memiliki peran besar dalam membangun masa depan generasi muda.

“Kepada guru-guru, izinkan kami menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya. Bapak dan Ibu bukan hanya pengajar, Bapak dan Ibu adalah penjaga api peradaban. Dalam tangan Bapak dan Ibu, huruf-huruf menjadi harapan, angka-angka menjadi jalan keluar, pelajaran menjadi keberanian, nasihat menjadi bekal hidup,” katanya.

Ia juga menyoroti peran besar guru yang kerap tidak terlihat, namun berdampak nyata dalam kehidupan para murid.

“Mungkin dunia tidak selalu cukup cepat memberi penghargaan kepada guru. Mungkin tidak semua pengabdian guru tercatat dalam laporan. Tidak semua cerita kesabaran para guru masuk dalam berita,” ungkap Rano.

“Tetapi percayalah, setiap anak yang berhasil bangkit, setiap murid yang menemukan arah hidup, setiap keluarga yang masa depannya berubah karena pendidikan, di sanalah ada jejak sunyi seorang guru,” sambungnya.

Rano kemudian berpesan kepada para pelajar agar terus bersemangat dalam menempuh pendidikan dan tidak menjadikan kondisi sebagai penghalang untuk meraih masa depan.

“Kepada anak-anakku, para pelajar Jakarta yang saya cintai, ingatlah, kalian bukan hanya sedang mengejar nilai, kalian sedang membangun diri, kalian sedang menyiapkan masa depan. Jangan pernah merasa bahwa keadaan hari ini adalah batas akhir dari hidup kalian,” ucap Rano.

“Pendidikan hadir justru untuk membuka jalan ketika jalan terasa tertutup. Pendidikan hadir untuk memberi cahaya ketika hidup terasa gelap. Pendidikan hadir untuk mengatakan kepada setiap anak: engkau berhak bermimpi, engkau berhak maju, engkau berhak sampai,” tutupnya.