Waka MPR soal 9 WNI Dibebaskan Israel: Diplomasi Pemerintah Cepat dan Jitu
·waktu baca 3 menit

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengapresiasi langkah pemerintah dalam pembebasan sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang sempat ditahan Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza.
Eddy menyebut diplomasi yang dilakukan pemerintah berjalan cepat dan tepat hingga para WNI kini dalam kondisi aman dan bersiap dipulangkan ke Indonesia.
“Ya, pertama kami mensyukuri ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa saudara-saudara kita yang tadinya ditahan oleh Israel bisa bebas, sekarang sudah dalam persiapan untuk kembali ke tanah air. Jadi, kami mengucap syukur bahwa kondisi mereka dalam keadaan baik, sehat, dan dalam persiapan ke tanah air,” kata Eddy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (22/5).
Ia kemudian menyampaikan penghargaan kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Luar Negeri Sugiono, serta seluruh jajaran diplomasi Indonesia yang dinilai berhasil melakukan upaya pembebasan dengan cepat dan jitu.
“Kedua, kami juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Presiden Prabowo, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan seluruh jajaran diplomasi kita yang secara cepat dan jitu berhasil melaksanakan diplomasi untuk membebaskan saudara-saudara kita yang ada di Israel,” ujarnya.
Eddy juga mengecam tindakan Israel yang menahan para relawan kemanusiaan tersebut. Menurutnya, tindakan itu melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia.
“Ketiga, kami mengecam aksi yang dilakukan oleh pemerintah Israel dalam menahan mereka-mereka yang bergerak untuk misi kemanusiaan di Gaza. Jadi, menurut saya, itu melanggar hukum internasional dan tentu itu melanggar hak asasi, sehingga memang itu perlu dikecam tindakannya,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang ingin mengikuti misi kemanusiaan serupa agar memperhitungkan risiko secara matang. Eddy menilai pengalaman penahanan para relawan di Israel harus menjadi perhatian agar kejadian serupa tidak berujung lebih fatal.
“Berikutnya juga saya perlu sampaikan kepada saudara-saudara kita yang lain yang ingin melaksanakan aksi kemanusiaan serupa, perlu dipertimbangkan matang-matang risiko yang akan dihadapi. Karena kita sudah melihat ada pengalaman demikian, jangan sampai nanti menghadapi risiko yang justru lebih besar dan bisa mungkin berakibat fatal ya,” kata Eddy.
“Nah, oleh karena itu, kami titip kepada teman-teman yang ingin melaksanakan misi-misi kemanusiaan ke depannya untuk betul-betul mempertimbangkan risikonya demikian,” sambungnya.
Sebelumnya, sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang sempat ditahan Israel kini telah dibebaskan. Saat ini, para relawan sudah berada di Turki.
Sembilan WNI itu ditangkap Israel saat berada dalam misi kemanusiaan menuju Gaza.
“Untuk waktu kepulangan ke tanah air masih menunggu proses di Istanbul, yang pasti akan segera dipulangkan setelah prosesnya selesai,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Henny Hamidah, Kamis (21/5).
Terpisah, Konsul Jenderal RI Istanbul, Darianto Harsono, menyebut WNI yang ditahan di Israel sempat mengalami tindakan kekerasan. Meski demikian semuanya dalam kondisi sehat.
“Kami Konjen Republik Indonesia di Istanbul, alhamdulilah kami bersama 9 Saudara kita yang tergabung dalam misi GSF telah bersama kami dalam kondisi sehat walafiat. Walaupun mereka ada yang mengalami kekerasan fisik, ditendang, dipukul, disetrum,” kata Darianto.
Aksi kekerasan terhadap WNI di Israel dikecam keras Menlu Sugiono. Dia menegaskan tindakan Israel berlawanan dengan kemanusiaan internasional.
“Indonesia kembali menekankan bahwa segala bentuk tindakan yang tidak manusiawi terhadap relawan Global Sumud Flotilla oleh militer Israel merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan,” kata Sugiono.
