Warga Setuju Tarif Transjakarta Naik: Perbanyak Armada dan Jalur Makin Steril

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Potret Halte Transjakarta Temporer 1 Manggarai di Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan saat beroperasi pada Rabu (6/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Potret Halte Transjakarta Temporer 1 Manggarai di Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan saat beroperasi pada Rabu (6/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Usulan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) terkait penyesuaian tarif layanan bus Transjakarta menjadi Rp 5.000 dari Rp 3.500 memicu berbagai reaksi dari penggunanya. Secara garis besar, warga menyatakan setuju dengan rencana kenaikan tersebut, asalkan benar-benar diimbangi dengan penambahan armada dan peningkatan fasilitas yang dirasakan langsung oleh penumpang.

Salah satu pengguna Transjakarta, Jefri (23), menganggap rencana kenaikan tarif menjadi Rp 5.000 masih dalam batas wajar mengingat tarif lama sudah bertahun-tahun tidak berubah.

Jefri menekankan bahwa kenaikan ini harus dibarengi dengan penambahan armada bus agar penumpang tidak perlu menunggu terlalu lama.

Sejumlah penumpang memadati Halte TransJakarta Bundaran HI, Jakarta, Minggu (22/3/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

“Menurut saya, kalau kenaikan harga cuma Rp 5.000 itu masih wajar, apalagi kalau misalkan armada busnya diperbanyak biar penumpang tidak perlu nunggu lama, itu keluhan saya, menurut saya justru itu bagus,” kata Jefri saat ditemui di halte Blok-M.

Pengguna lainnya, Sifa (30), juga mengaku bersedia membayar lebih mahal jika pemerintah bisa memastikan jalur khusus bus (busway) bebas dari kemacetan dan kendaraan pribadi.

"Jadi menurut aku dengan harga Rp 5.000 kemarin, terus kalau misalkan harganya naik, dibarengi dengan fasilitas supaya nggak macet lagi, menurut aku oke,” ucap Sifa.

Ilustrasi bus listrik Transjakarta yang dioperasikan DAMRI. Foto: DAMRI

Tuntutan terkait peningkatan kelengkapan dan kebersihan fasilitas halte juga disuarakan oleh Alberto (23) dan Tiwi (22).

Alberto berharap kenaikan tarif dialokasikan untuk menyediakan air minum dan colokan pengisi daya (charger) di halte, sementara Tiwi menyoroti pentingnya kebersihan toilet serta keramahan staf di lapangan.

"Misalnya di halte, mungkin di setiap halte bisa disediakan air putih, yaitu seperti di beberapa halte sudah ada tapi belum semuanya ada, mungkin seperti itu. Ataupun seperti charger, tempat charger seperti itu," sebut Alberto.

"Dan kalau menurut aku kalau di TJ itu yang perlu banget diperbaiki yaitu toiletnya, supaya terjaga kebersihanlah gitu. Terus yang perlu dikembangin menurut aku, buat stafnya, terkadang mereka jutek gitu, itu perlu diperbaiki juga," tambah Tiwi.

Di sisi lain, Stephanie (24) mendukung kenaikan tarif tersebut karena berharap armada bus listrik dapat terus diperbanyak operasionalnya.

Ia menilai keberadaan armada bus listrik membuat perjalanan jauh lebih nyaman karena tidak berisik serta membantu menekan angka polusi di Jakarta.

"Jadi harapan aku untuk bus listriknya ya diperbanyak aja sih seiring dengan kenaikan harga Transjakarta. Busnya kan enggak berisik ya, terus supaya juga Jakarta lebih bersih gitu, bebas polusi," ungkap Stephanie.

Sebelumnya, DTKJ mengusulkan penyederhanaan dan penyesuaian tarif untuk seluruh layanan Transjakarta di wilayah DKI Jakarta (gabungan BRT, non-BRT, dan Mikrotrans) menjadi satu tarif tunggal, yakni Rp 5.000. Sementara itu, untuk tarif layanan Transjabodetabek diusulkan naik menjadi Rp 10.000.

Ketua DTKJ, Sugihardjo, menegaskan bahwa usulan penyesuaian tarif tersebut memang harus selalu didorong dan diikuti dengan peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat. Lebih lanjut, penetapan satu tarif gabungan Rp 5.000 ini dinilai oleh DTKJ justru akan terasa lebih murah bagi para penumpang yang selama ini harus membayar berkali-kali karena berpindah layanan.