Whitehead, Tuhan, dan Jembatan antara Sains dan Agama (Bagian I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alfred North Whitehead adalah sosok yang langka. Ia matematikawan besar. Bersama Bertrand Russell ia menulis Principia Mathematica, salah satu karya logika paling ambisius dalam sejarah. Namun di usia enam puluhan, ketika kebanyakan orang bersiap pensiun, ia pindah ke Harvard dan menjadi filsuf. Di sanalah ia membangun sebuah sistem metafisika yang hingga kini terus diperbincangkan: filsafat proses.
Yang membuat Whitehead menarik bagi kita hari ini adalah posisinya yang unik. Ia berdiri di persimpangan sains dan agama. Ia memahami fisika modern dari dalam. Ia juga menolak menyingkirkan Tuhan dari gambaran dunia. Bagi Whitehead, sains dan agama adalah dua kekuatan terbesar yang membentuk peradaban manusia. Masa depan peradaban, tulisnya dalam Science and the Modern World (1925), bergantung pada bagaimana generasi ini menyelesaikan hubungan keduanya.
Kritik terhadap Materialisme Ilmiah
Whitehead memulai dengan sebuah diagnosis. Sains modern, katanya, dibangun di atas asumsi yang tidak pernah diuji: bahwa realitas tersusun dari materi mati yang bergerak dalam ruang dan waktu. Materi itu tidak punya tujuan, tidak punya nilai, tidak punya pengalaman. Ia hanya ada, dan bergerak menurut hukum mekanis.
Asumsi ini sangat berhasil selama dua abad. Fisika Newton berdiri di atasnya. Revolusi industri dibangun darinya. Namun Whitehead menyebutnya sebagai kekeliruan mendasar. Ia menamainya the fallacy of misplaced concreteness: kekeliruan menganggap abstraksi sebagai kenyataan konkret. Konsep "materi mati" adalah abstraksi yang berguna. Tetapi ia bukan realitas itu sendiri. Realitas yang kita alami setiap hari penuh dengan warna, rasa, tujuan, dan nilai. Ketika sains menyatakan semua itu ilusi subjektif, sains sedang mengorbankan pengalaman demi abstraksinya sendiri.
Ironisnya, revolusi fisika abad kedua puluh justru menyingkirkan hambatan utama bagi pandangan Whitehead. Relativitas dan kuantum tidak membuktikan metafisikanya, tetapi membuka jalan bagi gambaran alam sebagai peristiwa, bukan partikel pasif. Elektron bukan bola biliar kecil yang diam menunggu didorong; ia lebih menyerupai kejadian dalam jalinan medan yang saling terhubung. Whitehead sendiri bergulat serius dengan fisika zamannya, bahkan sempat mengajukan teori gravitasi alternatif terhadap Einstein. Ia bukan penonton yang menumpang kesimpulan, melainkan pemain yang ikut bertarung di dalamnya.
Realitas sebagai Proses
Dari sinilah Whitehead membangun tesis utamanya. Realitas bukan kumpulan benda, melainkan aliran peristiwa. Unit dasar alam semesta bukan atom materi, melainkan apa yang ia sebut actual occasions: denyut-denyut pengalaman yang muncul, mencapai kepenuhan, lalu lewat dan menjadi bahan bagi peristiwa berikutnya.
Dalam karya utamanya, Process and Reality (1929), Whitehead merumuskan ini dengan padat. Ada tidaklah mendahului menjadi. Justru menjadi itulah cara sesuatu ada. Sebuah batu tampak diam, tetapi pada tingkat terdalam ia adalah masyarakat peristiwa yang terus memperbarui diri. Demikian pula sel, tubuh, pikiran, dan galaksi. Semesta adalah proses kreatif yang tak pernah selesai.
Konsekuensinya radikal. Jika unit dasar realitas adalah pengalaman, maka jurang antara materi dan jiwa runtuh. Alam bukan mesin mati yang kebetulan menghasilkan makhluk sadar. Alam adalah kontinum pengalaman, dari yang paling samar pada partikel hingga yang paling kaya pada manusia. Pandangan ini kini dikenal sebagai panexperientialisme, dan ia kembali diperdebatkan serius dalam filsafat pikiran kontemporer.
Tuhan dalam Filsafat Proses
Lalu di mana Tuhan dalam gambaran ini? Di sinilah Whitehead memberikan sumbangan yang paling orisinal sekaligus paling diperdebatkan.
Bagi Whitehead, Tuhan bukan penguasa yang berdiri di luar alam dan sesekali campur tangan. Tuhan juga bukan pembuat jam yang menyalakan mesin semesta lalu pergi. Tuhan hadir dalam setiap peristiwa, di setiap saat, sebagai sumber kemungkinan dan tarikan menuju keindahan.
Whitehead membedakan dua kutub dalam kodrat Tuhan. Pertama, kodrat primordial. Ini adalah Tuhan sebagai gudang segala kemungkinan, sumber segala bentuk ideal yang bisa diwujudkan alam. Setiap peristiwa menerima dari Tuhan sebuah ajakan awal, sebuah arah menuju kemungkinan terbaiknya. Whitehead menyebut Tuhan sebagai prinsip pembatasan sekaligus prinsip kebaruan. Tanpa Tuhan, kreativitas semesta akan buta dan kacau.
Kedua, kodrat konsekuen. Ini sisi yang menyentuh. Tuhan tidak hanya memberi, tetapi juga menerima. Segala yang terjadi di dunia, setiap suka dan duka, terserap ke dalam kehidupan Tuhan dan tersimpan di sana selamanya. Tidak ada pengalaman yang hilang sia-sia. Dalam kalimat Whitehead yang terkenal, Tuhan adalah sahabat yang turut merasakan derita dan memahaminya.
Maka Tuhan Whitehead bekerja dengan persuasi, bukan paksaan. Ia tidak mendikte dunia, melainkan memikatnya menuju kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Kejahatan dan penderitaan menjadi bisa dipahami: dunia sungguh-sungguh bebas, dan kebebasan itu nyata karena Tuhan memilih mencintai, bukan mengendalikan. Namun harus jujur diakui, ini jawaban radikal yang membayar harga mahal. Tuhan Whitehead tidak mahakuasa dalam arti tradisional, melainkan mahapersuasif. Teolog klasik seperti Thomas Aquinas akan bertanya: jika Tuhan hanya memikat dan tidak pernah memaksa, siapa yang menjamin kemenangan akhir kebaikan? Perdebatan ini tetap hidup hingga kini. Murid Whitehead, Charles Hartshorne, menghabiskan seumur hidupnya menyempurnakan teologi proses untuk menjawab keberatan semacam itu, dan dari tangannya teologi proses tumbuh memengaruhi dialog antaragama hingga teologi pembebasan. (Bersambung)
