Konten dari Pengguna

William Phillips: Fisikawan Atom yg Menyebut Dirinya "Orang Beriman Biasa"

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

William Daniel (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
William Daniel (Sumber: Net)

William Daniel Phillips menghabiskan kariernya mendinginkan atom. Bukan dengan lemari es, tapi dengan cahaya laser. Ia menemukan teknik memperlambat gerak atom gas memakai berkas laser, sampai atom-atom itu nyaris berhenti bergerak. Salah satu terobosannya, Zeeman slower, kini jadi alat standar di laboratorium fisika atom di seluruh dunia. Teknik pendinginan laser inilah yang kemudian menjadi dasar jam atom paling presisi yang ada saat ini.

Atas karya ini Phillips meraih Nobel Fisika 1997, dibagi bersama Steven Chu dan Claude Cohen-Tannoudji. Ia bekerja di National Institute of Standards and Technology, lalu juga mengajar fisika di University of Maryland. Namanya masuk National Academy of Sciences dan bahkan Pontifical Academy of Sciences di Vatikan, sebuah lembaga yang anggotanya dipilih lintas agama dan kebangsaan, bukan hanya untuk umat Katolik.

Tapi seperti Charles Townes yang pernah kita bahas, ada sisi lain dari Phillips yang jarang muncul di ringkasan prestasinya. Ia orang yang taat beribadah. Jemaat Methodist di Fairhaven United Methodist Church, Maryland, sejak 1979. Ia ikut paduan suara gospel di gerejanya, mengajar sekolah minggu, dan berdoa secara rutin.

Malam Setelah Telepon dari Stockholm

Ada satu cerita yang sering diulang Phillips sendiri. Begitu mendapat kabar dirinya menang Nobel, hal pertama yang ia lakukan bukan merayakannya. Ia berlutut dan berbicara dengan Tuhan. Ia tahu hidupnya akan berubah banyak, dan ia merasa butuh dukungan untuk menghadapinya.

Jemaat gerejanya mengirim kartu ucapan selamat dengan kutipan dari Surat 1 Korintus, tentang bagaimana semua orang ikut bersukacita ketika satu anggota dihormati. Bertahun-tahun kemudian, suara Phillips masih bergetar setiap kali menceritakan ulang momen itu.

Bagi Phillips, menggabungkan identitas fisikawan dan orang beriman bukan sesuatu yang aneh. Ia pernah menegaskan dirinya bukan anomali. Menurutnya, kalau ditanya langsung, sebagian besar fisikawan sebenarnya percaya pada Tuhan dalam satu bentuk atau lain, meski caranya berbeda-beda. Yang membedakan Phillips, ia percaya pada Tuhan yang personal, yang berelasi langsung dengan manusia, bukan sekadar kekuatan abstrak di balik hukum alam.

Iman yang Biasa, Sains yang Biasa

Phillips punya ceramah favorit yang sering ia bawakan di kampus-kampus, judulnya "Ordinary Faith, Ordinary Science". Iman yang biasa, sains yang biasa. Judul ini sengaja. Phillips ingin menegaskan bahwa dirinya bukan pengecualian aneh. Ia bukan ilmuwan jenius yang kebetulan religius, juga bukan orang saleh yang kebetulan pintar fisika. Baginya keduanya menyatu wajar, seperti kebanyakan orang lain yang ia kenal sejak kecil di keluarga Methodist yang sederhana.

Dalam ceramah itu Phillips biasa membuka dengan rendah hati. Ia bilang dirinya bukan ahli di bidang sains secara keseluruhan, juga bukan ahli teologi. Ia hanya menguasai satu sudut kecil fisika, ilmuwan biasa yang bereksperimen dan menerbitkan hasil kerjanya. Soal agama pun sama. Ia hanya orang biasa yang ke gereja, ikut sekolah minggu, dan mencoba hidup sesuai keyakinannya.

Ia sering mengutip Mazmur 19, ayat yang berbicara tentang langit yang mewartakan kemuliaan Tuhan lewat keteraturannya. Bagi Phillips, ayat itu cocok dengan pekerjaannya sendiri. Semakin dalam ia meneliti hukum-hukum alam, semakin ia melihat keteraturan luar biasa yang menurutnya pantas disyukuri, bukan sekadar dijelaskan secara matematis.

Phillips juga menekankan, sains dan agama sebenarnya sedang menjawab pertanyaan yang berbeda tentang dunia dan kehidupan kita. Ia tidak melihat keduanya harus berebut ruang. Justru menurutnya, konflik antara sains dan agama itu lebih banyak dibesar-besarkan oleh persepsi publik daripada oleh kenyataan di antara para ilmuwan sendiri.

Bukan Sendirian

Phillips tidak sendirian dalam sikap ini. Wikipedia menyebutnya sebagai satu dari tiga ilmuwan Methodist terkenal yang aktif dalam dialog sains dan agama, bersama kimiawan Charles Coulson dan peraih Nobel Fisika 1981, Arthur Schawlow. Phillips sendiri termasuk anggota pendiri International Society for Science and Religion, organisasi yang mempertemukan ilmuwan dan teolog dari berbagai latar belakang untuk berdiskusi serius, bukan berdebat kusir.

Di luar urusan spiritualnya, Phillips juga aktif menyuarakan pentingnya dukungan negara terhadap riset dasar. Ia satu dari dua puluh peraih Nobel Fisika yang menandatangani surat kepada Presiden George W. Bush pada 2008, meminta tambahan anggaran darurat untuk riset sains dasar. Setahun kemudian ia ikut menandatangani surat serupa kepada Presiden Obama, mendorong dukungan stabil untuk riset energi bersih.

Kenapa Cerita Ini Layak Direnungkan

Ada pola menarik kalau kita bandingkan Phillips dengan Townes. Keduanya fisikawan laser, keduanya peraih Nobel, keduanya taat beragama secara terang-terangan, dan keduanya melihat sains dan agama sebagai dua jalan yang bisa berjalan beriringan, bukan bertabrakan.

Bedanya, Townes bicara dengan bahasa filsafat yang lebih berat, tentang wahyu, pembuktian, dan batas kepastian sains. Phillips justru memilih jalan yang lebih sederhana dan hangat. Ia lebih senang menyebut dirinya orang biasa. Fisikawan biasa yang kebetulan juga orang beriman biasa. Dua kata itu, ordinary, sengaja ia pilih berulang kali.

Sikap sederhana ini justru punya kekuatan tersendiri. Ia mengingatkan kita, pertanyaan tentang Tuhan dan makna hidup tidak harus ditinggalkan begitu seseorang menekuni ilmu pengetahuan secara serius. Fisikawan yang menghabiskan hidupnya menghitung gerak atom pada skala mikrokelvin ternyata masih sanggup berlutut dan berdoa dengan tulus. Bagi Phillips, dua hal itu bukan kontradiksi. Keduanya justru tumbuh dari akar keingintahuan yang sama, tentang alam semesta yang ia yakini layak disyukuri. (**)