Xi Jinping Usul Zona Open AI Source untuk Negara BRICS

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah layar yang ditampilkan di pusat media internasional menunjukkan Presiden Tiongkok Xi Jinping menghadiri KTT BRICS di Bharat Mandapam di New Delhi, India, Minggu (13/9/2026). Foto: Bhawika Chhabra/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah layar yang ditampilkan di pusat media internasional menunjukkan Presiden Tiongkok Xi Jinping menghadiri KTT BRICS di Bharat Mandapam di New Delhi, India, Minggu (13/9/2026). Foto: Bhawika Chhabra/REUTERS

Presiden China Xi Jinping mengusulkan pembentukan zona kecerdasan buatan (AI) open source untuk negara-negara BRICS.

Usulan tersebut disampaikan Xi dalam KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, Minggu (13/9).

Dalam pidatonya, Xi mengatakan China akan memimpin pembentukan zona tersebut sebagai bagian dari inisiatif China untuk mendorong pengembangan AI yang terbuka dan inklusif.

Inisiatif itu mencakup kerja sama dalam pengembangan dan penerapan large language model (LLM), serta penelitian dan pelatihan khusus mengenai AI bagi negara-negara BRICS.

“Tujuannya adalah membangun ekosistem AI yang terbuka,” ujar Xi, seperti dikutip dari CCTV.

Perdana Menteri India Narendra Modi berpidato pada hari kedua KTT BRICS, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan para pemimpin lainnya mendengarkan, di New Delhi, India, Minggu (13/9/2026). Foto: Ministry of External Affairs/Handout via REUTERS

AI open source merupakan teknologi yang kode dasarnya dapat diakses dan dimodifikasi oleh pengguna untuk berbagai kebutuhan.

Perusahaan-perusahaan AI China saat ini mengembangkan sejumlah model open source yang bersaing secara global. Sementara itu, banyak pengembang AI di Amerika Serikat lebih memilih pendekatan dengan teknologi yang dikembangkan secara tertutup.

Selain kerja sama AI, Xi menyerukan pembentukan kerangka tata kelola AI global yang luas dan berdasarkan konsensus, sebagaimana dilaporkan AFP.

Menurutnya, perkembangan teknologi AI yang pesat membutuhkan aturan dan tata kelola bersama agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.