Konten dari Pengguna

Yang Membuat Orang Tua Menangis Tidak Pernah Ada di Rapor

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua orang siswa sedang presentasi di depan kelas (foto pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Dua orang siswa sedang presentasi di depan kelas (foto pribadi)

Beberapa bulan lalu saya mendapat kesempatan menjadi apresiator dalam presentasi Proposal Hidup siswa kelas 9. Di ruangan itu hadir siswa, guru, dan orang tua. Satu per satu siswa mempresentasikan perjalanan dirinya, mimpi yang ingin diraih, tantangan yang pernah dihadapi, serta pelajaran hidup yang mereka dapatkan selama bersekolah.

Di tengah presentasi tersebut, ada satu momen yang terus teringat sampai sekarang. Seorang orang tua bercerita tentang anaknya yang ketika pertama kali masuk sekolah hampir tidak memiliki kepercayaan diri. Berkumpul dan mengobrol dengan teman-temannya saja sering membuatnya canggung. Ia lebih banyak diam, sulit memulai percakapan, dan tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Berbicara di depan orang lain adalah sesuatu yang nyaris tidak pernah ia lakukan.

Namun hari itu, anak yang sama berdiri di depan banyak orang dan mempresentasikan proposal hidupnya dengan tenang. Ia berbicara tentang cita-cita, nilai hidup yang ingin dipegang, serta langkah-langkah yang ingin ia tempuh setelah lulus. Orang tuanya tampak terharu. Di akhir presentasi, mereka menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada guru-guru serta sekolah yang telah mendampingi proses pertumbuhan anak mereka.

Momen tersebut membuat saya kembali menyadari sesuatu yang sering terlupakan dalam dunia pendidikan. Banyak hal paling berharga yang terjadi pada diri seorang anak justru tidak pernah tercetak di rapor.

Rapor memang penting. Melalui rapor, orang tua memperoleh gambaran tentang perkembangan akademik anak. Nilai Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, atau mata pelajaran lainnya dapat menjadi informasi yang berguna untuk melihat capaian belajar. Namun rapor memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu menangkap sebagian kecil dari perjalanan seorang anak.

Rapor tidak memiliki kolom yang dapat menunjukkan bahwa seorang anak yang dahulu tidak berani berbicara kini mampu mempresentasikan gagasannya di depan publik. Rapor tidak mencatat bahwa seorang murid yang sebelumnya selalu menghindari interaksi kini mampu membangun pertemanan yang sehat. Rapor juga tidak mampu menggambarkan bagaimana seorang anak belajar mengatasi rasa takut, mengelola kegagalan, atau menemukan kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit.

Padahal dalam kehidupan nyata, kemampuan-kemampuan tersebut sering kali jauh lebih menentukan daripada sekadar angka akademik. Dunia masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menjawab soal dengan benar. Dunia membutuhkan manusia yang mampu berkomunikasi, berkolaborasi, menyampaikan ide, menghadapi tantangan, dan bangkit ketika mengalami kegagalan.

Apa yang saya lihat dalam presentasi Proposal Hidup sebenarnya bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Keberanian itu tumbuh melalui proses yang panjang. Di SMP Hikmah Teladan, para siswa secara rutin mendapatkan kesempatan menjadi pembawa acara, memimpin doa, mempresentasikan proyek, memimpin diskusi, dan tampil dalam berbagai kegiatan sekolah. Kesempatan-kesempatan kecil yang diberikan secara konsisten itulah yang perlahan membangun rasa percaya diri mereka.

Proses yang sama juga berlangsung sejak mereka masih berada di bangku sekolah dasar. Di SD Hikmah Teladan terdapat program yang dikenal dengan nama Panggung Berani Gagal. Melalui program ini, anak-anak diberi ruang untuk tampil tanpa dibebani tuntutan harus sempurna. Mereka dapat membacakan puisi, menunjukkan karya, mempresentasikan hasil belajar, tampil dalam unjuk kabisa saat upacara bendera, atau mengikuti berbagai kegiatan yang disaksikan teman-teman maupun orang tua. Bahkan sekolah berupaya agar setiap anak memiliki kesempatan menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan atau penampilan di luar sekolah.

Tujuan dari semua kegiatan tersebut bukan sekadar menghasilkan juara. Yang lebih penting adalah memberi kesempatan kepada setiap anak untuk mengalami proses mencoba. Sebab keberanian tidak tumbuh karena nasihat. Keberanian tumbuh karena pengalaman.

Pandangan ini sejalan dengan teori self-efficacy yang dikembangkan oleh psikolog Albert Bandura. Menurut Bandura, keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri terutama berkembang melalui pengalaman langsung dalam menghadapi tantangan. Ketika anak diberi kesempatan untuk mencoba, kemudian berhasil melewati rasa takutnya, otaknya membangun keyakinan bahwa ia mampu menghadapi tantangan berikutnya. Semakin banyak pengalaman seperti itu, semakin kuat pula rasa percaya dirinya.

Penelitian Carol Dweck tentang growth mindset juga menunjukkan bahwa anak-anak berkembang lebih baik ketika mereka melihat kesalahan dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Anak yang terbiasa mencoba tidak akan mudah runtuh ketika gagal. Mereka memahami bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui latihan dan pengalaman. Karena itulah sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat anak belajar agar berhasil, tetapi juga tempat yang aman untuk mencoba dan sesekali gagal.

Sayangnya, pertumbuhan seperti ini sering luput dari perhatian ketika musim pembagian rapor tiba. Orang tua dan sekolah kadang terlalu fokus membicarakan angka sehingga lupa membicarakan manusia yang sedang bertumbuh di balik angka tersebut. Padahal yang paling membekas dalam kehidupan seorang anak sering kali bukan nilai yang diperolehnya, melainkan keyakinan bahwa dirinya mampu berkembang.

Karena itu, ketika menerima rapor anak, mungkin ada satu pertanyaan yang layak diajukan selain menanyakan nilainya. Pertanyaan tersebut adalah: "Tahun ini, keberanian apa yang berhasil tumbuh dalam diri anak saya?"

Sebab pada akhirnya, rapor mungkin dapat menunjukkan apa yang diketahui seorang anak. Namun yang membuat orang tua terharu, bangga, bahkan meneteskan air mata sering kali bukan angka yang tercetak di atas kertas. Yang membuat mereka terharu adalah ketika melihat anak yang dahulu tidak percaya diri kini berani berdiri, berbicara, dan percaya pada dirinya sendiri.