Yang Tersisa untuk ASN

Widyaiswara Ahli Madya BKPSDM Kabupaten Karawang, Dosen STIT Rakeyan Santang Karawang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahman Tanjung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sekitar pertengahan April 2019, Film Ex-Machina karya Alex Garland (2014) menarik perhatian saya untuk menontonnya. Tayangan yang mengisahkan Ava, robot humanoid dengan kecerdasan artifisial yang menjadi objek uji Turing. Semakin lama berlangsung, orang semakin sulit membedakan apakah Ava hanya mesin yang menjalankan algoritma atau entitas yang dapat memahami, memanipulasi bahkan mengendalikan manusia.
Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar adegan film. Bukan karena AI telah menjadi seperti Ava, tapi karena kini mereka mulai masuk ke tempat yang lebih dekat dengan kita, ruang kerja ASN.

Kita mugkin pernah mengalami ketika atasan meminta disiapkan naskah sambutan dalam waktu yang mepet, AI dapat membuatnya secara instan. Kemudian, rapat yang dilaksanakan berjam-jam, tinggal direkam saat rapat dan kita minta AI untuk membuatkan resume laporannya. Bahkan bahan presentasi untuk rapat maupun mengajar dapat juga dibuat secara instan menggunakan AI.
Hal-hal tersebut bukan lagi cerita fiktif, tetapi kita sudah dan sedang mengalaminya. AI secara perlahan menjadi bagian dari pekerjaan kita sehari-hari.
Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Klingbeil, Grützner dan Schreck (2023), berjudul: Trust and reliance on AI — An experimental study on the extent and costs of overreliance on AI, menyimpulkan bahwa AI sudah cukup banyak membuat orang terlalu mengandalkannya, mereka mengikuti saran AI bahkan ketika saran itu bertentangan dengan informasi kontekstual yang tersedia maupun penilaian mereka sendiri.
Dalam dokumen Microsoft Research, berjudul: Working with AI: Measuring the Applicability of Generative AI to Occupations (2025). Penelitian terhadap sekitar 200.000 percakapan anonim pengguna dengan Bing Copilot menunjukkan bahwa pekerjaan yang banyak berkaitan dengan pengumpulan informasi dan penulisan, termasuk aktivitas yang paling sering dibantu AI. Pada tingkat kelompok pekerjaan, office and administrative support termasuk yang memiliki tingkat keterapan AI tinggi.
Temuan itu tentu bukan berarti pekerjaan administratif akan segera hilang. Microsoft menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak memprediksi pekerjaan mana yang akan digantikan AI. Yang diukur adalah sejauh mana AI dapat diterapkan atau membantu berbagai aktivitas dalam suatu pekerjaan.
Tetapi justru di situlah pertanyaannya menjadi menarik bagi birokrasi. Jika semakin banyak tugas administratif dapat dibantu AI, lalu apa yang seharusnya dikerjakan oleh ASN? Apakah ASN perlu takut akan keberadaan AI?
Mungkin yang perlu ditakuti bukan saat AI mengambil sebagian pekerjaan ASN. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika ASN tidak tahu harus berbuat apa setelahnya.
Teknologi memang bisa menggantikan tugas tertentu dalam sebuah profesi, tetapi bukan berarti seluruh profesinya ikut hilang. AI bisa membuat draf surat, namun, ia belum tentu paham kenapa surat itu perlu dibuat.
AI dapat merangkum rapat, tetapi ia tidak otomatis tahu keputusan mana yang paling penting bagi masyarakat. Data dapat diolah dan beberapa pilihan kebijakan bahkan ditawarkan AI, tetapi siapa yang memilih, ketika setiap pilihan punya konsekuensi berbeda?
Di sini perbedaan tugas dan peran jadi penting. Tugas dapat makin banyak dibantu AI, namun peran ASN jauh lebih luas dari sekadar menyelesaikan dokumen. Ada pertimbangan yang harus dibuat, kepentingan yang perlu ditimbang, nilai yang mesti dijaga dan keputusan yang akhirnya tetap harus dipertanggungjawabkan kepada manusia.
Lisanne Bainbridge dalam tulisannya berjudul Ironies of Automation (1983), menunjukkan paradoks dalam otomatisasi:
"semakin banyak pekerjaan diserahkan kepada sistem, manusia justru dapat semakin bergantung kepadanya dan kehilangan kemampuan untuk mengambil alih ketika sistem gagal."
Dalam konteks birokrasi, paradoks ini patut direnungkan. Jangan sampai AI membuat pekerjaan ASN menjadi lebih mudah, tetapi sekaligus membuat ASN semakin malas berpikir.
Karena itu, keberhasilan Pemerintahan Digital seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak proses yang telah terdigitalisasi atau aplikasi yang telah digunakan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi membuat ASN memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan penilaian manusia: memahami persoalan masyarakat, merancang solusi, mempertimbangkan dampak kebijakan dan bertanggung jawab atas keputusan.
Lalu, apa yang sebenarnya tersisa untuk dilakukan ASN?
AI dapat menawarkan pilihan, tetapi manusia menentukan mana yang paling tepat. Data dari AI dapat menunjukkan angka dan pola, tetapi pelayanan publik berhadapan dengan manusia yang memiliki kebutuhan dan konteks berbeda.
Ketika sebuah keputusan keliru serta menimbulkan dampak bagi masyarakat, bukan algoritma yang akan dimintai pertanggungjawaban. AI dapat membantu ASN mengambil keputusan lebih cepat, tetapi AI tidak dapat mengambil alih konsekuensi dari keputusan tersebut.
Maka, ASN masa depan bukan sekadar ASN yang paling pandai menggunakan AI. Mereka adalah ASN yang tahu kapan harus menggunakan AI, kapan harus mempertanyakan hasilnya, kapan harus melakukan verifikasi, dan kapan harus berkata: “keputusan ini tidak boleh diserahkan kepada AI.”
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan dari film Ex Machina bukan lagi apakah suatu hari mesin akan menjadi terlalu mirip manusia?. Pertanyaan yang lebih dekat justru sebaliknya: ketika AI semakin mampu bekerja seperti manusia, apakah manusia masih mampu melakukan hal-hal yang membuatnya berbeda dari AI?
Tantangan terbesar ASN saat ini, bukan mempertahankan semua pekerjaan yang selama ini dikerjakan manusia, tetapi menemukan kembali alasan mengapa pekerjaan itu harus tetap dilakukan oleh manusia.
Dan mungkin, yang tersisa untuk ASN bukanlah pekerjaan yang tidak mampu dilakukan AI, melainkan pekerjaan yang justru membuat ASN layak disebut sebagai manusia.
