Donald 'Alpha Male' Trump: Cara Trump Menunjukkan Kegagahan di Mata Dunia

Mahasiswa Jurnalistik UIN Jakarta yang gemar menulis.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Adam Nur Fadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat global mungkin menghujat Donald Trump karena melanggar kaidah etika, tapi bagi para penjilatnya, inilah definisi kegagahan yang sebenarnya. Dengan membocorkan pesan pribadi Emmanuel Macron, Trump tidak sedang melakukan kesalahan amatir ala pemain tarkam, jauh dari itu Trump sedang menunjukkan posisi 'Alpha Male' di panggung dunia, bahwa tidak ada aturan yang bisa mengikatnya, dan di balik layar, ini adalah sebuah power move sebuah pameran dalam kegagahan politik yang mengirimkan pesan jelas ke seluruh dunia, Siapa pemegang kendali sebenarnya.
Dengan menelanjangi privasi Macron, Trump bukan sekedar mengirim pesan teks yang bocor ke publik, ia sedang mengirimkan sinyal kepada dunia bahwa dominasi absolut bukan sesuatu yang mustahil. Dunia melihat bahwa pemimpin sekelas Presiden Prancis dengan segala retorika intelektual dan wibawa khas pria Eropa hanya menjadi umpan dalam permainan besar sang 'Alpha Male'.
Bagi Trump, etika diplomatik hanyalah rantai yang diciptakan oleh orang-orang lemah untuk membatasi orang-orang kuat. Dengan memutus rantai itu secara vulgar, ia sedang melakukan dekonstruksi terhadap tatanan dunia lama. Ia tidak butuh konsensus; ia hanya butuh pengakuan bahwa dialah poros gravitasi politik global saat ini.
Diplomasi Tanpa Filterisasi
Selama berabad-abad, diplomasi dibangun di atas fondasi kerahasiaan dan rasa saling percaya, dalam gaya politik Donald Trump etika kuno ini tampak seperti barang antik yang tidak berguna. Dengan membiarkan pesan Macron menjadi konsumsi publik, Trump sedang mempraktikkan teori Hirarki Dominasi.
Tindakan ini adalah bentuk public shaming politik. Trump ingin menunjukkan bahwa pemimpin sekelas Macron sekalipun, dengan segala retorika intelektualnya di Uni Eropa, pada akhirnya harus "melapor" atau bernegosiasi dengannya lewat jalur privat. Dengan membocorkan pesan tersebut, Trump secara simbolis menempatkan dirinya sebagai "puncak rantai makanan" dalam politik global.
Informasi Sebagai Senjata Kekuasaan
Secara teori kekuasaan, apa yang dilakukan Trump dapat dibedah melalui kacamata Information Warfare. Dalam dunia yang serba digital, kekuasaan tidak lagi hanya diukur dari jumlah hulu ledak nuklir, melainkan dari kemampuan mengendalikan narasi.
Bagi Trump, "kegagahan" tidak datang dari kepatuhan pada protokol diplomatik yang kaku dan membosankan. Kegagahan adalah keberanian untuk menjadi disrupter sang pengganggu. Dengan membocorkan pesan itu, ia sedang mengintimidasi pemimpin dunia lainnya, “Tidak ada yang aman, tidak ada yang rahasia, kecuali Anda bermain dengan aturan saya.”
Akhir dari Era Privasi Diplomatik
Fenomena ini juga mencerminkan apa yang disebut Michel Foucault sebagai pengawasan sebagai bentuk kekuasaan. Bedanya, kali ini pengawasan itu dijadikan tontonan (spectacle). Trump tahu betul bahwa pemilihnya dan audiens global menyukai sosok pemimpin yang berani mendobrak pintu tertutup.
Ketika pesan pribadi menjadi peluru politik, maka diplomasi internasional akan berubah menjadi medan perang yang saraf akan kecurigaan. Pemimpin diplomatik sebuah negara tidak lagi berani bicara jujur di balik pintu tertutup karena takut "tangkapan layar" percakapan mereka akan menjadi tajuk utama berita esok hari.
Langkah Trump membocorkan pesan Macron bukanlah sebuah kecerobohan amatir. Itu adalah deklarasi kekuasaan yang absolut. Trump sedang menegaskan narasinya sebagai sosok "Alpha" yang tidak terikat oleh aturan main elit global.
