Komunitas: Dari Ruang Bersama Menuju Kasta Sosial Baru

Bachelor's of Psychology, Islamic University of Indonesia - Part-Time Writer - Enthusiast of Literature, Visual Arts, Music, & Movies
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Naufal Listyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunitas merupakan salah satu ruang paling alami dari kehidupan sosial manusia. Manusia berkumpul karena kesamaan minat, tujuan, atau kebutuhan akan kebersamaan. Namun, ada pola yang terus berulang: komunitas yang awalnya terbuka dan inklusif perlahan berubah menjadi eksklusif.
Semakin besar komunitas, semakin tebal batas-batas yang memisahkan antara mereka yang merupakan “orang dalam” dan mereka yang merupakan “orang luar”. Tanpa disadari, komunitas yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan justru membangun hierarki baru.
Tapi, mengapa ini terjadi? Apakah komunitas memang ditakdirkan untuk menjadi seperti ini?
Eksklusivitas yang Tak Terelakkan: Dari Kebutuhan Bersama ke Identitas Sosial
Seorang sosiolog bernama Pierre Bourdieu melalui konsep habitus dan distinction menjelaskan bahwa setiap kelompok sosial memiliki cara tertentu untuk membedakan dirinya dari kelompok lain. Ini bisa berupa bahasa, gaya hidup, atau bahkan nilai-nilai yang dianut. Dalam konteks komunitas modern, hal ini bisa berwujud jargon yang hanya dipahami anggotanya, standar tertentu yang harus dipenuhi, atau simbol-simbol visual seperti pakaian dan gaya hidup.
Dari sinilah komunitas tidak hanya berfungsi sebagai ruang berbagi, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan identitas sosial.
Jika seseorang masuk ke komunitas kopi, mereka tidak sekadar menikmati kopi—mereka juga dihadapkan pada standar tentang mana kopi yang layak diminum dan mana yang dianggap murahan.
Jika seseorang bergabung dalam komunitas bisnis, mereka tidak hanya ingin belajar—mereka juga mulai memahami bahwa ada “level sosial” dalam dunia bisnis yang harus mereka capai untuk dihormati.
Jika seseorang masuk ke komunitas seni, mereka tidak hanya ingin berkarya—tetapi juga dihadapkan pada nilai-nilai artistik tertentu yang menentukan apakah mereka dianggap “seniman sejati” atau hanya penikmat biasa.
Dengan kata lain, komunitas sering kali berkembang menjadi sistem seleksi sosial yang menentukan siapa yang layak disebut sebagai "kaum kami” dan siapa yang hanya menjadi "penonton" saja
Media Sosial, Narsisme, dan Validasi Komunitas
Era media sosial seolah mendukung fenomena ini. Komunitas yang dulunya hanya berkembang di dunia nyata, kini memiliki ruang ekspresi digital yang jauh lebih besar. Apa yang awalnya bersifat organik, kini menjadi sesuatu yang kurated—terlihat lebih terstruktur, lebih eksklusif, dan lebih berorientasi pada citra dibanding esensi.
Jean Twenge melalui The Narcissism Epidemic menjelaskan bagaimana media sosial mengubah cara kita berinteraksi dengan komunitas. Kini, keanggotaan dalam komunitas bukan hanya soal minat, tetapi juga soal bagaimana kita menampilkan diri sebagai bagian dari komunitas tersebut.
Seseorang yang aktif dalam komunitas lari tidak hanya ingin berlari, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari gaya hidup sehat yang trendy.
Seseorang yang bergabung dalam komunitas bisnis tidak hanya ingin membangun usaha, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa mereka lebih visioner dibanding mereka yang masih bekerja kantoran.
Seseorang yang terlibat dalam komunitas seni tidak hanya ingin berkarya, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa mereka lebih berkelas dibanding mereka yang hanya menikmati seni populer.
Di sinilah terjadi pergeseran: komunitas bukan lagi sekadar ruang eksplorasi, tetapi juga panggung eksistensi. Identitas kita dalam komunitas tidak lagi ditentukan oleh kontribusi kita, tetapi oleh sejauh mana kita bisa mengkapitalisasi keberadaan kita di dalamnya.
Konsep grandiose narcissism yang dijelaskan oleh Twenge semakin relevan. Manusia modern tidak hanya ingin "menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar", tetapi juga ingin memastikan bahwa mereka "terlihat sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar".
Ketimpangan Akses: Ketika Komunitas Tidak Lagi Setara
Komunitas, secara ideal, adalah ruang yang terbuka bagi siapa saja. Namun, dalam praktiknya, banyak komunitas yang secara tidak langsung menciptakan batas-batas yang sulit ditembus oleh orang luar.
Ada komunitas yang membutuhkan akses ekonomi tertentu:
Komunitas startup yang hampir selalu berisi orang-orang dengan akses ke modal dan jaringan bisnis yang kuat.
Komunitas hobi tertentu yang menuntut kepemilikan barang mahal, seperti komunitas sepeda atau komunitas fotografi.
Ada juga komunitas yang membutuhkan akses intelektual tertentu:
Komunitas sastra yang sering kali menggunakan bahasa yang terlalu akademis, sehingga sulit diakses oleh mereka yang baru ingin belajar.
Komunitas diskusi filsafat yang cenderung memperlihatkan superioritas intelektual, sehingga menutup ruang bagi orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sama.
Di sinilah komunitas tidak lagi menjadi ruang berbagi, tetapi lebih menyerupai sistem kasta baru—mereka yang memiliki sumber daya tertentu bisa masuk dan dihormati, sementara mereka yang tidak memenuhi standar hanya bisa menjadi penonton belaka.
Komunitas, Eksistensi, dan Ilusi Kebersamaan
Ironisnya, meskipun komunitas semakin berkembang dan semakin banyak orang yang menjadi bagian dari berbagai komunitas, banyak individu yang justru merasa semakin terisolasi.
Dalam bukunya Bowling Alone, Robert Putnam menjelaskan bagaimana masyarakat modern mengalami pergeseran dari kebersamaan yang nyata ke kebersamaan yang semu. Kita bisa menjadi anggota banyak komunitas sekaligus, tetapi tetap merasa tidak benar-benar terhubung dengan siapa pun.
Mengapa?
Karena banyak komunitas yang kini lebih berorientasi pada citra daripada hubungan yang otentik.
Karena banyak komunitas yang lebih sibuk menjaga eksklusivitasnya daripada memastikan bahwa setiap anggotanya merasa benar-benar diterima.
Karena banyak komunitas yang lebih fokus pada pencapaian individu dibanding kebersamaan yang kolektif.
Di era di mana semua orang ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, kita justru semakin kehilangan esensi dari kebersamaan itu sendiri.
Kesimpulan: Ke Mana Arah Komunitas?
Pada akhirnya, kita perlu bertanya:
Apakah komunitas masih menjadi ruang untuk berbagi, atau justru semakin menjadi alat seleksi sosial?
Apakah kita bergabung dalam komunitas karena ingin belajar dan berkembang, atau karena takut dianggap tidak relevan?
Jika komunitas terus berkembang ke arah eksklusivitas, di mana lagi kita bisa menemukan ruang yang benar-benar inklusif?
Komunitas seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok pemisah.
Mungkin, kita perlu mengingat kembali bahwa esensi komunitas bukan tentang seberapa elit sebuah kelompok, tetapi seberapa besar ruang yang mereka berikan untuk semua orang yang ingin belajar dan berkembang bersama.
Jika komunitas terus berubah menjadi kasta sosial baru, maka kita harus bertanya: apakah ini masih tentang kebersamaan, atau hanya sekadar panggung eksistensi?
