AUKUS dan Tantangan Sentralitas ASEAN di Indo-Pasifik

Mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Sriwijaya
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Anggun Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah kehadiran Aukus akan menjadi awal terkikisnya peran ASEAN di Indo-Pasifik?
Kemunculan aliansi keamanan AUKUS yang terdiri dari Amerika Serikat, inggris, dan Australia menghadirkan babak baru dalam dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik. Di tengah meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, kesepakatan strategis ini mengirim sinyal bahwah kompetisi kekuatan besar telah memasuki fase baru yang lebih tegang dan lebih kompleks. Di satu sisi, AUKUS menjadi alat bagi Washington dan sekutunya untuk memperkuat postur pertahanan di kawasan, langkah ini memunculkan kekhawatiran bagi negara-negara Asia Tenggara tentang masa depan stabilitas regional dan posisi ASEAN sebagai penjaga keseimbangan.
Kawasan Indo-Pasifik sendiri bukan lagi sekedar ruang geografis. Kawasan ini adalah pusat pertumbuhan ekonomi dunia dan jalur perdagangan paling penting di dunia ini. Setiap perubahan strategi keamanan yang terjadi di wilayah ini akan berdampak langsung pada negara-negara yang berada di dalamnya, terutama mereka yang berusaha menjaga netralitas di tengah persaingan dua kekuatan besar.
Dua Kepentingan Besar di Balik AUKUS
AUKUS lahir sebagai respon terhadap meningkatnya pengaruh Tiongkok, terutama di bidang militer dan teknologi maritim. Melalui fakta ini, Australia akan memperoleh teknologi kapal selam bertenaga nulir sebuh lompatan besar bagi kemampuan pertahanan negeri itu.
Bagi Washington, AUKUS adalah bentuk penegasan bahwa Amerika Serikat masih memiliki komitmen penuh untuk mempertahankan tatanan keamanan Indo-Pasifik yang dianggapnnya perlu dijaga agara tetap "bebas dan terbuka." Sementara Inggris melihat peluang untuk memperluas kehadiran global pasca-Brexit.
Tiongkok berangapan bahwa AUKUS dipandang sebagai upaya mengepung dan membatasi ruang geraknya. Beijing menganggap aliansi ini berpotensi memicu perlombaan senjata baru, terutama di kawasan Asia-Pasifik bagian selatan.
ketegangan strategis inilah yang kemudian berpotensi menggerus stabilitas kawasan dan membuat negara-negara ASEAN berada di posisi sulit.
Dampak AUKUS bagi negara-negara ASEAN
Munculnya AUKUS di sambut secara berbeda oleh negara-negara Asia Tenggara. Ada yang melihatnya sebagai peluang memperkuat keamanan kawasan, namun tidak sedikit yang justru khawatir dengan potensi eskalasi konflik.
Filipina dan Singapura cendrung terbuka terhadap kehadiran AUKUS, melihatnya sebagai penyeimbang terhadap Tiongkok di Laut Cina Selatan. Sementara Indonesia dan Malaysia lebih berhati-hati. Kedua negara ini menilai peningkatan kemampuan militer nuklir Australia dapat memicu ketegangan baru dan menggeser keseimbangan strategis kawasan.
Ketidakhomogenan sikap ini memperlihatkan satu tantangan besar, ASEAN kini semakin sulit mengatur posisi bersama dalam isu-isu keamanan strategis yang melibatkan kekuatan besar.
Padahal, kekuatan ASEAN selama ini justru terletak pada kemampuan membangun konsensus dan menjadi "penengah" di antara kepentingan para aktor global.
Sentralitas ASEAN yang Terancam
Sentralitas ASEAN adalah Konsep yang menjadian Asean sebagai pusat arsitektur keamanan dan kerja sama di kawasan. Namun, munculnya kerja sama eksklusif seperti AUKUS dan QUAD menunjukkan bahwa negara-negara besar mulai memilih jalur di luar ASEAN untuk mencapai kepentingan strategis mereka.
Jika ini berlanjut, ASEAN berisiko kehilangan peran sebagai forum utama dalam mengelola dinamia Indo-Pasifik.
Belum lagi rivalitas AS-Tiongkok yang semakin panas. Ketika tekanan dari kedua belah pihak meningkat, negara-negara ASEAN berada di tengah pusaran tarik ulur kepentingan yang sulit dihindari. Tidak sedikit analis menilai bahwa tanpa strategi yang jelas, ASEAN bisa terpecah dalam menentukan arah politik luar negeri masing-masing negara anggotanya.
Di tengah realitas geopolitik baru ini, ASEAN perlu membuktikan bahwa pendekatan mereka lewat ASEAN Outlook on the Indo-Pasific (AOIP) yang menekankan kerja sama inklusif bukan sekedar deklarasi normatif.
Mencari Jalan Tengah di Tengah Persaingan
AUKUS bukanlah ancaman langsung bagi ASEAN, namun menjadi indikator bahwa tantanan keamanan kawasan sedang berubah cepat. tantangannya bukan hanya bagaimana ASEAN menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat dan Tiongkok, tetapi juga bagaimana menjaga stabilitas tanpa terjebak memilih pihak.
Indonesia, sebagai negara terbesar di ASEAN, memegang peran penting untu mengarahan disusi regional menuju kerja sama yang lebih inklusif. Diplomasi Indonesia selama ini berfokus pada pencegahan konflik terbuka dan memperkuat mekanisme dialog, sesuatu yang semakin relevan di tengah suasana tegang seperti sekarang.
Penutup
AUKUS menandai fase baru persaingan strategi di indo-pasifik. Aliansi ini mencerminkan pola perang dingin modern, di mana persaingan tidak hanya terjadi melalui kekuatan militer, tetapi juga lewat pengaruh diplomatik, teknologi, dan keamanan maritim.
Di tengah perubahan besar ini, ASEAN menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas kawasan sembari mempertahanan perannya sebagai pusat kerja sama regional. Jika gagal membaca dinamika, ASEAN akan semakin tersudut dalam persaingan geopolitik yang tidak diciptakannya. Namun, dengan diplomasi yang kuat, koordinasi yang solid, dan komitmen pada AOIP, ASEAN tetap memiliki peluang untuk menjaga kawasan ini tetap damai, inklusif, dan bebas dari konflik hegemonik.
