Joko, Penyuluh Kehutanan yang Setia Menyalakan Harapan di Lereng Lawu

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta angkatan 2022
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ni Luh Made tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap pekan, Joko Purnomo yang berusia 50 tahun menempuh perjalanan cukup jauh dari rumahnya di Karanganyar menuju kawasan hutan di sekitar Lawu. Dengan motor tuanya, ia rutin datang mendampingi para petani binaannya. Bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi perubahan kecil yang ia tanam di tengah masyarakat.
“Yang saya kejar itu dampak. Kalau ada manfaat buat masyarakat, artinya pendampingan saya berhasil,” ucapnya.
Sebagai penyuluh kehutanan di Cabang Dinas Kehutanan Wilayah X, Jawa Tengah, Joko telah mengabdikan diri lebih dari lima belas tahun. Kini ia berstatus PNS dengan golongan yang masih tergolong rendah, namun hal itu tak mengurangi semangatnya untuk turun langsung ke lapangan.
Baginya, panggilan sebagai penyuluh bukan soal jabatan atau posisi. Ia tetap setia mendampingi masyarakat, meski kadang harus menempuh jalan jauh dan menghadapi kondisi di lapangan yang tidak selalu mudah. Setiap pekan, ia hadir di dusun-dusun, duduk bersama petani, mendengarkan keresahan mereka, dan mencari jalan keluar bersama. Dari motornya yang sederhana, Joko menempuh perjalanan panjang untuk menumbuhkan harapan di akar rumput.
Pendampingan itu pun tak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesarnya, kata Joko, adalah menyatukan pikiran masyarakat dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda.
“Tantangan awal itu memberi pemahaman dulu. Pola pikir masyarakat sulit diubah, jadi harus pelan-pelan,” ujarnya.
Dari mendengarkan keluh kesah hingga membantu mencari solusi di lapangan, semua ia lakukan dengan sabar. Baginya, keberhasilan bukan diukur dari laporan, tetapi dari tumbuhnya rasa percaya dan kemandirian.
Menjaga Hutan, Menggerakkan Ekonomi
Selama beberapa tahun terakhir, Joko mendampingi dua kelompok tani hutan di lereng Lawu, yakni KTH Green Lawu dan KTH Tambak Indah, mitra binaan program CSR Pertamina Patra Niaga AFT Adi Sumarmo. Kedua kelompok ini memiliki fokus yang berbeda, namun tujuan mereka sama yaitu menjaga hutan sambil menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitar.
Di KTH Green Lawu, Joko mendampingi warga menjalankan konservasi anggrek Lawu, tanaman endemik yang pertumbuhannya lambat namun bernilai konservasi tinggi. Selain itu, kelompok ini juga mengembangkan konservasi landak Jawa, satwa dilindungi yang populasinya mulai menurun di alam liar. Upaya konservasi satwa ini dilakukan bersama Tahura Gunung Lawu dengan pendampingan Joko agar warga memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian satwa dan pengelolaan ekonomi desa.
Di sela kegiatan konservasi, warga juga membudidayakan krisan, bunga yang lebih cepat panen dan membantu menambah penghasilan. Namun yang paling menonjol bukan sekadar hasil tanamnya, melainkan cara mereka mengelola sumber daya secara mandiri.
Awalnya, dana program hanya cukup untuk membangun satu greenhouse. Tetapi berkat swadaya tenaga dan gotong royong warga yang dipimpin oleh Joko, anggaran itu bisa efisien hingga terbangun dua greenhouse sekaligus. Tak berhenti di situ, mereka juga menginisiasi pembangunan rumah jamur bergilir—dimulai dari satu bantuan rumah jamur dari Pertamina, lalu dikembangkan secara mandiri melalui perputaran kas kelompok. Ia selalu mendorong agar setiap kelompok tidak bergantung penuh pada bantuan, melainkan mengelola hasil usaha untuk menopang kegiatan konservasi.
Komitmen itu pula yang terlihat ketika KTH Green Lawu berinisiatif mengadakan studi banding dua tahun terakhir. Meski anggarannya tidak sepenuhnya ditanggung oleh Pertamina, para anggota sepakat untuk iuran mandiri agar kegiatan tetap berjalan. Langkah itu menjadi bukti bahwa kelompok ini bukan sekadar penerima bantuan, melainkan komunitas yang tumbuh karena pendampingan yang menanamkan nilai kemandirian.
Sementara KTH Tambak Indah menaruh perhatian pada konservasi Jalak Bali serta pengembangan pembibitan pohon. Di bawah arahan Joko, kelompok ini membangun area khusus konservasi dan belajar merawat Jalak Bali di bawah pengawasan Tahura Gunung Lawu. Saat ini, kegiatan pembibitan baru dijalankan oleh satu anggota yang menaruh minat di bidang tersebut. Bibit-bibit itu dirawat di dalam greenhouse sederhana menggunakan polybag—sebuah langkah kecil, tapi bermakna besar dalam menjaga keberlanjutan konservasi di kawasan tersebut.
Menurut Joko, semangat warga dalam dua kelompok ini menunjukkan bahwa masyarakat kini memiliki keinginan kuat untuk ikut terlibat dalam pelestarian. Mereka tak lagi melihat konservasi sebagai kewajiban pemerintah, tapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia pun selalu menekankan pentingnya kemandirian, sebab setiap program memiliki batas waktu. Bagi Joko, keberhasilan bukan ketika kegiatan rampung, melainkan ketika warga mampu melanjutkan usaha itu tanpa harus bergantung pada pendamping.
“Program bisa selesai, tapi masyarakat harus bisa melanjutkan usaha ini sendiri,” ujarnya.
Dalam proses pendampingan, Joko tidak berjalan sendiri. Balai Tahura Gunung Lawu menjaga kawasan hutan negara, Pertamina Patra Niaga AFT Adi Sumarmo hadir lewat dukungan program CSR Konservasi Kehati, sementara Joko menjadi penghubung yang menghidupkan komunikasi antara pengelola hutan, perusahaan, dan warga desa.
Dari perannya itulah, setiap inisiatif yang dijalankan kelompok tumbuh tidak hanya karena bantuan dana, tapi juga karena kepercayaan dan semangat yang ia tanamkan pada
Menyalakan Harapan di Lereng Lawu
Bertahun-tahun menjadi penyuluh, Joko belajar bahwa menjaga hutan bukan hanya tentang menanam pohon, tapi juga tentang menumbuhkan kemandirian ekonomi di tengah masyarakat.
Dalam perjalanannya mendampingi KTH Tambak Indah, ia pernah menghadapi dilema ketika dana hasil kegiatan kelompok tidak berputar karena perbedaan pandangan antaranggota. Akhirnya, melalui diskusi panjang, Joko mengusulkan sistem bagi hasil sederhana dengan 70% untuk pemeliharaan kegiatan, dan 30% disimpan sebagai kas kelompok.
Baginya, yang penting bukan seberapa besar nilainya, melainkan bagaimana dana itu terus bergerak dan memberi manfaat nyata bagi warga.
Dari pengalaman itu, Joko semakin yakin bahwa pendampingan bukan hanya soal teknis konservasi, tetapi juga soal membangun kepercayaan dan kesepahaman di antara warga. Ia ingin setiap keputusan diambil bersama, agar masyarakat merasa memiliki dan mampu melanjutkan usaha mereka secara mandiri.
Dalam setiap kunjungan, Joko tidak hanya memeriksa tanaman atau bibit, tetapi juga memberi semangat kepada para anggota kelompok agar terus menjaga apa yang telah mereka mulai.
“Kalau suatu hari saya dikenang sebagai orang yang pernah mendampingi, itu sudah cukup”
Dari sosok Joko, kita belajar bahwa perubahan tidak selalu datang dari kebijakan besar atau proyek megah. Kadang, dari seorang penyuluh dengan motor tua dan langkah sabar, tumbuh harapan baru di lereng Lawu—bahwa keseimbangan antara manusia dan alam bisa dijaga dengan kesabaran, keikhlasan, dan pendampingan yang tulus di akar rumput.
