Konten dari Pengguna

Mengungkap Warisan Sejarah di Balik Indahnya Danau Tamblingan

MadeYuliasih

MadeYuliasih

Pegawai Badan Riset dan Inovasi Nasional

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MadeYuliasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Danau Tamblingan (Foto : dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Danau Tamblingan (Foto : dokumen pribadi)

Sejuknya udara pegunungan jauh dari hiruk pikuk perkotaan, di sudut bumi yang masih menyimpan pesona keindahan alam yang memukau, terbentang sebuah keindahan alam yang menakjubkan. Aroma segar pegunungan dilengkapi dengan nyanyian burung yang merdu mengantarkan jiwa ke tempat yang penuh kedamaian.

Sesaat aku pejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, mensyukuri betapa beruntungnya aku masih bisa menikmati keindahan alam ciptaan-Nya. Sembari tersenyum aku mulai melangkahkan kaki mendekati suara air yang tertiup angin di antara pepohonan pegunungan yang menjulang tinggi. Indahnya pemandangan danau dengan dukungan cerahnya suasana pagi yang bersahabat membuat aku makin penasaran untuk lebih mendekatinya.

Danau Tamblingan, permata tersembunyi yang menawarkan pengalaman alam yang tak terlupakan, mengungkapkan berbagai peninggalan sejarah yang masih menjadi perbincangan di kalangan peneliti arkeologi. Situs Tamblingan dikenal sebagai salah satu situs budaya megalitikum di Bali yang berasal dari masa Neolitikum di Kabupaten Buleleng, Pulau Bali, Indonesia.

Tempat ini terkenal sebagai lokasi penemuan artefak-arkeologis yang berasal dari zaman megalitikum, yakni sekitar 3500 SM hingga 500 SM. Situs Tamblingan juga menjadi salah satu situs bersejarah di Bali yang cukup terkenal di kalangan wisatawan, karena di sana terdapat beberapa megalitikum yang masih utuh dan terjaga dengan baik. Di antara megalitikum yang dapat ditemukan di situs Tamblingan adalah punden berundak, tiang-tiang batu, dan meja batu.

Tamblingan terletak di wilayah utara pulau Bali, Indonesia. Lebih tepatnya, terletak di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, memiliki sejarah peradaban yang kaya dan beragam. Tamblingan mencakup empat desa meliputi Desa Munduk, Desa Gobleg, Desa Gesing, dan Desa Uma Jero. Ke empat desa tersebut memiliki tinggalan arkeologi cukup padat yang tersebar di tengah-tengah hutan, di tepi danau, di sawah-sawah, di tengah-tengah perkebunan, di pura-pura, dan di tengah-tengah permukiman

Kerajaan Tamblingan diperintah oleh Wangsa Warmadewa yang berpusat di Singaraja. Pada masa pemerintahannya, kerajaan Tamblingan mencapai masa kejayaannya. Peradaban di wilayah ini berkembang pesat di bidang seni, budaya, dan agama. Peninggalan sejarah di wilayah Tamblingan masih dapat ditemukan hingga kini, seperti arca-arca Hindu-Buddha dan candi-candi yang tersebar di sekitar Danau Tamblingan. Selain itu, tradisi dan kepercayaan masyarakat juga masih terjaga dengan baik, seperti upacara-upacara adat yang dilaksanakan.

Sekarang, wilayah Tamblingan telah bergeser menjadi daerah pariwisata yang terkenal dengan keindahan alamnya, seperti danau dan hutan yang asri. Namun, peradaban dan sejarahnya masih dapat dijumpai dan dijelajahi oleh wisatawan yang tertarik dengan budaya lokal Bali.

Prasasti tentang Desa Tamblingan Kuna

Prasasti memegang peranan penting sebagai sumber pengetahuan mengenai sejarah dan budaya. Prasasti merupakan naskah yang diukir atau ditulis pada benda padat seperti batu, logam, atau kayu sebagai bentuk catatan yang memuat keterangan tentang suatu peristiwa, atau konsep tertentu.

Prasasti Tamblingan Pura Endek IV (Foto : Dokumentasi Pribadi)

Telah dilakukan berbagai penelitian untuk membuktikan adanya kehidupan pada zaman prasejarah di Kawasan Tamblingan. Penelitian awal dilakukan karena adanya penemuan selembar prasasti Tamblingan oleh seorang petani bernama Pan Niki pada tahun 1987. Dari hasil pembacaan dapat diungkapkan bahwa prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Bhatara Cri Parameswara pada tahun Caka 1306 (1384 M), ditujukan kepada keluarga pande besi Tamblingan agar kembali dari tempat pengungsian, dan kepada Arya Cengceng (Kenceng) diperintahkan agar segera kembali ke Lo Gajah (Gua Gajah), (Suantika, 1988: 3).

Sebelumnya telah ditemukan pula prasasti yang memuat keterangan tentang Desa Tamblingan Kuno yang dikutip dari (Suarbhawa Made, 2007), sebagai berikut :

  1. Prasasti Gobleg Pura Batur A (Callenfels, 1926) atau prasasti nomor 110 (Goris 1954) dalam perkiraan berasal dari masa pemerintahan raja Sri Ugrasena (837-858 Saka) memuat tentang penduduk Desa Tamblingan Satu Jumpung (kelompok), yaitu jumpung wesnawa (kelompok wesnawa).

  2. Prasasti Gobleg Pura Batur B (Callenfels, 1926) atau prasasti nomor 1011 (Gobleg,1954). Prasasti Gobleg berasal dari tahun Saka 971 – 999 pada masa pemerintahan raja Anak Wungsu. Menjelaskan tentang beberapa anugerah raja kepada penduduk Desa Tamblingan, berkenaan dengan pembebasan beberapa jenis pungutan pajak meliputi penduduk Desa Tamblingan dibebaskan dari pajak besi (tankna pawisi). Disebutkan pula apabila ada penduduk desa yang mati tenggelam di dalam danau tidak perlu dilaporkan kepada raja dan tidak dikenakan dosa, memuat juga tentang kutukan bagi yang melanggar keputusan raja, serta batas-batas Desa Tamblingan.

  3. Prasasti Kerobokan atau lebih dikenal dengan prasasti Buyan Tamblingan yang menjelaskan terkait dengan anugerah raja terhadap penduduk Desa Buyan dan Tamblingan yang ada di tepi danau, serta masalah lalu lintas danau, adanya Ser Kahyangan yang bertugas sebagai pengawas terhadap bangunan suci kerajaan, selain itu disebutkan pula tentang batas-batas desa.

  4. Prasasti Gobleg Pura Batur C (Callenfels, 1926) atau prasasti no 902 (Goris,1954) dari tahun Saka 1320 yang isinya mirip dengan prasasti dari tahun Saka 1306.

Di samping temuan berupa prasasti di sekitar Danau Tamblingan juga ditemukan benda-benda arkeologi yang dapat mengungkap berbagai aktivitas yang terjadi di wilayah Tamblingan pada masa Bali Kuna.

Temuan Benda-benda Arkeologi di sekitar Danau Tamblingan

Berdasarkan hasil temuan benda bersejarah sebelumnya, Peneliti Arkeologi Sejarah dan Prasejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), I Gusti Made Suarbhawa menjelaskan untuk mengungkap wilayah Tamblingan, ia bersama tim peneliti lainnya melakukan eskapasi kembali untuk menemukan lebih banyak benda-benda bersejarah lainnya. Dari hasil kerja tersebut mereka telah berhasil menemukan benda-benda arkeologi seperti kereweng hias terajala, manik-manik, fragmen beliung persegi (masa prasejarah), palungan-palungan batu pendingin, batu ububan, batu landasan pukul, kerak-kerak logam, butiran-butiran logam, wadah lebur logam (kowi), alat kait besi, arang dan beberapa hasil produksi seperti pisau, keris, tombak, kereweng, keramik struktur bangunan, uang kepeng (masa klasik).

Palung batu yang ditemukan di sekitar Danau Tamblingan (Foto : Buku Situs Tamblingan)

Dari hasil kerja tersebut telah berhasil ditemukan benda-benda arkeologi seperti kereweng hias terajala, manik-manik, fragmen beliung persegi (masa prasejarah), palungan-palungan batu pendingin, batu ububan, batu landasan pukul, kerak-kerak logam, butiran-butiran logam, wadah lebur logam (kowi), alat kait besi, arang dan beberapa hasil produksi seperti pisau, keris, tombak, kereweng, keramik struktur bangunan, uang kepeng (masa klasik).

Temuan Artefak di sekitar Danau Tamblingan (Foto : Dokumentasi Balar Bali)

Temuan tersebut sangat erat kaitannya dengan adanya sebuah kegiatan membuat logam atau keberadaan sebuah komunitas masa lampau yang memiliki profesi sebagai pande besi. Indikasinya dapat dilihat berupa adanya temuan palungan-palungan batu pendingin, batu ububan, batu landasan pukul, kerak-kerak logam, butiran-butiran logam, wadah lebur logam (kowi), alat kait besi, arang dan beberapa hasil produksi seperti pisau, keris, dan tombak.

Dari temuan benda-benda tersebut diyakini kalau di daerah Tamblingan terjadi aktivitas pande besi. Keyakinan adanya kegiatan pande besi di lokasi tersebut diperkuat dari pembacaan prasasti Tamblingan (1384 M), yang menyebutkan keberadaan pande besi di tepian Danau Tamblingan (Suantika, 1993, Suarbhawa, 2010). Hingga saat ini, Pura Dalem Tamblingan masih berdiri tegak dengan kokohnya. Pura ini dikenal karena adanya prapen yang merupakan ciri khas pande Bali, tempat di mana para pande membuat berbagai peralatan persenjataan seperti pisau, keris, dan senjata tajam lainnya. (Yul)