Followers Jutaan, Tapi Apakah Rekomendasinya Layak Diikuti?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nia Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Nia Amanda (Universitas Pamulang)
Pernahkah kamu membeli sesuatu hanya karena orang yang kamu kagumi bilang barang itu bagus? Di keseharian, hal ini terasa sepele. Tapi kalau kebiasaan yang sama terbawa ke keputusan keuangan, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Di media sosial, financial influencer makin sering membahas saham, investasi, sampai pinjaman. Bagi sebagian orang, kontennya membantu memahami topik yang tadinya terasa rumit. Tapi popularitas juga bisa membuat kita lebih mudah percaya dan ikut-ikutan, padahal belum tentu cocok dengan kondisi keuangan kita.
Saat Popularitas Dianggap Bukti Keahlian
Salah satu penyebabnya adalah social proof, yaitu kecenderungan melihat apa yang dilakukan orang lain saat kita merasa belum pasti (Cialdini, 2021). Bagi investor pemula, istilah seperti saham, obligasi, dan reksa dana masih terasa membingungkan. Wajar kalau orang dengan banyak pengikut terlihat lebih tahu.
Padahal, jumlah pengikut tidak otomatis menunjukkan kualitas informasi. Seseorang bisa punya jutaan followers karena gaya bicaranya asyik, bukan karena ia ahli menganalisis produk keuangan. Apalagi influencer terasa dekat. Mereka muncul di beranda, berbagi keseharian, dan bicara santai. Kedekatan ini disebut hubungan parasosial (Horton & Wohl, 1956), sehingga rekomendasinya terdengar seperti saran dari teman sendiri.
Ikut-ikutan dan Takut Ketinggalan
Dari situ, muncul herding atau kecenderungan mengikuti keputusan orang lain. Bayangkan sebuah saham sedang ramai dibahas, kolom komentar penuh orang yang bilang sudah beli, lalu muncul pikiran, “Kalau banyak yang masuk, mungkin aku juga harus ikut.” Masalahnya, kita tidak tahu alasan mereka membeli. Bisa jadi mereka sudah menganalisis, bisa jadi juga hanya ikut-ikutan. Bikhchandani dkk. (1992) menyebut kondisi ini informational cascade.
Ada juga FOMO, yaitu rasa takut tertinggal dari kesempatan yang dinikmati orang lain (Przybylski dkk., 2013). Penelitian Gantilang dan Maulana (2026) pada 230 responden Gen Z menemukan FOMO berpengaruh positif terhadap keputusan investasi saham. Tapi hasil penelitian lain tidak selalu sama. Tirtawinata dan Ruslim (2025) menemukan FOMO tidak berpengaruh signifikan, sementara literasi keuangan justru berpengaruh. Artinya, tidak semua pengikut influencer pasti terseret FOMO. Pengetahuan dan pengalaman ikut menentukan.
Populer Belum Tentu Kredibel
Ini bukan sekadar teori. Pada 18 Juni 2026, Satgas PASTI menghentikan kegiatan sejumlah KOL yang mempromosikan Pedagang Aset Keuangan Digital tidak berizin. Para KOL diimbau melakukan riset yang memadai, memastikan legalitas, dan tidak menyampaikan klaim yang menyesatkan. Kasus ini bukan berarti semua financial influencer bermasalah. Tapi ini pengingat bahwa kita perlu lebih kritis.
Sebelum ikut rekomendasi, ada beberapa pertanyaan sederhana yang layak diajukan. Apakah produknya legal? Apa risikonya? Dari mana keuntungannya berasal? Apakah influencernya punya kepentingan ekonomi di balik promosi itu?
Literasi dan Regulasi Saja Belum Cukup
Menurut SNLIK 2026, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen, sedangkan kelompok pelajar dan mahasiswa tercatat 62,72 persen. Artinya, masih ada ruang besar untuk memperkuat pemahaman anak muda. Tapi literasi saja belum tentu cukup. Orang bisa paham konsep risiko, tapi tetap terbawa FOMO saat melihat suatu aset terus dibicarakan.
Dari sisi aturan, OJK sudah menerbitkan POJK Nomor 6 Tahun 2026 tentang perilaku penyampai informasi sektor jasa keuangan, termasuk financial influencer. Aturan ini menekankan informasi yang jelas, akurat, jujur, dan tidak menyesatkan. Langkah ini penting, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan kita. Yang menanggung untung dan rugi adalah kita sendiri.
Boleh Mendengarkan, Jangan Langsung Mengikuti
Financial influencer sebenarnya tidak selalu jadi masalah. Mereka bisa membuat topik keuangan yang rumit jadi lebih mudah dicerna anak muda. Yang perlu berubah adalah cara kita menempatkan mereka. Melihat jumlah pengikut itu gampang, tinggal buka akunnya. Memeriksa legalitas dan memahami risiko memang butuh usaha, tapi di situlah letak keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Jadi, sebelum menekan tombol buy, coba tanyakan ini ke diri sendiri:
“Aku memilih ini karena sudah paham alasannya, atau karena terlalu banyak orang yang bilang hal yang sama?”
