Konten dari Pengguna

Toshikoshi Soba, Hidangan Sarat Makna Perayaan Tahun Baru di Jepang

Nia Aulia Rahma

Nia Aulia Rahma

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang Mata Kuliah Kajian Gender dan Wanita Jepang, Universitas Airlangga

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Aulia Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Canva
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Canva

Perayaan tahun baru identik dengan upacara atau kegiatan yang bernuansa harapan dan doa, setiap negara di dunia pasti memiliki keunikan sendiri dalam merayakan tahun baru. Di Indonesia umumnya tahun baru dirayakan dengan pesta kembang api dan acara makan-makan bersama sanak saudara. Tak jauh beda dengan Jepang, mereka juga merayakan tahun baru dengan pesta kembang api dan perayaan lainnya. Salah satu tradisi masyarakat Jepang dalam merayakan tahun baru ialah dengan makan toshikoshi soba. Berbeda dengan hidangan soba pada umumnya, toshikoshi soba ini dipercaya memiliki makna yang mendalam.

Mulanya tradisi ini berkembang sejak zaman Edo dan menyebar ke seluruh Jepang yang kemungkinan dipengaruhi oleh praktik Buddha atau Shinto di mana menyantap makanan sederhana di akhir periode tertentu dianggap sebagai tindakan penyucian. Seiring waktu, tradisi ini menjadi bagian yang melekat dalam budaya Jepang hingga sekarang. Mie soba yang mudah putus menjadi landasan pemikiran orang Jepang bahwa memakan mie soba pada malam tahun baru bertujuan untuk membuang kesialan pada tahun sebelumnya supaya tidak berlanjut ke tahun berikutnya. Selain itu, ketahanan mie soba pada cuaca buruk melambangkan kesehatan yang baik sebagai harapan menyambut tahun baru dengan kondisi sehat. Bentuk mie soba yang panjang dan tipis juga bermakna harapan bagi orang yang memakannya bisa berumur panjang. Bahkan pengrajin emas zaman dahulu dikatakan menggunakan gumpalan bola tepung soba untuk mengumpulkan debu emas yang tercecer setelah membuat karyanya, hal tersebut menjadi alasan mie soba juga dianggap dapat menambah rezeki.

Sumber: Canva

Umumnya toshikoshi soba disantap saat malam 31 Desember bersamaan dengan perhitungan mundur pergantian tahun. Namun ada beberapa orang yang menyantap toshikoshi soba saat makan malam atau saat tanggal 1 Januari tergantung daerah dan lingkungan keluarganya. Sesuai maknanya untuk membuang kesialan, biasanya masyarakat Jepang menikmati toshikoshi soba bersamaan dengan dibunyikannya Joya no Kane (membunyikan lonceng kuil sebanyak 108 kali saat malam tahun baru), dan dianjurkan menghabiskan hidangan soba sebelum pergantian tahun. Dikatakan apabila toshikoshi soba tak habis dimakan ketika tahun berganti dianggap akan tertimpa sial.

Tahun baru sarat akan doa dan harapan agar tahun depan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Harapan akan umur panjang, banyak rezeki, bahkan membuang sial menjadi makna tradisi ini. Tak sekedar hidangan yang bisa disantap, toshikoshi soba melambangkan doa dan harapan bagi orang yang memakannya. Kepercayaan dan keyakinan masyarakat Jepang akan tradisi ini membantu mereka untuk merenungkan tahun yang telah berlalu dan menyambut tahun baru dengan harapan baru.