Ketika Buku Dicuri untuk Dibaca: Literasi dan Dilema dalam Maling Buku

Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nia Aulia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerpen Maling Buku karya Eko Darmoko mengangkat persoalan tentang kecintaan terhadap buku, dilema moral, dan nilai kemanusiaan. Melalui tokoh Badrus, seorang remaja yang gemar membaca tetapi memilih mencuri buku, penulis tidak hanya menampilkan konflik antara benar dan salah, tetapi juga mengajak pembaca memahami alasan di balik tindakan tersebut. Cerita ini menjadi menarik karena menghadirkan tokoh Cik Lilis yang merespons tindakan Badrus dengan empati, bukan sekadar hukuman.
Menurut René Wellek dan Austin Warren, karya sastra dipahami sebagai satu kesatuan yang unsur-unsurnya saling berkaitan di dalam teks. Melalui pendekatan ini, cerpen Maling Buku memperlihatkan bagaimana persoalan literasi, moral, dan kemanusiaan dibangun secara utuh dan saling berhubungan dalam teks.

Ironi Seorang Pencinta Buku
Keunikan cerpen ini langsung terlihat sejak kalimat pembuka. Badrus memperkenalkan dirinya bukan hanya sebagai pelajar yang bersekolah, mengaji, bermain, dan menonton sepak bola, tetapi juga sebagai pencuri buku.
"Selain sekolah, ngaji, main dan nonton bola, kesibukanku yang lain adalah mencuri buku."
Pernyataan tersebut langsung memperlihatkan tema utama cerita, yaitu pertentangan antara kecintaan terhadap membaca dan tindakan mencuri. Konflik itu semakin dipertegas ketika Badrus mengatakan,
"Membaca buku hasil curian adalah kenikmatan paling sempurna."
Bagi Badrus, membaca bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan yang memberikan kepuasan tersendiri. Akan tetapi, keinginan untuk membaca justru diwujudkan melalui tindakan mencuri buku, sehingga bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku.
Dua Tokoh dengan Cara Pandang yang Berbeda
Konflik dalam cerpen ini semakin kuat karena dibangun melalui dua tokoh yang memiliki cara pandang berbeda terhadap buku dan kesalahan. Badrus menjadi pusat cerita, sedangkan kehadiran Cik Lilis perlahan mengubah arah konflik yang dialaminya. Badrus digambarkan sebagai remaja yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dan gemar membaca berbagai jenis buku, mulai dari sastra hingga astronomi. Namun, kegemarannya itu tidak diimbangi dengan kesadaran bahwa mencuri tetap merupakan tindakan yang salah.
Sebaliknya, Cik Lilis hadir sebagai tokoh yang tenang dan penuh pertimbangan. Ketika para pegawai meminta agar Badrus segera ditangkap, ia justru berkata,
"Jangan! Biarkan saja. Kalau ia meninggalkan toko ini, kita pura-pura tidak tahu saja."
Keputusan tersebut bukan berarti Cik Lilis membenarkan pencurian. Ia justru penasaran dengan alasan seorang anak seusia Badrus mencuri buku-buku sastra yang menurutnya cukup berat untuk ukuran siswa SMP.
"Menurutku, ini pemandangan yang aneh. Kok ada seorang bocah mencuri buku yang lumayan berbobot untuk ukuran murid SMP?"
Cara pandang Cik Lilis semakin dipertegas melalui ucapan mendiang suaminya.
"Selama masih ada maling buku, maka negara ini akan baik-baik saja."
Kalimat tersebut menjadi ironi yang kuat dalam cerita. Bukan karena pencurian dianggap benar, melainkan karena Cik Lilis melihat bahwa kecintaan terhadap buku merupakan sesuatu yang patut dihargai. Sikapnya menunjukkan bahwa ia memilih memahami keadaan Badrus tanpa menghilangkan kesadaran bahwa tindakannya tetap keliru.
Konflik yang Tumbuh Perlahan hingga Mencapai Puncak
Cerita bergerak secara bertahap mengikuti keseharian Badrus. Berawal dari kebiasaannya bolos sekolah, menonton Piala Dunia, lalu mampir ke toko buku langganannya, konflik berkembang perlahan. Karena Badrus tidak pernah mendapat teguran, ia merasa tindakannya berjalan tanpa hambatan.
"Tiap kali mencuri buku di toko buku itu, aku selalu memperoleh kemudahan."
Ketegangan mulai meningkat ketika para pegawai mempertanyakan keputusan Cik Lilis yang terus membiarkan Badrus. Puncak konflik terjadi setelah putri Cik Lilis mengambil alih toko buku dan menghentikan kebiasaan tersebut.
"Aku sudah tahu semua kelakuanmu. Ada 27 buku yang kamu curi."
Peristiwa itu menjadi titik balik bagi Badrus. Namun, bagian paling emosional justru muncul ketika ia mengetahui bahwa Cik Lilis telah meninggal dunia.
"Ibuku berhati malaikat. Dia sengaja membiarkanmu mencuri buku."
Pengakuan tersebut membuat Badrus memahami bahwa selama ini ia bukan sekadar dibiarkan, melainkan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahannya sendiri. Penyesalan itu tampak ketika ia pulang sambil menangis mengenang sosok Cik Lilis.
Latar yang Menghidupkan Cerita
Hampir seluruh perjalanan Badrus berlangsung di ruang-ruang yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Ia berpindah dari sekolah, warung kopi, masjid, angkot, hingga toko buku yang kemudian menjadi pusat dari seluruh konflik dalam cerita.
Di toko buku itulah Badrus berulang kali mencuri, para pegawai menunjukkan kemarahannya, dan Cik Lilis mengambil keputusan yang berbeda dari orang lain. Oleh karena itu, toko buku tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya peristiwa, tetapi juga menjadi ruang tempat berkembangnya konflik antara Badrus dan Cik Lilis.
Selain latar tempat, penulis juga menghadirkan latar waktu melalui pertandingan Piala Dunia 2002 antara Brasil dan Inggris.
"Brasil mengalahkan Inggris dengan skor 2-1."
Kehadiran peristiwa tersebut membuat cerita terasa lebih nyata sekaligus memperlihatkan kebiasaan Badrus yang sering membolos sekolah demi menonton pertandingan.
Bahasa yang Sederhana dan Sudut Pandang yang Menguatkan Cerita
Bahasa yang digunakan Eko Darmoko terasa ringan dan dekat dengan percakapan sehari-hari. Kesederhanaan inilah yang membuat ironi dalam cerita justru terasa semakin kuat sehingga mudah dipahami pembaca.
Cerpen ini juga menggunakan sudut pandang orang pertama yang bergantian antara Badrus dan Cik Lilis. Pergantian sudut pandang tersebut membuat pembaca memahami perasaan kedua tokoh secara langsung. Pembaca tidak hanya mengetahui alasan Badrus mencuri, tetapi juga memahami pertimbangan Cik Lilis ketika memilih membiarkannya. Teknik ini membuat konflik terasa lebih seimbang karena pembaca melihat peristiwa dari dua sisi yang berbeda.
Melalui Maling Buku, Eko Darmoko menghadirkan cerita yang sederhana, tetapi menyimpan konflik moral yang kuat. Kisah Badrus memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap pengetahuan dapat tumbuh dalam situasi yang penuh keterbatasan, sementara Cik Lilis menunjukkan bahwa empati terkadang mampu memberi pelajaran yang lebih bermakna daripada hukuman. Karena itulah, cerpen ini tidak hanya menghadirkan ironi seorang pecinta buku, tetapi juga mengajak pembaca memahami sisi kemanusiaan di balik sebuah kesalahan.
Daftar Pustaka
Darmoko, E. (2006, 11 April). Maling Buku. Kompas.id
Wellek, R., & Warren, A. (2014). Teori kesusastraan. PT Gramedia Pustaka Utama.
