Ziarah: Ketika Kehilangan Membuat Manusia Mempertanyakan Arti Kehidupan

Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nia Aulia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang menjadi bagian terpenting dalam hidup? Kehilangan bukan sekadar tentang seseorang yang tidak lagi berada di sisi kita, melainkan juga tentang perubahan yang terjadi dalam diri setelah kepergiannya. Hal inilah yang menarik perhatian saya ketika membaca novel Ziarah karya Iwan Simatupang. Novel ini tidak hanya berbicara tentang kematian dan kesedihan, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan arti kehidupan, cinta, dan keberadaan manusia di tengah dunia yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Kehilangan yang Mengubah Kehidupan
Novel Ziarah mengisahkan seorang pelukis yang kehilangan istrinya dan mengalami perubahan besar dalam kehidupannya. Setelah kematian sang istri, ia kehilangan arah, meninggalkan dunia seni, dan menjalani kehidupan yang dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Ia bahkan terus berharap dapat bertemu kembali dengan istrinya di persimpangan jalan. Perjalanan hidupnya kemudian membawanya bekerja di pemakaman, tempat yang berkaitan erat dengan kehilangan yang belum mampu ia terima.
Hal yang menarik bagi saya adalah cara Iwan Simatupang menggambarkan kesedihan tokoh tersebut. Ia tidak menghadirkan kesedihan melalui rangkaian peristiwa yang sepenuhnya realistis, tetapi melalui tindakan-tindakan yang terkadang terasa ganjil dan sulit dipahami. Tokoh pelukis seolah hidup di antara kenyataan bahwa istrinya telah meninggal dan harapan bahwa perempuan itu masih mungkin kembali.
Bagi saya, sikap tokoh tersebut memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi kehilangan. Ada orang yang mampu menerima kenyataan dengan cepat, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu panjang untuk berdamai dengan keadaan. Kita tidak selalu bisa memahami kesedihan seseorang hanya dari apa yang terlihat di luar. Sesuatu yang dianggap aneh oleh orang lain mungkin merupakan cara seseorang bertahan ketika kehidupannya terasa tidak lagi sama.
Ketika Masa Lalu Tidak Bisa Dikembalikan
Salah satu kutipan yang menarik perhatian saya dalam novel ini berbunyi:
“Esok akan menjadi kini. Kini yang menjadi kemarin tak dihiraukan, karena segala yang lampau hanya gumpalan hitam.”
Kutipan tersebut mengingatkan saya bahwa waktu akan terus bergerak, terlepas dari apakah manusia sudah siap menerima perubahan atau belum. Hari esok pada akhirnya akan menjadi hari ini, sedangkan hari ini akan berubah menjadi masa lalu. Namun, bagi seseorang yang sedang berduka, waktu yang terus berjalan tidak selalu berarti bahwa hatinya ikut bergerak maju.
Menurut saya, kutipan tersebut memiliki makna yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Manusia sering kali terjebak dalam kenangan, penyesalan, atau keinginan untuk mengulang peristiwa yang sudah berlalu. Kita mungkin pernah berharap dapat memperbaiki kesalahan, mempertahankan seseorang, atau kembali ke masa ketika semuanya terasa lebih baik. Sayangnya, tidak semua hal bisa diulang sesuai keinginan.
Dari sini, saya memahami bahwa menerima kehilangan bukan berarti melupakan seseorang. Menerima berarti belajar menjalani kehidupan meskipun ada bagian dari diri kita yang tetap menyimpan kenangan tentangnya.
Ziarah Bukan Hanya Perjalanan Menuju Makam
Judul Ziarah menurut saya memiliki makna yang lebih luas daripada kunjungan ke tempat pemakaman. Ziarah dapat dipahami sebagai perjalanan batin seseorang untuk berhadapan dengan kehilangan, kenangan, dan pertanyaan tentang kehidupannya sendiri. Pemakaman dalam novel ini menjadi ruang yang mempertemukan tokoh dengan kenyataan tentang kematian, tetapi perjalanan yang sebenarnya berlangsung di dalam dirinya.
Keputusan tokoh pelukis untuk bekerja di lingkungan pemakaman memperlihatkan bahwa kehidupannya terus berkaitan dengan kematian istrinya. Menurut saya, keadaan ini menarik karena tokoh tersebut tetap menjalani kehidupan sehari-hari, meskipun pengalaman kehilangan masih menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Saya melihat bahwa ziarah dalam novel ini juga dapat dimaknai sebagai upaya manusia memahami dirinya sendiri. Terkadang, kita baru benar-benar mempertanyakan kehidupan ketika menghadapi peristiwa yang mengguncang. Kehilangan, kegagalan, dan perubahan dapat membuat kita memikirkan kembali hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa. Kita mulai bertanya tentang apa yang sebenarnya penting, apa yang ingin dipertahankan, dan bagaimana seharusnya melanjutkan hidup.
Dunia yang Terasa Absurd dan Manusia yang Mencari Makna
Keistimewaan Ziarah juga terlihat dari cara Iwan Simatupang menyusun ceritanya. Peristiwa-peristiwa dalam novel ini tidak selalu bergerak secara runtut. Beberapa kejadian terasa tidak masuk akal jika diukur menggunakan logika kehidupan sehari-hari. Bahkan, perjalanan tokoh pelukis dari seorang seniman terkenal hingga menjadi pekerja di pemakaman memperlihatkan perubahan nasib yang tidak biasa.
Pada awalnya, gaya bercerita seperti ini mungkin membuat pembaca kebingungan. Saya pun melihat bahwa novel ini tidak bisa dinikmati hanya dengan mengikuti urutan peristiwa dan menunggu akhir cerita. Pembaca perlu memperhatikan gagasan di balik tindakan tokoh serta makna yang muncul dari kejadian-kejadian yang terasa janggal.
Menurut saya, keabsurdan dalam novel ini justru menjadi cara pengarang memperlihatkan bahwa kehidupan manusia tidak selalu berjalan secara teratur. Seseorang dapat memiliki kehidupan yang baik, kemudian kehilangan hal yang paling dicintainya. Sesuatu yang dianggap membahagiakan oleh satu orang belum tentu mendatangkan kebahagiaan bagi orang lain. Bahkan, keputusan yang terlihat tidak masuk akal belum tentu dapat dipahami tanpa mengetahui pengalaman yang melatarbelakanginya.
Melalui cara tersebut, Iwan Simatupang seolah mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap kehidupan orang lain. Kita sering menganggap bahwa hidup harus berjalan sesuai dengan aturan dan harapan masyarakat. Padahal, pengalaman manusia jauh lebih rumit daripada penilaian yang terlihat dari luar.
Cinta, Kematian, dan Keberanian untuk Melanjutkan Hidup
Pengalaman tokoh pelukis membuat saya merenungkan hubungan antara keterikatan emosional dan kemampuan seseorang untuk menerima kenyataan. Kehilangan orang terdekat tidak serta-merta membuat seseorang mampu melanjutkan hidup seperti sebelumnya. Ada proses penyesuaian yang harus dilalui sebelum seseorang dapat menerima perubahan dalam kehidupannya.
Dari pengalaman tokoh pelukis, saya belajar bahwa cinta tidak selalu membuat manusia menjadi lebih kuat dalam waktu singkat. Ada kalanya cinta justru membuat kehilangan terasa begitu menyakitkan. Meski demikian, kesedihan tersebut tidak harus menjadi satu-satunya hal yang menentukan bagaimana seseorang menjalani sisa hidupnya.
Novel ini tidak memberikan rumus tentang cara terbaik untuk mengatasi kehilangan. Menurut saya, justru di situlah letak kejujurannya. Setiap manusia memiliki pengalaman dan proses penerimaan yang berbeda. Kita tidak dapat memaksa seseorang untuk segera pulih, tetapi kita dapat belajar memahami bahwa kesedihan membutuhkan ruang dan waktu.
Penutup: Belajar Memahami Kehidupan dari Sebuah Kehilangan
Setelah membaca Ziarah karya Iwan Simatupang, saya melihat novel ini sebagai karya yang mengajak pembaca merenungkan kehidupan melalui pengalaman kehilangan. Alurnya yang tidak konvensional dan peristiwa-peristiwanya yang terkadang terasa absurd membuka kesempatan bagi pembaca untuk menafsirkan cerita secara lebih mendalam. Novel ini memperlihatkan bahwa pengalaman manusia tidak selalu dapat dipahami melalui logika sederhana, sehingga kita perlu mencoba melihat suatu peristiwa dari sudut pandang orang yang mengalaminya.
Pada akhirnya, Ziarah membuat saya menyadari bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita dapat kehilangan seseorang, kehilangan arah, bahkan kehilangan pemahaman tentang diri sendiri. Namun, semua itu merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak dapat dihindari sepenuhnya.
Bagi saya, ziarah yang sesungguhnya bukan hanya perjalanan menuju makam seseorang, melainkan juga perjalanan untuk memahami kehilangan, menerima kenyataan, dan menemukan kembali arti kehidupan. Sebab, terkadang manusia baru mulai mengenali hal-hal yang benar-benar berharga ketika ia dihadapkan pada kemungkinan untuk kehilangannya.
Daftar Pustaka
Simatupang, Iwan. 1969. Ziarah. Jakarta: Djambatan.
