Konten dari Pengguna

Ziarah: Ketika Kehilangan Membuat Manusia Mempertanyakan Arti Kehidupan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Aulia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Ziarah karya Iwan Simatupang merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang menarik untuk dibaca dan direnungkan. Novel ini memperoleh penghargaan SEA Write Award pada tahun 1977, sebuah pengakuan yang menambah daya tariknya dalam dunia sastra. Di balik pencapaian tersebut, Ziarah menghadirkan kisah tentang kehilangan, kematian, dan pencarian makna kehidupan yang mengajak pembaca melihat manusia dari sudut pandang yang lebih mendalam.

edit by canva_nia
zoom-in-whitePerbesar
edit by canva_nia

Kehilangan dan Kenangan yang Tertinggal

Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang menjadi bagian terpenting dalam hidup? Kehilangan bukan hanya tentang seseorang yang tidak lagi berada di sisi kita, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar menjalani kehidupan setelah kepergiannya. Persoalan inilah yang menarik perhatian saya ketika membaca novel Ziarah karya Iwan Simatupang. Novel ini mengajak pembaca merenungkan kehilangan, kematian, dan pencarian makna kehidupan melalui perjalanan tokoh utamanya.

Dalam novel ini, Iwan Simatupang menuliskan,

“Esok akan menjadi kini. Kini yang menjadi kemarin tak dihiraukan, karena segala yang lampau hanya gumpalan hitam.”

Kutipan tersebut membuat saya berpikir tentang bagaimana manusia menjalani waktu setelah mengalami kehilangan. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi kenangannya terkadang tetap memengaruhi cara seseorang menjalani hari-hari berikutnya. Bagi saya, kalimat tersebut menggambarkan usaha manusia untuk terus melangkah meskipun masih menyimpan kesedihan.

Perjalanan Menghadapi Kehilangan

Novel Ziarah menceritakan seorang pelukis yang kehilangan istrinya karena kematian. Kepergian tersebut membuat kehidupannya berubah dan membawanya pada pengalaman yang tidak biasa. Ia kemudian bekerja sebagai pengapur tembok pekuburan, tempat istrinya dimakamkan. Menurut saya, keadaan ini menarik karena tokoh utama harus menjalani kehidupan di tempat yang terus mengingatkannya pada kehilangan. Ia seolah-olah berada di antara kenangan masa lalu dan kenyataan yang harus dihadapi.

Saya melihat tokoh pelukis tersebut sebagai gambaran bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi kehilangan. Ada orang yang mampu menerima kenyataan secara perlahan, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu panjang untuk berdamai dengan keadaan. Bagi saya, menerima kehilangan bukan berarti harus melupakan seseorang yang telah pergi. Kita tetap bisa menyimpan kenangan tanpa harus berhenti menjalani kehidupan.

Ziarah sebagai Perjalanan Batin

Judul Ziarah memiliki makna yang menarik untuk direnungkan. Ziarah biasanya dikaitkan dengan kunjungan ke makam, tetapi bagi saya, maknanya dapat diperluas menjadi perjalanan batin untuk memahami kehilangan dan mengenali diri sendiri. Tokoh utama tidak hanya berhadapan dengan kematian istrinya, tetapi juga dengan pertanyaan tentang bagaimana ia harus melanjutkan hidup. Hal ini mengingatkan saya bahwa manusia terkadang baru menyadari arti kehadiran seseorang setelah kehilangannya.

Selain ceritanya, gaya penulisan Iwan Simatupang menjadi daya tarik sekaligus tantangan. Peristiwa dan perilaku tokohnya terkadang terasa ganjil sehingga pembaca perlu berpikir lebih jauh untuk memahami maknanya. Menurut saya, hal tersebut menjadi kelebihan karena novel ini memberikan ruang bagi pembaca untuk menafsirkan cerita berdasarkan pemahamannya sendiri. Namun, gaya penceritaan yang tidak biasa mungkin membuat sebagian pembaca kesulitan mengikuti alurnya.

Berdamai dengan Kenyataan

Setelah membaca Ziarah, saya melihat bahwa novel ini bukan sekadar cerita tentang kematian dan kehilangan, tetapi juga tentang pergulatan manusia dalam menjalani kehidupan. Gaya penceritaan Iwan Simatupang yang tidak biasa membuat pembaca perlu menafsirkan sendiri berbagai peristiwa yang terjadi.

Bagi saya, kekuatan novel ini terletak pada pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya kepada pembaca. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi manusia tetap harus menentukan bagaimana ia melanjutkan langkahnya. Pada akhirnya, Ziarah mengajak saya memahami bahwa perjalanan mengenali diri sendiri sering kali dimulai ketika kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat diubah.