Berbeda Bukan Berarti Tidak Cocok: Memahami Keberagaman di Dunia Kerja

Recruiter & working mom with a Diploma in Accounting from STAN X Bachelor Degree in Psychology from UPH. Interested in working motherhood and employee mental health
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nia Lusniati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah bertemu rekan kerja yang dianggap kurang percaya diri hanya karena pendiam? Atau seseorang yang dinilai sulit bekerja sama karena memiliki pendapat berbeda?
Di dunia kerja, kita sering menilai orang lain berdasarkan standar yang kita anggap benar. Padahal, apakah berbeda selalu berarti tidak cocok?
Dalam psikologi multikultural, perilaku seseorang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, pengalaman, dan lingkungan sosial. Perspektif ini penting dalam Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), terutama dalam rekrutmen, kepemimpinan, kerja sama tim, dan penilaian kinerja.
Ketika Bias Memengaruhi Penilaian
Tanpa disadari, kita cenderung merasa lebih nyaman dengan orang yang memiliki cara berpikir atau berperilaku serupa dengan kita.
Seorang atasan mungkin lebih menyukai karyawan yang komunikatif. Akibatnya, karyawan yang pendiam berpotensi kurang mendapatkan kesempatan, meskipun kualitas pekerjaannya sama baiknya.
Inilah mengapa penilaian karyawan perlu didasarkan pada kompetensi dan perilaku kerja yang relevan, bukan sekadar kesan pribadi.
Adil Tidak Selalu Berarti Memperlakukan Semua Orang dengan Cara yang Sama
Setiap karyawan memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda. Ada yang nyaman menyampaikan ide dalam rapat besar, ada pula yang lebih mampu mengembangkan gagasan melalui diskusi kecil atau komunikasi tertulis.
Pemimpin yang memahami perbedaan ini dapat memberikan ruang kontribusi yang beragam tanpa mengurangi standar kinerja. Dalam PIO, hal tersebut berkaitan dengan organizational justice, yaitu keadilan dalam proses, keputusan, dan perlakuan terhadap karyawan.
Keberagaman Membutuhkan Kepemimpinan yang Inklusif
Keberagaman tidak otomatis membuat tim lebih efektif. Perbedaan perspektif dapat menghasilkan kreativitas, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik jika tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, pemimpin perlu membangun lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan menyampaikan pendapat, mempertanyakan keputusan, dan memberikan masukan tanpa takut direndahkan.
Konsep ini berkaitan dengan psychological safety yang dikemukakan Edmondson (1999). Kepemimpinan inklusif bukan berarti menyetujui semua pendapat, melainkan memastikan setiap orang didengarkan dan dinilai secara objektif.
Tidak Harus Sama untuk Bisa Bekerja Sama
Perusahaan tentu membutuhkan aturan, standar, dan budaya kerja. Namun, profesionalisme tidak harus berarti semua karyawan memiliki kepribadian atau cara berpikir yang seragam.
Seseorang dapat berbeda dalam cara berkomunikasi, tetapi tetap bertanggung jawab, kompeten, dan mampu bekerja sama. Mungkin, sebelum menilai seseorang tidak cocok dengan budaya perusahaan, kita perlu bertanya:
"Apakah ia benar-benar tidak memenuhi tuntutan pekerjaan, atau hanya tidak sesuai dengan ekspektasi pribadi kita?"
Sebab, lingkungan kerja yang sehat bukan tempat semua orang harus menjadi sama, melainkan tempat setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
