Budaya Kerja yang Kuat atau Karyawan yang Takut Berbeda?

Recruiter & working mom with a Diploma in Accounting from STAN X Bachelor Degree in Psychology from UPH. Interested in working motherhood and employee mental health
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nia Lusniati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Di sini memang sudah biasa seperti itu.”
“Ikuti saja cara kerja yang sudah ada.”
“Tidak perlu terlalu banyak bertanya.”
Kalimat seperti ini mungkin pernah kita dengar di lingkungan kerja. Terkadang, maksudnya sederhana yaitu untuk menjaga konsistensi, kedisiplinan, dan memastikan pekerjaan berjalan sesuai aturan. Namun, bagaimana jika kebiasaan tersebut membuat karyawan enggan menyampaikan pendapat atau menawarkan cara kerja yang berbeda?
Apakah itu menunjukkan budaya organisasi yang kuat, atau justru lingkungan yang membatasi keberanian untuk berpikir?
Ketika Budaya Organisasi Menjadi Kebiasaan yang Sulit Dipertanyakan
Setiap perusahaan memiliki nilai, aturan, dan kebiasaan yang membentuk cara karyawan bekerja. Dalam Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), budaya organisasi membantu menciptakan identitas bersama, mengarahkan perilaku, dan menjaga konsistensi dalam mencapai tujuan perusahaan.
Namun, budaya yang kuat tidak selalu berarti budaya yang sehat.
Ketika kepatuhan lebih dihargai daripada pemikiran kritis, karyawan berpotensi terbiasa mengikuti keputusan tanpa mempertanyakan efektivitasnya. Akibatnya, rutinitas berjalan dengan baik, tetapi ruang untuk perbaikan dan inovasi menjadi terbatas.
Mengapa Karyawan Memilih Diam?
Dalam psikologi lintas budaya, Hofstede memperkenalkan konsep power distance, yaitu sejauh mana ketimpangan kekuasaan dalam suatu kelompok atau organisasi dianggap dapat diterima.
Pada lingkungan dengan jarak kekuasaan yang tinggi, hubungan atasan dan bawahan cenderung lebih hierarkis. Kondisi ini dapat memengaruhi keberanian karyawan untuk mempertanyakan keputusan.
Bukan berarti karyawan tidak memiliki ide atau kemampuan berpikir kritis. Bisa jadi, mereka mempertimbangkan risiko sosial dari menyampaikan pendapat yang berbeda. Terlebih jika pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa ketidaksetujuan sering dianggap sebagai bentuk perlawanan.
Dalam situasi seperti ini, diam belum tentu berarti setuju.
Kepatuhan dan Inisiatif Seharusnya Bisa Berjalan Bersama
Perusahaan tentu membutuhkan aturan dan standar kerja. Tidak setiap prosedur dapat diubah hanya karena seseorang memiliki gagasan baru. Namun, kepatuhan terhadap aturan tidak seharusnya menghilangkan kesempatan untuk mengevaluasi apakah cara kerja yang digunakan masih relevan.
Pemimpin memiliki peran penting dalam membangun keseimbangan tersebut.
Karyawan tetap perlu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, sementara pemimpin dapat memberikan ruang untuk bertanya, menyampaikan masukan, dan mendiskusikan alternatif penyelesaian masalah. Perbedaan pendapat tidak harus selalu berakhir dengan persetujuan. Yang lebih penting adalah bagaimana proses diskusi berlangsung secara profesional.
Budaya yang Sehat Memberi Ruang untuk Berkembang
Dalam perspektif psikologi multikultural, perbedaan cara berpikir dan memandang situasi merupakan bagian dari dinamika manusia dalam kelompok. Budaya organisasi yang sehat tidak harus membuat seluruh anggotanya memiliki pandangan seragam.
Sebaliknya, organisasi perlu memiliki nilai yang cukup kuat untuk menjaga arah bersama, sekaligus cukup terbuka untuk menerima perubahan. Sebab, tantangan perusahaan terus berkembang. Cara kerja yang efektif beberapa tahun lalu belum tentu menjadi pendekatan terbaik untuk menghadapi kebutuhan hari ini.
Mungkin, ukuran budaya kerja yang kuat bukanlah seberapa banyak karyawan yang selalu menyetujui keputusan, tetapi seberapa mampu organisasi menerima perbedaan tanpa kehilangan tujuan bersama.
Karena pada akhirnya, perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menjalankan rutinitas, tetapi juga orang yang berani membantu organisasi menjadi lebih baik.
Referensi:
• Hofstede, G. (2001). Culture's Consequences: Comparing Values, Behaviors, Institutions and Organizations Across Nations. Sage Publications.
• Schein, E. H. (2010). Organizational Culture and Leadership (4th ed.). Jossey-Bass.
• Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383.
