Konten dari Pengguna

"Cuma Bercanda, Kok Baper?" Ketika Komentar Sepele Berdampak pada Orang Lain

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Lusniati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Perempuan biasanya terlalu pakai perasaan kalau jadi pemimpin.”“Wah, ternyata kamu pintar juga, ya!”

Pernah mendengar kalimat seperti ini di tempat kerja?

Sebagian mungkin disampaikan sebagai candaan, bahkan tanpa maksud merendahkan. Namun, komentar yang dianggap biasa oleh seseorang belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain. Dalam psikologi multikultural, fenomena ini dapat berkaitan dengan konsep microaggression atau mikroagresi.

Ketika Niat Baik Tidak Selalu Berarti Dampaknya Baik

Sue dan kolega (2007) menjelaskan mikroagresi sebagai komunikasi atau perilaku sehari-hari yang dapat menyampaikan pesan merendahkan atau meniadakan pengalaman seseorang berdasarkan identitas kelompoknya, baik disengaja maupun tidak. Misalnya, seorang karyawan perempuan yang selalu dianggap lebih emosional dibandingkan rekan laki-lakinya ketika menyampaikan ketidaksetujuan. Atau karyawan dari daerah tertentu yang kompetensinya diragukan hanya karena logat bicaranya berbeda.

Dalam konteks ini, masalahnya bukan semata-mata pilihan kata, melainkan asumsi tentang kelompok tertentu yang memengaruhi cara seseorang diperlakukan.

Namun, tidak setiap komentar yang menyinggung otomatis merupakan mikroagresi. Isi pesan, konteks, pola kejadian, serta hubungan antarindividu tetap perlu diperhatikan.

Mengapa Komentar Kecil Bisa Berdampak Besar?

Satu komentar mungkin terasa sepele. Namun, bagaimana jika seseorang harus menghadapi komentar serupa berulang kali?. Pengalaman tersebut berpotensi menimbulkan tekanan emosional, keraguan terhadap diri sendiri, hingga perasaan tidak diterima dalam lingkungan sosialnya.

Dalam dunia kerja, kondisi ini juga relevan dengan rasa aman karyawan untuk menyampaikan pendapat dan membangun hubungan profesional.

Bayangkan seorang karyawan yang berulang kali dianggap kurang mampu karena latar belakangnya. Lama-kelamaan, ia mungkin menjadi lebih berhati-hati untuk berbicara atau menunjukkan kemampuannya. Bukan selalu karena ia tidak kompeten, tetapi mungkin karena lingkungan membuatnya merasa terus dinilai berdasarkan identitasnya.

Komunikasi yang sehat dimulai dari saling memahami (dok: pribadi)

Profesionalisme Juga Tentang Cara Memperlakukan Orang Lain

Lingkungan kerja yang sehat bukan berarti setiap orang harus menjaga ucapannya sampai takut berbicara. Perbedaan pendapat, kritik, bahkan humor tetap memiliki tempat dalam hubungan profesional.

Namun, kita perlu belajar membedakan candaan yang membangun kedekatan dengan komentar yang berulang kali menjadikan identitas seseorang sebagai bahan penilaian.

Ketika seseorang menyampaikan keberatan, respons yang lebih baik bukan langsung mengatakan bahwa ia terlalu sensitif, melainkan mencoba memahami apa yang membuatnya merasa demikian.

Sebab, tidak semua hal yang kita anggap sepele juga terasa sepele bagi orang lain.

Dan mungkin, kedewasaan dalam bekerja bukan hanya terlihat dari kemampuan menerima kritik, tetapi juga dari kesediaan memperbaiki cara kita memperlakukan orang lain.

Referensi: Sue, D. W., et al. (2007). Racial microaggressions in everyday life: Implications for clinical practice. American Psychologist, 62(4), 271–286.