Menemui Psikolog

Mahasiswi S1 Psikologi Universitas Negeri Semarang
Tulisan dari Niamah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sore ini saya bangun sekitar pukul setengah empat. Saya menengok jendela memastikan cuaca di luar. Seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kecuali, perasaan saya. Awalnya, saya merasa antusias karena memiliki jadwal konseling dengan psikolog. Undangan Google Meet tertera pukul 4-5 pm.
Setelah berusaha masuk-keluar link meet yang disediakan admin, ternyata tidak ada respons apapun. Bahkan sampai pukul 4 tidak ada respons. Saya kira, admin lupa menyetujui saya untuk bergabung ke ruang meet.
Saya kembali membuka email. Melihat angka 23 pada badan pesan. Sial. Ternyata konseling dijadwalkan pada 23 Juni mendatang. Saya sedikit kecewa sekaligus menertawai kebodohan sendiri. Bahkan sebelum sesi konseling dimulai saya sudah menyiapkan catatan untuk memudahkan menjelaskan persoalan yang sedang saya alami.
Saya khawatir. Tanpa catatan itu, rencana persoalan yang akan saya bawa tidak akan terselesaikan atau setidaknya menemui akar persoalan. Sehingga saya betul-betul memastikan runtutan tiap kejadian yang membelenggu akhir-akhir ini.
Jika ditanyai alasan menemui psikolog sebenarnya sama. Saya butuh orang yang mau mendengar se-tidak jelas apapun persoalan yang sedang saya hadapi. Saya paham rasanya tidak memiliki kepercayaan pada orang, saya paham rasanya dihakimi, saya paham rasanya diabaikan, dan kesemuanya disimpulkan menjadi satu: rasa tidak terhubung satu sama lain.
Namun bukan berarti saya 100% tidak percaya. Terkadang saya membuka diri dengan beberapa teman pada kasus tertentu yang saya kira masih bisa dijangkau. Saya rasa ada banyak sekali pertimbangan untuk terbuka kepada orang lain dan ini cukup diamini beberapa orang.
Pertama, ingin rasanya bercerita pada keluarga. Sebagai lingkungan paling dekat, semestinya antar anggota keluarga bisa berbagi kisah dan kasih satu sama lain. Namun, dunia tidak berdiri secara ideal. Ada kondisi-kondisi di mana fungsi keluarga semacam itu tidak berjalan. Dan saya mengakui itu.
Kedua, ingin rasanya bercerita pada teman. Baru-baru ini seseorang mengirimi saya sebuah pesan, “menceritakan masalah kepada teman itu seperti memberi segenggam pasir”. Yang kurang lebihnya dimaknai sama saja memberi masalah kepada teman yang dijadikan tempat cerita. Bahkan, bisa jadi orang yang mau dijadikan tempat cerita sebenarnya sedang menggenggam masalahnya sendiri. Kita membuat asumsi: kehadiran kita, hanya menjadi beban ganda untuknya.
Saya sebenarnya tidak terlalu setuju. Itu bisa tepat. Bisa juga tidak. Saya yakin setiap manusia pasti memiliki masalah. Siapapun. Dari apa yang saya alami, ketika ada seseorang datang dan bercerita perihal masalahnya, saya mengambil jeda terlebih dahulu. Sebelum berkata siap menjadi pendengar, saya mesti sadar akan kondisi sendiri.
Apakah saat itu saya masih memiliki kesadaran yang baik untuk mendengar dan merespons. Atau saya sedang kewalahan dengan masalah sendiri. Jika memang dalam kondisi yang tidak baik, saya mencoba asertif: memberi alasan yang sekiranya bisa diterima atau menjadwalkan percakapan di lain hari.
Kepada siapapun, saya harap bisa berlaku demikian. Memiliki keinginan untuk membantu orang lain dengan menjadi pendengar, tentu itu baik. Tapi, kalau diri sendiri senyatanya dalam kondisi tidak baik, bisa lo “tidak meng-iya-kan” permintaan orang lain.
Lalu, ketika beralih peran menjadi seseorang yang butuh cerita, saya juga coba memastikan apakah orang yang saya temui bersedia. Biasanya tanya dulu: ada waktu luang tidak? Jika dia bersedia syukur, jika tidak juga tidak apa-apa. Hargai setiap keputusan orang.
Ini berlaku juga apabila ada teman dekat yang memilih bercerita kepada orang lain atau ke profesional dan tidak menceritakan masalahnya kepada kita, ya tidak apa-apa. Sekali lagi, hargai keputusannya dan tetap dukung agar masalahnya segera tertangani.
Ketiga, menemui psikolog. Dengan berbagai pertimbangan, saya pikir psikolog adalah orang yang tepat. Mereka memiliki kode etik yang menjamin privasi klien. Sehingga kita tidak khawatir identitas dan persoalan kita disebar di ruang publik. Tentu ini juga tidak mudah. Tidak semua orang memiliki segenap keberanian apalagi bertemu dengan orang baru. Tapi, ingatlah: kita melakukan ini untuk diri kita sendiri. Kita ingin lekas kembali berfungsi, melanjutkan kehidupan. Kepada siapapun yang sulit percaya, tidak ada salahnya untuk mencoba!
Oh ya, satu lagi, menutup catatan ini, saya kutip lirik “Pegang Tanganku” milik Nosstress
Indah itu tak selalu ada
Senang itu sementara
Jika senang jangan terlalu
Jika sedih jangan terlalu
Sekaran, 8 Juni 2022
